Setelah melewati fase pergolakan batin yang panjang di ruang BK bersama Bu Nurul, aku akhirnya memantapkan pilihan koordinat masa depannya dengan tingkat presisi yang sangat matang. Aku memilih untuk mendaftarkan diri pada program studi Sains Informasi Geografi (SIG) / Geografi di salah satu Universitas Negeri di jantung kota Bandung.
Kampus itu bukan sekadar sebuah institusi pendidikan tinggi biasa di mataku. Ia adalah sebuah simbol dari keagungan akademik, sebuah kompleks bangunan bersejarah yang arsitekturnya masih mempertahankan struktur estetika peninggalan kolonial Belanda yang megah, anggun, dan dikelilingi oleh jajaran pohon-pohon besar yang rindang, menciptakan atmosfer belajar yang teramat sangat kuat dan magis. Kampus tua itu memiliki reputasi internasional yang luar biasa, dan yang paling penting bagi kalkulasi rasionalku ia memiliki jaringan alokasi beasiswa penuh bagi mahasiswa prasejahtera yang sangat luas dan berkomitmen tinggi.
Setiap kali aku memiliki waktu luang di sore hari setelah kelas tambahan selesai, aku suka melangkan kaki berjalan sendirian menuju area luar kampus tersebut yang lokasinya bisa dijangkau menggunakan angkot sekali jalan dari sekolah. Aku berdiri mematung di trotoar seberang jalan, menatap menembus jeruji gerbang besi hitamnya yang megah, memandangi koridor-koridor tua berbatu yang dilewati oleh lalu lalang mahasiswa yang mengenakan jas almamater dengan ekspresi wajah yang memancarkan kecerdasan dan masa depan yang jelas.