Bandung, Kota yang Menunda Pulang

Intan Siti Noer Rita Daswan
Chapter #3

Orang yang Pertama Memberiku Senyum dan Tangis di Kota Ini

“Nes, ayo masuk! Tong isin-isin2), ayo masuk!” ajak Bu Ira mempersilakan aku masuk ke dalam rumah kontrakannya.

Sebenarnya kalau dibandingkan rumahku, lebih tepatnya ini hanyalah sebesar kamar tidurku. Ruangan berukuran 5x4 m. Ada sebuah kamar yang ukurannya mungkin sekitar 3x3 m, dan ada kamar mandi seadanya dengan toilet jongkok dan juga keran air serta satu ember di bawahnya. Dapur? Ada lorong kecil antara kamar mandi dan ruang tamu, hanya cukup menaruh meja kecil untuk kompor dan sebuah lemari makanan yang sudah ditali pintunya karena hampir mau copot.

Dari sejak masuk tadi, aku memperhatikan ada gadis kecil berusia 4 tahunan sedang asyik bermain boneka di sudut ruangan. Badannya kurus, kulitnya sawo matang, rambutnya lurus panjang sebahu. Ia sempat melirik ke arahku dan tersenyum. Lesung pipinya menambah manis ketika ia tersenyum.

 Tapi, ada yang aneh dengan pipi sebelah kanannya. Terlihat seperti habis ditampar, atau mungkin jatuh. Tidak mungkin anak seumuran dia ditampar. Ah, aku terlalu berpikiran negatif.

Gadis kecil ini benar-benar mencuri perhatianku. Bukan hanya karena usianya hampir sama dengan adikku, tapi aku merasa ia tidak seperti anak seusianya. Lebih banyak diam, bahkan terlihat sering berbicara sendiri.

“Ina! Kenalin ini namanya Teh Ines!” ujar Bu Ira.

Anak kecil yang dipanggil Ina itu menghampiri lalu mencium tanganku. Aku membalas uluran tangannya sambil berjongkok. Melihat senyumannya, aku merasa ada sesuatu yang sedang ia pendam.

“Aku izin tidur di sini, boleh?” tanyaku lirih.

Ia mengangguk tanpa sepatah kata pun. Ingin sekali aku memeluknya dan mengatakan kalau aku senang menjadi sahabatnya. Tapi, belum sempat aku melontarkan kata-kata, tiba-tiba datang seorang laki-laki brewok berbadan tegap dengan tato di lengan kanan dan kirinya.

“Siapa kamu?”

Aku hanya tertunduk takut mendengar suaranya. Dari tampilan dan caranya menyapa sudah sangat jelas terlihat ia bukanlah lelaki baik-baik. Ia melangkah masuk lalu membuka penutup makanan di atas meja kecil.

Lelaki bertato itu melempat penutup makanan ke lantai, hampir saja kena kepala gadis kecil yang tatapan matanya terlihat kosong. Sepertinya ia sudah terbiasa dengan kondisi seperti ini.

Lihat selengkapnya