"Di antara badai algoritma spasial dan malam-malam tanpa tidur, cinta menampakkan dirinya bukan sebagai untaian kata manis, melainkan sebagai kehadiran yang menjaga jiwamu tetap menapak di bumi."
Memasuki semester tiga, duniaku mendadak berputar dua kali lebih cepat, seolah-olah waktu sengaja memburu langkahku tanpa ampun. Ini adalah fase di mana ritme perkuliahan di jurusan Sains Informasi Geografi mencapai puncak tingkat kesibukannya yang luar biasa gila. Papan tulis kelas dan layar monitor laboratorium komputer kini dipenuhi oleh materi-materi berat yang menguras fokus intelektual: Sistem Informasi Geografis (SIG) tingkat lanjut, Penginderaan Jauh, Kartografi Digital, hingga analisis pemodelan spasial yang rumit menggunakan algoritma komputer. Tugas mingguan tidak lagi berupa lembaran tipis, melainkan menjelma menjadi tumpukan laporan tebal berisi analisis peta yang tenggat waktunya saling berkejaran satu sama lain tanpa jeda. Hampir setiap malam, area pemukiman Isola dipenuhi oleh mahasiswa jurusanku yang begadang di depan laptop dengan mata merah, mengolah piksel-piksel citra satelit, membetulkan kesalahan topologi, dan memperbaiki galat koordinat peta bumi yang keras kepala.
Di tengah gempuran akademis yang sangat melelahkan fisik itu, kondisi mata batin ku pun sebenarnya tidak menunjukkan tanda-tanda mendingan atau mereda. Sejak vonis dokter psikiater yang menyatakan jiwaku sehat secara klinis, aku merasa indra keenamku menjadi jauh lebih sensitif dan terbuka lebar, seolah-olah penolakan logisku telah runtuh. Berjalan di selasar gedung kuliah yang sepi saat sore hari menjelang magrib, duduk di sudut perpustakaan pusat, hingga sekadar memesan makanan di kantin kampus Bumi Siliwangi, mataku selalu dipaksa menangkap siluet-siluet halus, bayangan hitam besar, dan wajah-wajah pucat tak kasat mata yang seharusnya tidak ada di dunia nyata.