Aroma tanah basah sisa hujan semalam masih tercium jelas di koridor sekolah. Bagi aku, udara pagi Bandung hari ini terasa jauh lebih dingin dari biasanya—atau mungkin, itu hanya efek dari rasa gugupku yang sudah mencapai ubun-ubun. Dengan seragam putih-biru yang masih kaku dan terasa kebesaran di tubuhku, aku berdiri mematung di persimpangan lorong. Ratusan murid baru saling bercanda dan berlarian mencari ruang kelas mereka, sementara aku hanya bisa meremas tali tas ranselku, benar-benar tersesat di hari pertama masuk SMP.
Aku berjalan terburu-buru sambil menunduk menatap peta sekolah di tanganku. Tepat saat aku berbelok di ujung lorong, langkahku mendadak terkunci. Dari arah berlawanan, seorang cowok jangkung sedang berjalan cepat.
Bruk!
Aku memejamkan mata, bersiap merasakan benturan keras dengan lantai dingin. Namun, rasa sakit itu tidak pernah datang. Sepasang lengan dengan sigap menahan kedua pundakku, menyeimbangkan tubuhku yang hampir terjungkal.
Seketika, semua di sekelilingku menjadi lenyap. Senyap. Hanya ada aku dan laki-laki itu. Kalau kamu tidak percaya pada cinta pada pandangan pertama, maka percayalah bahwa itu nyata. Rasanya seperti ada ribuan kupu-kupu yang mendadak ingin membebaskan diri dari dalam perutku.
Aku mendongak dan terpana. Sinar matahari pagi yang menerobos jendela koridor seolah sengaja menerangi wajah cowok itu—membuat garis rahang tegas dan tatapan matanya yang tenang terlihat berkali-kali lipat lebih menawan. Untuk beberapa detik yang berharga, aku benar-benar lupa bagaimana caranya bernapas.
Plak!
Sebuah tepukan cukup keras di punggungku dari seorang guru yang lewat seketika menyadarkanku kembali dari bawah alam sadar.
Aku tersentak dan langsung mundur satu langkah. Wajahku seketika memanas. Pasti sekarang pipiku sudah merona merah karena malu ketahuan memandangi dirinya tanpa berkedip.