Bandung, Kota yang Menunda Pulang

Intan Siti Noer Rita Daswan
Chapter #1

Bandung, 15 Tahun yang Lalu

Tatar Sunda, Paris van Java, Kota Kembang dan sederet julukan yang membuat setiap orang menaruh rindu di kota ini. Selalu ada rasa yang tertinggal ketika kita menyapa setiap ujung kota. Kota yang udaranya membuat orang-orang lebih sehat. Kota yang warganya terkenal ramah dan lemah lembut. Kota yang tidak pernah mengenalkan kata bosan kepada pengunjungnya. Tapi, benarkah Bandung itu kota tanpa cela?

Ah, menurutku Bandung tidak sesempurna itu. Katanya Bandung itu kota paling romantis dan agamis. Di hari pertama aku menginjakkan kaki di kota ini, aku bahkan tidak menemukan itu semua.

Jangan pernah bayangkan Bandung 15 tahun yang lalu sama dengan sekarang. Alun-alun Bandung masih tidak secantik sekarang. Saat itu, mungkin lebih tepatnya terlihat kumuh, apalagi dengan bus-bus Damri yang parkir menunggu penumpang di situ. Penjual kaki lima pun terlihat tidak tertata-tata di situ. Ditambah para pengemis dan pengamen yang lalu-lalang di sekitaran Masjid Agung.

Trotoar di sekitar alun-alun dan Braga pun tidak senyaman sekarang. Tidak ada kursi untuk sekadar nongkrong, apalagi batu-batu bulat yang menambah kesan estetik. Tidak ada spot untuk foto yang bertuliskan BRAGA di Simpang Braga tepatnya di depan Bank BJB. Jalan di pinggir Sungai Cikapundung pun tidak seindah sekarang, yang bisa dijadikan spot foto. Lima belas tahun yang lalu, tidak ada Cikapundung Riverspot yang baru dibangun tahun 2015.

Lihat selengkapnya