"Di antara jutaan titik koordinat yang memetakan permukaan bumi, ada satu ketetapan takdir yang tidak membutuhkan proyeksi: genggaman tangan yang menuntunmu pulang sejak langkah pertama."
Sebelum duniaku dipenuhi oleh kerumitan titik koordinat, proyeksi peta, garis kontur, dan kilasan-kilasan makhluk tak kasat mata yang semakin merajalela di bangku perkuliahan, hidupku memiliki satu ruang aman yang selalu konstan. Ruang itu bernama hafizh. Hubunganku dengan hafizh bukan berawal dari tatap mata canggung di selasar gedung kuliah Bumi Siliwangi, bukan pula hasil dari jalinan cinta lokasi saat masa ospek jurusan yang melelahkan dan penuh tekanan itu. hafizh adalah bagian dari akar masa laluku, sebuah benang merah yang telah terpintal jauh sebelum kami memahami arti dari sebuah rasa.
Kami sudah saling mengenal sejak zaman seragam kami masih berupa kemeja putih bersih dengan rompi kotak-kotak merah menyala di taman kanak-kanak. Lucunya, kedekatan kami berdua awalnya "disengaja" oleh takdir pertemanan erat ibu kami. Ibu hafizh dan Mamahku adalah sahabat karib yang sangat akrab; mereka sering bertukar resep masakan di akhir pekan, pergi ke pengajian bersama, hingga merencanakan secara sepihak agar kami berdua selalu berada di sekolah yang sama, dari TK, SD, SMP, hingga SMA. Kami tumbuh besar di lingkungan yang sama, melewati musim demi musim bersama, membuat aroma kehadirannya menjadi sesuatu yang seakrab detak jantungku sendiri.
Sejak kecil, hafizh adalah saksi bisu dan satu-satunya pelindung dari "keanehan" yang kupunya. Ketika anak-anak sekolah dasar lain menganggapku membual, mencari perhatian, atau menjulukiku anak aneh karena aku tiba-tiba menunjuk sudut kelas yang kosong dengan wajah pucat pasi dan mata berkaca-kaca, hafizh kecil tidak pernah sekalipun menertawakanku. Dia tidak pernah menganggapku gila. Ketika melihat tanda-tanda ketakutan di wajahku, hafizh kecil justru akan menarik lengan bajuku dengan cekatan, menggeser tubuhnya yang lebih tegap untuk berdiri tepat di depanku menghalangi pandanganku dari sudut gelap tersebut—lalu menyodorkan kotak susu cokelatnya yang belum diminum.
“Jangan dilihat, Kirana. Lihat aku aja,” begitu katanya dulu dengan kepolosan anak-anak yang menenangkan. Keberadaan hafizh sejak dulu seolah menjadi penawar alami, sebuah jangkar waras yang menahanku agar tidak hanyut terseret ketakutan dari dunia kelam yang tipis di sebelah kami.