Bandung, Balada, dan Bait yang Pecah

Rika Ismayanti
Chapter #26

BAB 25: Kuliah Kerja Lapangan (KKL) dan Sisa Kabut Gunung Luhur

"Ketika sains sibuk mencatat suhu dan tekanan udara yang kasat mata, alam semesta terkadang membuka tirainya yang paling gelap menunjukkan bahwa ada kekuatan yang menolak untuk diukur oleh instrumen manusia."

Memasuki semester dua yang merupakan semester genap, atmosfer akademik di program studi Sains Informasi Geografi terasa semakin menantang dan memacu adrenalin. Di antara sekian banyak mata kuliah teori yang memusingkan, ada satu mata kuliah praktikum yang paling dinantikan sekaligus memicu ketegangan seluruh mahasiswa di jurusanku: Kuliah Kerja Lapangan 1 (KKL-1). Ini adalah momen pertama kalinya kami dilepas secara resmi ke alam terbuka untuk mengaplikasikan seluruh teori geosfer yang selama ini hanya kami lihat di slide proyektor laboratorium. Untuk KKL pertama ini, laboratorium alam yang dipilih oleh pihak jurusan adalah Provinsi Banten. Pagi-pagi sekali, saat matahari belum sepenuhnya terbit, bus-bus kampus yang besar sudah berjejer rapi di area parkir UPI, siap membawa rombongan kami membelah jalanan antarkota menuju Kabupaten Serang untuk mengamati fenomena alam secara langsung.

Tujuan pertama dalam rute perjalanan kami adalah sebuah desa adat yang sangat terkenal karena keteguhannya dalam menjaga kelestarian tradisi. Desa ini secara spasial terbagi menjadi dua wilayah fungsional yang sangat kontras, yaitu desa adat luar yang sudah mulai terbuka dan bersentuhan dengan modernisasi, serta desa adat dalam yang menutup diri sepenuhnya dari teknologi luar demi menjaga kesucian adat leluhur mereka. Tugas kelompok kami di sana adalah melakukan observasi sosial-spasial; kami harus mengamati bagaimana bentuk tata ruang pemukiman, orientasi bangunan, dan bagaimana pola interaksi masyarakat adatnya.

Secara kasat mata dan administratif, semua berjalan dengan sangat lancar, seru, dan menyenangkan. Teman-teman seangkatanku asyik mencatat hasil wawancara di papan jalan, sementara aku sibuk memperhatikan detail geografis sekitar. Namun, di balik jepretan kamera sains dan lembar kuisioner yang kami pegang, ada hal lain yang mengusik ketenanganku sejak pertama kali melangkah masuk. Di desa adat Banten ini, atmosfer supranaturalnya terasa luar biasa pekat dan berat. Aku bisa merasakan ada batas magis yang sangat tebal, semacam dinding energi tak terlihat yang memisahkan area luar dan area dalam. Di sela-sela pepohonan tua yang rimbun dan bayangan rumah panggung, aku tahu ada pasang mata yang mengawasi setiap gerak-gerik kami dengan tatapan yang dingin dan penuh selidik.

Keanehan yang sesungguhnya dimulai saat matahari mulai condong ke barat, menandakan waktu observasi telah habis dan rombongan kami bersiap untuk berjalan pulang beriringan melewati gerbang perbatasan desa adat luar dan dalam. Suasana sore itu mendadak terasa lebih sunyi dan mencekam dari biasanya. Salah satu teman perempuan satu kelompokku, sebut saja Dinda, tiba-tiba berjalan melambat di barisan paling belakang. Langkah kakinya terlihat terseret-seret seolah menahan beban berat, wajahnya yang semula ceria dan penuh tawa mendadak pucat pasi, dan deru napasnya terdengar memburu seperti orang yang sedang kehabisan oksigen.

"Kenapa, Din? Kamu capek? Perlu kita istirahat dulu?" tanyaku sambil menghampirinya, mencoba bersikap biasa agar tidak memicu kepanikan teman-teman yang lain.

Dinda menoleh ke arahku dengan mata yang sayu dan sayup, meremas pundak kirinya sendiri dengan ekspresi menahan sakit yang amat sangat. "Pundak aku... berat banget, Kirana. Rasanya pegal luar biasa, kayak ada yang ngegelayut dan neken aku dari atas," bisiknya dengan suara yang bergetar hebat dan bibir yang mulai membiru.

Mendengar ucapannya, jantungku seakan berhenti berdetak selama beberapa detik. Instingku langsung waspada. Perlahan, aku memfokuskan pandangan mata batin ku ke arah belakang tubuh Dinda. Darahku mendadak berdesir dingin, membeku seketika saat melihat sesosok perempuan dengan gaun kain lusuh yang kotor penuh noda tanah sedang bertengger tepat di atas pundak Dinda. Kakinya menjuntai pucat ke arah dada temanku, dan wajahnya menunduk tepat di samping telinga Dinda, seolah-olah sedang membisikkan sesuatu yang mistis.

Yang membuat bulu kudukku meremang sempurna adalah ketika makhluk astral itu perlahan-lahan mendongakkan kepalanya yang terkulai. Dia sadar bahwa aku bisa melihatnya. Perempuan gaib itu menatapku dengan mata hitamnya yang cekung tanpa bola mata, lalu menyunggingkan sebuah senyuman dingin yang sangat lebar, merobek wajahnya sendiri hingga ke telinga. Sungguh sebuah pemandangan yang mengerikan.

Dia ketempelan dari perbatasan tadi, batinku panik dan gemetar. Sepanjang sisa perjalanan berjalan kaki menuju bus kampus, aku tidak berani berbicara banyak. Aku hanya bisa terus berjalan menempel di samping Dinda sambil merapalkan doa-doa perlindungan di dalam hati sebisaku, berharap dengan sangat agar entitas gaib itu akan pergi dengan sendirinya saat bus kami mulai bergerak meninggalkan kawasan desa adat Banten tersebut.

Keesokan harinya, perjalanan KKL-1 kami berlanjut menuju lokasi berikutnya yang menjadi inti dari seluruh rangkaian praktikum semester ini: Gunung Luhur. Kawasan dataran tinggi yang terletak di Lebak, Banten ini sangat terkenal dengan julukan "Negeri di Atas Awan" karena keindahan hamparan kabut putihnya yang menakjubkan mata. Namun bagi kami, para mahasiswa geografi, tempat indah ini adalah medan tempur ilmiah yang sesungguhnya. Di sinilah seluruh materi praktikum mata kuliah Meteorologi dan Klimatologi diuji secara nyata di lapangan.

Sepanjang hari, dari terbit matahari yang membelah kabut hingga sore menjelang, logika sains kami diperas habis-habisan tanpa ampun. Kami dibagi menjadi beberapa tim kecil untuk mendeteksi dan mengumpulkan elemen-elemen cuaca makro maupun mikro. Kami menggunakan berbagai instrumen fisik: mengukur suhu udara, mencatat angka kelembapan udara relatif menggunakan psikrometer, mengamati formasi dan jenis awan, hingga mengukur kecepatan dan arah angin di sekitar lereng Gunung Luhur yang curam. Semua data harus dicatat valid demi laporan akhir.

Lihat selengkapnya