“WOY, JO! BRENGSEK! DASAR IBLIS!” aku setengah berteriak.
Sambil memperbaiki posisi baju dan juga rambut yang acak-acakan, aku menatap garang ke arah Jojo. Ingin rasanya aku hilangkan saja nyawa lelaki brengsek itu. Ia telah memanfaatkan kondisi tertekanku.
“Santai, tinggal minum jamu, semua masalah beres. Nanti gue kasih alamat toko jamunya,” jawabnya sambil berdiri dan berjalan meninggalkanku, “Nes, ingat kita melakukannya bukan karena paksaan,” lanjutnya.
“DASAR BRENGSEK! LELAKI BEJAD!” teriakku sampai pita suara ini rasanya mau putus.
Aku menangis sekuat-kuatnya. Apalagi yang bisa aku banggakan sebagai seorang perempuan? Aku bukan cewek cantik, pintar apalagi agamanya bagus. Sekarang, keperawananku sudah hilang gara-gara laki-laki brengsek itu.
Aku menangis meratapi apa yang terjadi pada diriku. Aku jijik dengan diriku sendiri. Aku kotor. Terbersit pikiran untuk mengakhiri hidup ini. Aku mencari cara agar aku bisa benar-benar hilang dari dunia yang tidak pernah bersahabat denganku.
Aku mencoba bangkit dan melangkah menuju gerbang keluar lapangan Tegallega. Matahari masih belum menampakkan wujudnya. Jalanan masih belum sebegitu ramai. Aku terus melangkah mencari tempat yang bisa dengan mudah mempercepat niatku ini.
Awalnya aku ingin melakukan niatku ini di Jalan Peta, karena aku sudah lelah melangkah. Tapi aku urungkan. Percuma saja mencoba menabrakkan diri di sini, di jalur ini kendaraan melaju tidak sebegitu cepat. Aku berbalik arah dan menyebrang ke arah Jalan Moh. Toha menuju arah Jalan Soekarno Hatta. Aku pikir kalau Jalan Soekarno Hatta bisa menjadi tempat eksekusi yang paling ampuh untuk melancarkan niatku ini.
Ah… Langkahku terhenti. Ada sesuatu yang aneh di area yang paling sensitif. Selangkanganku sakit. Ada rasa yang berbeda ketika aku melangkahkan kaki. Kepalaku terasa berputar, penglihatanku semakin kabur. Aku bahkan tak tahu ada apa di depanku ini.
Braaak!!!
Awww!!!
Aku berusaha membuka mata. Banyak orang berkerumun di dekatku. Aku mencoba membuka mataku. Aku pikir sudah berada di alam lain, dan sebenarnya itulah yang aku inginkan. Tapi, ternyata dunia masih menerima Si Pendosa ini.
“Minum dulu.”