Bandung, Balada, dan Bait yang Pecah

Rika Ismayanti
Chapter #29

BAB 28: Pengobatan di Tanah Sumedang

"Ada luka yang tak bisa disentuh oleh pisau bedah, dan ada kegelapan yang hanya bisa diusir ketika iman, doa, dan cinta sejati bersatu memecah belenggu gaib."

Doa yang kurapalkan di dalam hati dengan penuh kepanikan saat berada di bilik pojok Gelanggang Renang UPI tampaknya hanya berfungsi sebagai tameng darurat sementara untuk mencegah makhluk itu menyentuhku saat itu juga, bukan untuk mengusir entitas tersebut secara permanen dari duniaku. Begitu kelas olahraga berenang selesai sore itu dan aku pulang ke kamar kosanku di daerah Isola dengan tubuh lelah, energi dingin yang hitam itu rupanya diam-diam merayap keluar dari ventilasi, mengikuti langkah kakiku di sepanjang jalan, dan menempel erat di punggung kiriku tanpa kusadari.

Malam harinya, penderitaanku dimulai kembali. Pundak sebelah kiriku mendadak terasa sangat sakit, kaku, linu, dan luar biasa berat seperti ditekan. "Aduh... kok pundak kiriku pegal banget ya malam ini, Fiz. Rasanya gak enak banget," keluhku malam itu melalui sambungan telepon seluler dengan hafizh, mencoba mencari suara yang kukenal untuk mengalihkan perhatian dari rasa tidak nyaman yang terus mendera batin ku.

"Mungkin kamu keseleo atau salah urat pas tes mengambil nilai renang tadi siang kali, Kirana? Kan kamu tadi kelihatan tegang banget pas di kolam sedalam dua meter itu, gaya renangnya mungkin ada yang salah posisi pas narik otot lengan," sahut hafizh di seberang telepon dengan nada suara yang penuh rasa khawatir dan perhatian.

Aku mengiyakan dan menyetujui analisis logis yang diberikan oleh pacarku itu. Aku benar-benar menaruh harapan besar pada logika sains bahwa ini hanya cedera otot fisik biasa akibat kurangnya pemanasan sebelum masuk ke kolam dalam. Namun, dugaanku yang rasional itu meleset total tanpa ampun. Rasa sakit yang tajam dan beban berat di pundak kiri itu tidak kunjung reda atau membaik dari hari ke hari berikutnya. Satu hari, dua hari, tiga hari, hingga tepat di hari keempat setelah kuliah olahraga, rasanya pundak kiriku seperti sedang memikul beban batu hitam seberat berpuluh-puluh kilogram. Jangankan untuk menggendong tas ransel kuliahku yang penuh dengan buku teori geografi dan laptop, untuk sekadar duduk tegak di depan meja belajar saja aku harus meringis menahan sakit yang luar biasa hebat, seolah-olah ada sepasang tangan tak terlihat yang sedang berpegangan erat, menggelayut, dan menunggangi pundak kiriku dengan paksa.

Akhirnya, tepat di akhir pekan karena tubuh fisiku sudah tidak kuat lagi menahan siksaan lahir batin yang membuatku tidak bisa tidur selama berhari-hari, aku memutuskan untuk pulang ke rumah kontrakan mamah. Begitu sampai di rumah dan melihat wajah khawatir ibuku, pertahanan mental mahasiswi geografi yang sok kuat ini runtuh sepenuhnya. Aku langsung menangis tersedu-sedu di ruang tamu sambil menceritakan rasa sakit luar biasa di bagian pundak kiriku yang tak kunjung sembuh sejak hari tes renang di kolam UPI.

Lihat selengkapnya