Bandung, Kota yang Menunda Pulang

Intan Siti Noer Rita Daswan
Chapter #4

Terpaksa Menjadi Dewasa

“Pokoknya mulai besok, itu anak harus ikut ngamen,” ujar Si Brewok sambil membuka jaketnya.

Mereka mengira aku sudah tertidur pulas. Padahal dari tadi, aku tidak bisa memejamkan mata. Aku hanya pura-pura memejamkan mata ketika mendengar suara motor berhenti. Aku penasaran dengan rencana Si Brewok yang menyuruhku untuk kerja seperti anak-anak yang menyetor uang tadi sore.

“Ra! Ini anak lumayan juga kalau jadi penerus!” Si Brewok mengelus ujung kakiku.

Merasakan tangan Si Brewok menempel di kakiku, membuat jantungku berdetak kencang. Aku takut Si Brewok akan berbuat macam-macam kepadaku. Tapi, untunglah Bu Ira langsung mengibaskan tangan Si Brewok.

Si Brewok tertawa sambil menyalakan rokoknya. Tawanya yang keras membuat Ina membuka matanya sesaat dan menggerakkan badannya. Ia mungkin terganggu dengan suara keras bapaknya. Tapi, untunglah tidak sampai terbangun. Aku berusaha untuk memeluknya.

“Maksudnya Akang teh apa?”

“Kalau masih fresh kayak gini, aing5) bisa dapat duit banyak, tinggal maneh6) poles dikit wajahnya, pakai baju agak terbuka, terus ajak ke tempat mangkal,” ujar Si Brewok sambil duduk di sebelahku.

Jantungku semakin berdetak kencang mendengar kata-kata Si Brewok. Aku takut Si Brewok benar-benar nekat memaksaku. Ingin rasanya bangun dan lari dari rumah ini.

“Heh! Cukup hidup Ira aja yang Akang bikin hancur. Dia anak baik, dia cuman mau nyari ibunya!”

“Tapi, dia numpang di rumah ini, Ira! Nggak ada yang gratis di dunia ini!”

“Dia nggak minta, Ira yang ngajakin dia karena kasihan. Kalau Akang jadiin dia pelacur, Ira pergi dari sini dan Ira bongkar kerjaan baru Akang! Biar Akang merasakan lagi dinginnya tembokl penjara!”

Plakkk!!!

Sebuah tamparan keras mendarat di pipi Bu Ira. Aku sebenarnya ingin sekali membantu Bu Ira untuk melawan lelaki brengsek itu. Aku seperti melihat perbuatan Papa pada Mama. Pipiku basah dengan air mata yang tak bisa ditahan.

“Dasar ya betina! Bisanya ngancam! Oke, Akang setuju nggak jadiin dia pelacur. Tapi jangan larang Akang buat nyuruh dia ngamen. Akang juga bisa bikin Ira tambah nelangsa! Sebelum Akang dipenjara, maneh duluan yang akan merasakan dinginnya dinding penjara! CATAT DAN INGAT KATA-KATA AING, IRA!”

Si Brewok mengambil jaketnya, lalu keluar rumah sambil membanting pintu. Aku membuka mata dan duduk di sebelah Bu Ira. Aku mengusap lembut punggung perempuan yang sudah berbaik hati menampungku di rumahnya. Aku menatap lembut wajahnya yang terlihat suntuk. Ia masih memakai pakaian yang tadi sore.  Make up-nya masih belum hilang. Wangi parfumnya pun masih tercium kuat.

“Bu Ira kenapa menangis?” tanyaku sambil mengusap lembut punggungnya.

“Maafkan aku, Nes. Aku tidak pikir panjang ketika mengajakmu. Aku tadi hanya kasihan melihatmu luntang-lantung nggak tahu mau kemana.”

Lihat selengkapnya