"Ada luka yang terlalu dalam untuk diceritakan pada manusia, namun terlalu bising jika disimpan sendiri. Di atas kain tak bersudut ini, aku belajar melepaskan racun yang dikirim dunia."
Sumedang malam itu terasa jauh lebih dingin dari biasanya. Angin pegunungan menyelinap di antara celah jendela, membawa kabut tipis yang seolah ikut meraba kegelapan di dalam kamar. Namun, hawa dingin di luar sama sekali tidak mampu memadamkan gejolak di dalam dadaku. Rasanya panas, sesak, dan membakar hebat. Malam itu, di kota yang menjadi saksi bisu pengobatan spiritualku, semua tabir tebal yang selama ini mengunci rapat rahasia besar keluarga Mamahh akhirnya terbongkar tanpa sisa.
Mengetahui bahwa ada "keistimewaan" atau garis sensitivitas spiritual yang mengalir dalam darah seluruh anak, cucu, dan cicit dari keluarga Mamahh adalah sebuah kenyataan yang mengejutkan. Namun, bagian paling menyakitkan dari seluruh kebenaran itu bukanlah tentang hal-hal mistis yang kini melekat pada diriku. Bagian yang paling menghancurkan jiwaku adalah kenyataan pahit tentang masa lalu kami. Tentang alasan mengapa istana kecil kami hancur lebur di masa lalu.
Ternyata, perceraian berdarah-darah antara Mamahh dan Ayah sebetulnya tidak terjadi begitu saja secara alami. Ada kebencian yang dipelihara orang lain. Ada kiriman santet pemisah rumah tangga sebuah sihir hitam keji yang sengaja ditiupkan ke tengah-tengah ruang keluarga kami demi melihat Mamahh dan Ayah saling membenci, saling menghancurkan, hingga akhirnya berpisah jalan.