Bandung, Kota yang Menunda Pulang

Intan Siti Noer Rita Daswan
Chapter #10

Menyapa Lampu Merah Terlama di Indonesia

Aku mengintip ke balik tirai, memastikan semua aman. Pasien di sebelah kiriku nampak tertidur pulas, begitu keluarga yang menjaganya. Pasien di sebelah kanan, lima menit yang lalu dibawa ke ruang tindakan karena mengalami kejang tiba-tiba. Ada satu halangan lagi, pasien di depanku ini, dari tadi sore sering tiba-tiba mengigau dan mengagetkan saja.

“Rek kamana siah?”

Jantungku berdetak kencang. Aku menghentikan langkah, mencari sumber suara. Aaah… aku kira ada perawat atau satpam, ternyata pasien di depanku. Laki-laki tua berumur 60 tahunan itu memang menyebalkan. Tidak hanya pasiennya, keluarga yang menjaganya pun membuatku jengah. Aku sempat tersinggung karena salah satu keluarganya memandang ke arahku dengan ekspresi menghina. Bahkan, ada yang berani bilang kalau aku ini kotor dan bau.

“Ibu sama anak sama aja. Ibunya dandanannya kayak wanita nggak bener, eh anaknya sampai nggak keurus kayak gitu,” ujar seorang perempuan berusia 20 tahunan, sepertinya anak dari pasien yang sering ngigau itu.

“Kalau dari tampilannya sih kayak anak jalanan, ih hoream teuing sakamar jeung jelema model kitu,” ibunya menimpali sambil menutup gordennya rapat-rapat diikuti tawa keduanya.

“Cicing! Tong garandeng!” teriak pasien laki-laki itu.

Aku menahan tawa mendengar teriakan lelaki tua itu. Mungkin Pak Tua itu masuk Rumah Sakit karena terserang darah tinggi dikelilingi dua wanita yang mulutnya nggak pernah disekolahin.

Aku memilih untuk duduk sebentar, sambil memerhatikan kondisi sekitar. Aku buka tirai sedikit, mengontrol setiap pergerakan. Ah, rasanya malam ini bukan waktu yang tepat untuk melarikan diri. Aku pun memilih untuk merebahkan diri di atas kasur. Sebenarnya enak juga sih di sini bisa tidur di atas kasur yang empuk, makan diantar tepat waktu. Kamar mandi juga bersih, meski satu ruangan ada 5 pasien, tapi setidaknya cukup terawat dan lengkap dengan alat mandi yang sudah disediakan.

Tapi, tempatku bukan di sini. Aku lebih nyaman hidup di jalanan. Mau makan atau tidak, itu urusan belakangan. Bagiku, aku bisa bebas dan tidak terkekang dengan aturan. Dan, satu lagi, aku tidak dipandang aneh ditengah orang-orang yang merasa sok bersih.

Malam ini aku benar-benar tidak bisa memejamkan mata. Aku terus memperhatikan jarum jam bergerak. Rasanya lama sekali menuju shubuh. Aku yakin ketika shubuh akan ada pergantian shift karyawan, dan saat itulah waktu yang tepat untuk menghilang dari ruangan ini.

Jam 4 shubuh. Terdengar sayup-sayup adzan dari masjid Rumah Sakit. Perlahan aku berjalan mendekati pintu. Memastikan semua orang masih terlelap di ruangan itu. Aku berusaha berjalan senormal mungkin agar orang mengira aku ini keluarga pasien yang akan pulang.

Ah! Ternyata mudah juga untuk keluar dari Rumah Sakit. Aku melangkah menjauh dari Rumah Sakit Muhammadiyah. Entah mau kemana. Tapi yang pasti, aku ikuti saja langkah kaki ini. Di perempatan jalan, aku sempat bingung, apa aku harus belok kanan ke arah Jalan BKR dan kembali ke rumah? Atau aku lurus saja ke Jalan Buah Batu?

Aku terdiam sesaat di perempatan lampu merah Buah Batu. Ingin rasanya aku menyetop angkot Margahayu – Ledeng yang aku tahu pemberhentian terakhirnya di dekat Metro Indah Mall atau ada juga yang menyebutnya Metro Trade Centre. Tapi, aku harus mencari dimana rumahnya? Aku hanya tahu namanya Tante Arin. Dari sejak bayi hingga aku lulus SD, aku hanya bertemu sekali ketika kami berlibur ke Bandung 8 tahun yang lalu, itupun hanya hitungan menit saja.

Lihat selengkapnya