Dunia menuntutku untuk menjadi kuat, tanpa pernah bertanya seberapa hancur pundakku menahan beban. Terima kasih telah menjadi rumah, di saat semua tempat terasa asing."
Waktu terus bergulir tanpa peduli apakah aku sudah siap atau belum, hingga akhirnya kakiku menapak di semester enam. Di sinilah letak ujian duniaku yang sesungguhnya. Kehidupan akademis di program studi Sains Informasi Geografi UPI Bumi Siliwangi menjelma menjadi sebuah labirin gelap yang menyiksa lahir dan batin. Beban perkuliahan seolah sengaja ditumpuk di atas pundakku hingga aku sering kali merasa kehabisan napas untuk melangkah.
Setiap hari, duniaku dipenuhi oleh kepungan angka-angka koordinat, pemrosesan citra satelit yang menuntut ketelitian tingkat tinggi, analisis data spasial yang rumit, hingga penyusunan draf skripsi yang revisinya seolah menjadi lingkaran setan tanpa ujung. Kepenatan mental yang luar biasa ini sering kali memicu kembali sisa-sisa trauma masa lalu. Di saat otakku kelelahan, rasa cemas yang berlebihan kerap datang menyerang tanpa diundang, membuat dadaku berdegup kencang dan dipenuhi rasa takut akan kegagalan.
Ada hari-hari kelam di mana aku hanya bisa duduk diam di depan layar laptop yang menyala di kamar kos, menatap barisan kalimat skripsi dengan pandangan yang mengabur karena air mata yang terus-menerus menetes. Rasa lelah fisik karena kurang tidur berbaur dengan kepenatan mental, membuat kepalaku rasanya mau pecah. Di titik-titik terendah itu, saat ego duniaku berbisik untuk menyerah saja, mengunci diri di kamar, dan meninggalkan semua impian kuliahku, Tuhan selalu mengirimkan penawarnya: hafizhh.