Bandung, Balada, dan Bait yang Pecah

Rika Ismayanti
Chapter #23

BAB 22: Pengumuman Ramadhan dan Tangisan Bangga

Waktu terus merambat maju menembus sisa-sisa awal tahun, membawa seluruh ekosistem kehidupan kami masuk ke dalam bulan Maret tahun 2024. Dan sesuai dengan siklus kalender hijriah, bulan Maret tahun itu datang berbarengan dengan tibanya bulan suci Ramadhan sebuah bulan penuh berkah yang suasananya selalu berhasil membawa seberkas ketenangan spiritual yang sejuk ke dalam ruang kontrakan kecil kami, meskipun di saat yang sama ketegangan akademik menjelang pengumuman kelulusan jalur SNBP sudah berada di tingkat puncaknya yang paling kritis.

Hari penentuan itu akhirnya tiba pada sebuah sore di pertengahan bulan Ramadhan, tepat beberapa jam sebelum waktu kumandang azan magrib berbuka puasa menggema di langit kota Bandung. Pihak kementerian pendidikan menjadwalkan bahwa situs web resmi pengumuman hasil seleksi SNBP akan dibuka secara serentak pada pukul tiga sore tepat.

Aku duduk bersila di atas lantai ubin ruang tamu kontrakan kami yang sempit, dengan sebuah laptop tua pinjaman dari fasilitas inventaris sekolah yang diletakkan di atas pangkuannya. Kedua telapak tanganku terasa sangat dingin layaknya es, dipenuhi oleh aliran keringat dingin yang keluar secara konstan akibat rasa cemas yang teramat sangat ekstrem melumpuhkan kerja sistem sarafku. Jantungku berdegup dengan irama yang sangat cepat, keras, dan bergemuruh di dalam rongga dada hingga memicu rasa pening yang hebat di kepala; rasanya setiap detik yang berjalan menuju pukul tiga sore adalah sebuah siksaan mental yang mempersempit pasokan oksigen di paru-paruku.

Di layar monitor laptop tua itu, halaman situs web resmi pengumuman SNBP sudah terbuka, menampilkan kolom kosong yang meminta pengisian nomor pendaftaran resmi dan tanggal lahirku.

Mamah berdiri mematung di ambang pintu dapur sempit yang hanya berjarak dua meter dari posisiku duduk. Kegiatan memasak menu takjil berbuka puasa yang sedang dilakukannya mendadak dihentikan total; Mamah berdiri dengan kedua tangan yang saling meremas erat di depan dada, raut wajahnya yang dihiasi garis-garis kerutan penuaan tampak sangat tegang, pucat, dan dipenuhi oleh ekspresi ketakutan yang tidak kalah besarnya denganku. Kami berdua tahu dengan sangat pasti bahwa apa yang akan tertulis di balik layar monitor itu beberapa menit lagi bukan sekadar pengumuman kelulusan sekolah biasa; itu adalah sebuah vonis takdir yang akan menentukan apakah arah kehidupan keluarga kecil kami akan bisa melompat naik ke tingkat yang lebih baik atau tetap terkunci di dasar jurang kemiskinan kontrakan ini selamanya.

Ketika jarum jam digital di sudut kanan bawah laptop resmi bergeser menunjuk angka 15:00, dengan sisa-sisa keberanian terakhir yang dipaksakan dan ujung jari tangan yang bergetar hebat layaknya orang terserang gejala tremor, aku menekan tombol 'Enter' pada papan ketik, mengirimkan data pendaftarannya masuk ke dalam sistem penilaian pusat.

Layar laptop sempat mengalami proses memuat halaman (loading) selama beberapa detik yang terasa berjalan sangat lambat seperti berabad-abad bagi jantungku yang berdebar gila-gilaan.

Lihat selengkapnya