Memasuki awal tahun 2024, ritme kehidupanku bergerak masuk ke sebuah fase yang paling melelahkan secara fisik sekaligus paling menentukan bagi arah masa depan kehidupanku kelak. Statusku kini telah resmi berada di penghujung masa SMA sebuah periode krusial di mana seluruh ekosistem Madrasah Aliyah Negeri tempatku sekolah berubah menjadi sebuah inkubator yang dipenuhi oleh ambisi, kecemasan, dan persiapan masa depan dari ratusan murid kelas dua belas.
Pihak sekolah menerapkan kebijakan akademik yang sangat padat dengan mengadakan program 'Kelas Tambahan' wajib yang dilaksanakan setiap hari setelah jam pelajaran reguler selesai. Ruang-ruang kelas di lantai dua berubah menjadi arena diskusi yang intens, di mana para guru mata pelajaran terus memborbardir otak kami dengan ribuan variasi soal latihan UTBK-SNBT, membahas strategi penembusan skor tinggi pada mata ujian skolastik, literasi bahasa, dan penalaran matematika. Semua murid sibuk memperbincangkan koordinat kampus impian mereka, membandingkan persentase keketatan jurusan antara Universitas Indonesia, Universitas Padjadjaran, atau Institut Teknologi Bandung, seolah-olah dunia luar adalah sebuah peta petualangan besar yang siap mereka taklukkan dengan penuh percaya diri.
Namun, di tengah-tengah atmosfer optimisme akademik yang membubung tinggi di dalam ruang kelas unggulan itu, diriku justru duduk terkurung di dalam sebuah labirin ketakutan internal yang teramat sangat pekat dan melumpuhkan logika berpikirku.
Fokus belajarku sering kali buyar, hancur berkeping-keping di tengah jalan karena jepitan masalah domestik yang tidak pernah benar-benar selesai di bawah atap kontrakan. Ada momen-momen di mana aku sedang duduk memegangi pulpen di depan lembar kertas simulasi ujian, namun isi kepalaku tidak sedang menghitung rumus peluang matematika; pikiranku melayang melintasi jalan raya, dipenuhi oleh perhitungan logistik keuangan rumah tangga yang sedang sekarat. Apakah minggu depan uang jualan Mamah di kantin SESKO AD akan cukup untuk melunasi cicilan utang sewa kontrakan yang sudah menunggak dua bulan? Bagaimana dengan biaya kiriman pondok pesantren Wildan yang harus ditransfer minggu ini? Jika aku memaksakan diri untuk mendaftar kuliah, dari mana kami bisa mendapatkan lembaran uang jutaan rupiah untuk membayar uang pangkal semester pertama?
Rentetan pertanyaan finansial yang sangat riil itu terus-menerus memukuli dinding kesadaranku setiap harinya, memicu munculnya sebuah penyakit sindrom minder (inferiority complex) yang sangat akut di dalam hatiku. Aku sering kali menatap ke arah teman-teman sekelasnya dengan pandangan mata yang dipenuhi oleh rasa iri yang mendalam. Aku melihat mereka bisa fokus belajar dengan tenang tanpa perlu memikirkan urusan isi perut esok hari, didukung penuh oleh stabilitas ekonomi dan keharmonisan emosional orang tua mereka yang fungsional di rumah.