Bandung, Balada, dan Bait yang Pecah

Rika Ismayanti
Chapter #28

BAB 27: Celah Ventilasi dan Kamar Mandi Pojok

"Ada tempat-tempat di mana kegelapan mengendap lebih lama, mengintai dari celah tersepit, menunggu saat pertahananmu runtuh di bawah guyuran air yang dingin."

Masa tenang dan ruang istirahat yang kubangun bersama hafizh di semester tiga harus berakhir dengan cepat ketika kalender akademik secara resmi bergeser masuk ke semester empat. Di semester genap yang baru ini, pertahanan fisik dan energiku kembali diuji oleh sebuah mata kuliah wajib yang sangat menguras tenaga: Olahraga. Untuk semester ini, fokus materi yang harus diambil oleh seluruh mahasiswa adalah olahraga berenang, yang pelaksanaannya dilakukan langsung di Gelanggang Renang UPI yang megah dan luas. Bagiku yang dasarnya tidak terlalu mahir berenang dan memiliki ketakutan tersendiri terhadap kedalaman air, hari praktikum itu terasa cukup menegangkan dan memicu kecemasan sejak pagi hari, karena kami harus menjalani pengambilan nilai atau tes renang fisik langsung di hadapan dosen penguji yang berdiri di pinggir kolam holding stopwatch.

Setelah berjuang keras mengayuh lengan dan kakiku di dalam air kolam yang dingin sedalam dua meter itu, menahan napas yang terasa sesak, aku akhirnya berhasil menyelesaikan tes renang dengan hasil nilai yang cukup baik dan lulus target. Tubuhku terasa sangat menggigil, bergetar hebat karena kombinasi udara Bandung yang dingin dan kaporit kolam. Aku segera naik dari permukaan kolam renang, memeras ujung rambutku yang basah, dan berjalan dengan langkah terburu-buru menuju ruang bilas wanita untuk membersihkan diri serta membilas sisa air kaporit yang baunya menusuk hidung.

Entah karena dorongan bawah sadar apa yang menuntunku atau mungkin karena takdir sial yang sengaja mengarahkan langkah kakiku aku berjalan melewati barisan bilik-bilik kamar mandi depan yang kosong dan justru memilih bilik kamar mandi yang posisinya berada di paling pojok, paling ujung dalam ruangan yang areanya remang-remang karena lampunya agak redup. Sementara teman-teman perempuan seangkatanku yang lain lebih memilih berkerumun, mengantre, dan mengobrol di bilik-bilik bagian depan yang dekat dengan pintu keluar karena areanya jauh lebih terang, ramai, dan terasa aman.

Lihat selengkapnya