"Dulu kamu berjuang dalam senyap, menukar peluh dengan harapan. Hari ini, di balik kilau berlian ini, aku tahu bahwa sejauh apa pun aku terjatuh, kamu adalah tali yang selalu menarikku pulang."
Setelah riuh rendah sesi foto bersama keluarga besar dan sahabat-sahabat karibku perlahan mulai mereda, hafizh mendekat. Dengan gerakan isyarat yang lembut, dia membimbingku untuk memisahkan diri sejenak dari keramaian halaman gedung utama UPI. Dia membawaku berjalan menyusuri jalan setapak menuju sebuah sudut taman kampus yang agak lengang, tempat di mana riuh suara manusia tergantikan oleh gesekan dedaunan rindang yang ditiup angin sepoi-sepoi kota Bandung.
hafizh menghentikan langkahnya, lalu berbalik tepat menghadapku. Dia menatap lekat-lekat ke dalam manik mataku dengan tatapan yang begitu dalam, sarat akan ketulusan, rasa hormat, dan riak emosi yang sejak tadi ditahannya di depan orang banyak. Wajahnya yang biasa tenang dan penuh kendali, kini tampak memperlihatkan gurat kegugupan yang luar biasa.
Tanpa banyak kata mutiara, hafizh perlahan merogoh saku jas hitam rapinya. Dia mengeluarkan sebuah kotak kecil berbalut beludru biru tua yang tampak elegan. Ketika jemarinya membuka penutup kotak itu secara perlahan, sebuah cincin dengan mata berlian murni berkilau dengan begitu indahnya, menangkap setiap sudut pancaran sinar matahari siang itu dan memantulkannya ke mataku.
"Aku sudah menyimpan cincin ini sejak kamu masih berstatus sebagai mahasiswa baru, sejak hari-hari pertama kita terengah-engah melewati kerasnya masa ospek dulu," suara hafizhh terdengar bergetar hebat di ujung kalimatnya, menahan buncahan tangis haru yang mendesak di dalam dadanya.