“Siapa nama kamu?” tanya seorang anak perempuan berambut cepak.
"Ines," jawabku singkat.
“Nama asli?”
Aku terdiam. Kenapa dia paham kalau itu bukan nama asliku. Aku menatap wajahnya sesaat. Mungkin usianya lebih tua dua atau tiga tahun dariku. Hidungnya ditindik. Ada tato kecil bergambar bunga mawar di punggung tangan kirinya. Aku pernah melihatnya di rumah Si Brewok bersama pengamen lain untuk menyetor uang.
“Nggak perlu kaget dengan pertanyaanku. Semua anak di sini jarang pake nama asli. Oya, gue Anggi. Nama asli Angelina. Tapi kata Si Brewok terlalu mewah, jadi gue ganti jadi Anggi. Gue udah 5 tahun ngamen dan jadi anak buah Bang Haris. Awalnya gue diculik dari depan sekolah sama Si Brewok dan Si Petet. Nggak perlu takut sama Bang Haris, meskipun Bang Haris dan Si Brewok temenan, tapi mereka berbeda banget. Bang Haris itu baik, ngemong dan bijak. Si Brewok itu biasa nitipin orang-orang titipan dia di beberap titik. Intinya biar dia bisa dapat penghasilan tanpa kerja,” jelasnya, “Eh, lu belum jawab pertanyaan gue, nama asli lu?”
“Panggil aku Ines aja. Aku tidak menyukai nama asliku, lebih tepatnya aku benci dengan orang yang memberi nama itu. Biarlah aku membuat kebahagiaan kecil dengan mengganti nama panggilanku sendiri.”
“Elu pasti anak orang kaya ya?”
Dari senyumanku, sepertinya Anggi paham aku tidak suka membahas itu. Ia pun bercerita banyak tentang dirinya. Tak lupa ia menjelaskan apa saja yang aku harus lakukan.
Aku dititipkan Si Brewok kepada Bang Haris. Mereka berdua memang saling mengenal. Ada sekitar 5 orang pengamen titipan Si Brewok. Setiap pengamen wajib setor kepada Si Brewok 50 – 100 ribu setiap hari tergantung jam terbangnya. Sedangkan ke Bang Haris, tidak ada aturan harus menyetor. Malah Bang Haris sering menolak untuk diberi uang. Ia lebih memilih ikut mengamen dan mencari uang sendiri. Suara Bang Haris pun enak didengar. Ia malah sering manggung di café-café daerah Braga dan Alum-alun.
Aku suka dengan suara Bang Haris ketika bernyanyi. Mirip banget dengan guru les menyanyiku. Ya, sejak TK, Papa memang pernah memasukkan aku ke sekolah musik. Aku juga beberapa kali ikut lomba menyanyi. Tapi, aku tidak mengira, saat ini aku menjadi pengamen jalanan.
“Nes, suara elu bagus juga,” puji Anggi.
Aku tidak menghiraukan pujian Anggi. Aku juga tidak banyak bercerita kalau aku memang pernah les menyanyi. Biarlah mereka mengira ini semua hanya sebuah kebetulan.
Udara Bandung memang tidak panas, tapi selama aku mengamen, celana panjang dan kaos gombrang menjadi kostum khusus setiap hari. Sebenarnya alasan yang tepatnya, karena Bu Ira memberika baju-baju seperti itu. Kata Bu Ira agar aku bisa terlindungi dari orang-orang jalanan yang kadang sikapnya suka tak terduga.
Sesekali aku memakai kerudung putih, bukan karena untuk menutup aurat, tapi sekadar melindungi rambutku saja. Tapi, lebih seringnya aku memakai topi pemberian dari Anggi. Rambutku lurus sebahu sering aku sembunyikan di dalam topi agar tidak terkena matahari.
Tubuh kurusku tidak terlihat karena jaket yang ukurannya tidak pas denganku. Lagi-lagi Bu Ira sengaja membelikan yang seperti itu. Awalnya aku tidak paham dengan perlakuan Bu Ira terhadapku. Tapi, seiring berjalannya waktu, aku sadar Bu Ira begitu menjagaku agar terlindungi dari niat jahat orang lain.