Bandung, Balada, dan Bait yang Pecah

Rika Ismayanti
Chapter #32

BAB 31: Toga Cumlaude dan Kursi yang Kosong

"Aku berhasil membuktikan pada dunia bahwa aku bisa berdiri di puncak tertinggi. Namun, mengapa di saat semua mata menatapku bangga, sepasang mata yang paling kucari justru memilih hilang?"

Hari yang dinanti-nantikan itu akhirnya benar-benar pecah di bawah langit Bandung yang cerah. Pelataran Gedung Pertemuan UPI Bumi Siliwangi riuh rendah oleh suara musik gamelan pengiring, tawa riang yang menggema, dan lautan manusia yang membawa buket bunga beraneka warna serta balon-balon bertuliskan ucapan selamat. Di tengah kerumunan itu, aku berdiri dengan pakaian terbaikku. Di dadaku, tersampir selembar samir wisuda berwarna kuning-hijau dengan sebuah medali logam yang mengilap, menegaskan sebuah predikat yang paling diincar oleh ribuan mahasiswa: Cumlaude.

Sebuah pembuktian besar yang berhasil kutuntaskan. Ini adalah hasil dari cucuran air mata di sepertiga malam, peluh keringat saat survei lapangan, dan doa-doa Mamahh yang menembus langit. Bahkan, kebaikan Tuhan tidak berhenti di lembar ijazah saja. Sebelum hari wisuda ini tiba, sebuah pintu rezeki besar telah diketuk untukku. Aku sudah dinyatakan lolos seleksi dan diterima bekerja sebagai Sekretaris Surveyor di sebuah perusahaan swasta yang bergerak di bidang pemetaan wilayah dan survei lapangan geospasial sebuah pekerjaan yang sangat kusyukuri karena sangat lurus dengan bidang ilmu yang kupelajari setengah mati di kampus.

Gaji pertama yang tertera di lembar kontrak kerja terasa begitu nyata sekaligus tidak nyata. Jumlahnya sangat cukup. Angka itu akan menjadi batu bata pertama untuk membangun mimpi besarku: membeli sebuah rumah baru yang layak untuk kami tinggali, sebagai pengganti rumah masa kecil kami yang dulu direbut secara paksa, keji, dan tidak adil oleh Uwa setelah perceraian orang tuaku. Dan di atas segalanya, uang itu akan kukumpulkan dalam tabungan khusus dengan satu tujuan mulia: menerbangkan Mamah ke tanah suci Mekkah untuk menunaikan ibadah umroh yang selalu beliau sebut dalam tangis tangis doanya.

Di salah satu sudut taman kampus, Mamah berjalan mendekatiku dengan langkah yang gemetar. Begitu mata kami beradu, pertahanan Mamah runtuh. Air matanya langsung tumpah membasahi pipinya yang mulai menua. Beliau memelukku dengan sangat erat, pelukan hangat yang sarat akan rasa syukur yang teramat dalam atas segala penderitaan, kemiskinan, dan hinaan yang berhasil kami lewati bersama-sama selama ini.

Lihat selengkapnya