Bandung, Kota yang Menunda Pulang

Intan Siti Noer Rita Daswan
Chapter #2

Dari Sinilah Cerita Dimulai

Paris van Java. Ungkapan itu seperti sudah mendarah daging. Sejak aku bisa membaca, aku sudah sangat sering menemukan ungkapan ini di buku-buku. Apalagi aku sering mendengar cerita kalau Bandung itu indah, layaknya di Paris.

Aku menatap sekitar. Ah, indah darimana. Baru pertama kali menjejakkan kaki di kota ini saja, semua barangku hilang tak tersisa. Baru saja aku keluar dari bus dan duduk di bangku panjang ini, ada orang yang tega mengambil tas ranselku. Padahal dompet, ponsel hadiah dari Mama dan juga baju ganti, ada di dalam tas semua. Awalnya aku ingin melapor petugas, tapi aku pikir lagi, pasti mereka akan menginterogasiku. Ujung-ujungnya pasti aku akan dipulangkan ke rumah Papa. Jadi lebih baik aku ikhlaskan saja barang-barang itu. Saat ini, yang terpenting aku bisa bertemu dengan Mama. Aku akan memberanikan diri bertanya alamat yang pernah diberikan satpam rumahku ketika aku mengutarakan niat untuk bertemu Mama.

Aku merogoh saku jaketku mencari secarik kertas yang diberikan oleh Pak Satpam. Aku kaget kertas itu tidak ada di saku jaketku. Aku bingung harus menuju rumah siapa. Hanya nama sebuah mall yang aku ingat. Kalau tidak salah Pak Satpam menuliskan rumah Tante Arin itu ada di belakang Metro Trade Centre. Semoga saja nama itu tidak salah aku ingat.

Aku menatap sekelilingku. Katanya Bandung itu kota kembang, tapi kok banyak sampah kayak gini. Di dalam terminal, aku benar-benar tidak merasakan nyamannya kota ini. Apa selama ini aku salah membaca tentang Bandung? Atau itu semua hanya fiktif belaka?

Aku jadi penasaran kenapa kota ini disebut Paris van Java? Tidak hanya itu, saat inipun, aku berada di tempat tidak ada bau-bau Paris sedikit pun. Bayangkan saja, aku tertidur di atas kursi tunggu terminal yang jaraknya tidak jauh dari toilet yang sepertinya jarang dibersihkan.

Uweeek…. Perutku yang belum terisi sejak semalam membuat tambah mual. Aku merogoh kembali saku jaketku, tidak ada uang sepeser pun. Aku merogoh saku celanaku. Ah, hanya ada uang 10 ribu kembalian beli minum di minimarket sebelum naik bus di terminal Giwangan kemarin.

Aku mencoba duduk dan merapikan rambut lurus sebahu yang aku ikat. Aku masih memerhatikan sekeliling. Orang berjalan hilir mudik tanpa memperhatikan keadaanku. Tangan kananku masih terasa sakit dan agak sedikit bengkak. Maklum anak perempuan umur 15 tahun harus berhadapan dua orang lelaki bertubuh kekar. Untung saja hanya barang-barangku yang diambil.

Aku melangkah mencari pintu keluar terminal. Setelah tiga kali mengelilingi terminal, aku menemukan pintu keluarnya. Tak lupa aku bertanya naik angkutan umum apa untuk ke Metro Trade Centre. Aku berharap bisa segera bertemu Mama dan adikku.

Tapi, sepertinya aku terlalu lugu hingga ada dua orang yang mendekatiku. Ia bertanya kemana arah tujuanku. Aku pikir mereka orang baik yang dikirimkan Tuhan agar aku bertemu Mama. Ternyata mereka memanfaatkan kepolosan dengan membawaku ke daerah yang sama sekali tidak aku tahu. Mereka menurunkan di pinggir jakan dan mengambil jaket serta topi yang aku pakai. Awalnya aku menolak, tapi mereka terus memaksa dan menempelkan senjata tajam ke arah pinggangku, akhirnya aku hanya bisa menurutinya saja. Pikirku, daripada mereka menyakitiku, lebih baik aku kehilangan jaket dan topi hadiah ulang tahun dari Mama.

Aku terus berjalan sambil mencari tahu dimana aku berada. Aku pikir aku berada di pasar. Tapi, setelah aku bertanya ke penjual minuman, aku tahu ada di Taman Tegallega. Aku menatap sekeliling, melirik ke sebelah kanan dan kiriku. Aku berharap ada keajaiban bertemu dengan Mama di sini.

Aku terus melangkah, meskipun tidak tahu harus kemana. Suara perutku akhirnya menyadarkanku kalau aku belum makan dari kemarin. Aku ingat, ada uang sepuluh ribu di saku celanaku.

Saat ini yang ada di pikiranku ialah mencari warung makan. Siapa tahu di kota besar ini, aku masih bisa menemukan seporsi nasi dengan lauk hanya dengan 10 ribu rupiah saja, syukur-syukur dapat bonus minuman hangat.

Ya, saat ini, aku butuh sekali minuman hangat untuk mengurangi rasa pusing kepalaku. Entah karena benturan ke tembok tadi pagi di Terminal atau karena semalam aku memilih untuk tetap terjaga di dalam bus. Rasa takut diikui oleh orang-orang suruhan Papa, membuatku terus terjaga sepanjang malam.

Ternyata daerah ini sangat ramai, sehingga membuatku bingung harus kemana. Di seberang jalan aku melihat ada sebuah bangunan bertuliskan Museum Sri Baduga. Aku pun memutuskan untuk mencari makanan di daerah sana. Sepertinya ada pemukiman. Biasanya akan ada warung nasi kalau di dekat pemukiman dan juga perkantoran.

Lihat selengkapnya