Bandung, Kota yang Menunda Pulang

Intan Siti Noer Rita Daswan
Chapter #8

Bandung, Katanya Orang-Orangnya Ramah

“Timana maneh? Hujan-hujan lain balik kalahkah ulin! Mawa duit sabaraha?”

Telinga ini sudah sangat bersahabat dengan kata-kata seperti di atas. Aku merogoh uang di saku jaketku dan menaruhnya di sebelah lelaki bertato dengan rambut gondrong yang selalu diikat. Tadinya aku berniat masuk ke kamar. Tapi, tangan lelaki itu sudah lebih dulu menarik tubuhku ke tembok.

“Seharian cuman dapat segini? Malam ini kamu tidak usah makan di rumah ini!” tangan kiri lelaki itu memegang pipiku dan tangan kanannya sudah siap akan menampar.

“Kang! Cukup! Kasihan Ines kamu perlakukan seperti itu!” teriak Bu Ira sambil berlari dari arah luar.

“Diam! Tugas maneh ganti baju, dandan, dan layani pelanggan, setor duit sing loba!”

Satu tamparan yang sangat keras sudah mendarat di pipiku. Aku sudah kehabisan tenaga untuk bisa melawannya. Air mata ini juga sudah kering untuk bisa sekadar membasahi pipi.

Setelah berhasil meluapkan emosinya, lelaki yang sebenarnya lebih pantas memakai rok itu, keluar dari rumah dengan menarik tangan istrinya. Meski sedang kesal, tetap saja uang hasil ngamenku sudah langsung dikantonginya.

Lihat selengkapnya