Mataku menatap ke sekitar tempatku duduk. Sebuah ruangan berukuran 3x2 meter. Ada sebuah TV tabung berukuran 14 inci. Di depannya ada dua kursi rotan yang bantal alas duduknya sudah tidak jelas lagi warnanya. Meja kecil disimpan di antara kursi rotan. Tampak ada 2 botol bir merek murahan yang sudah kosong. Sampah kulit kacang dan juga puntung rokok berserakan dimana-mana.
Aku melangkah ke arah pintu. Rasanya ini bukan tempat yang aman. Aku harus segera melarikan diri dari sini sebelum semuanya terlambat.
Tapi, tiba-tiba terdengar pintu dibuka dari luar. Deg… jantungku berdegup lebih kencang. Kenapa harus bertemu orang ini lagi.
Ternyata orang suruhan Si Brewok sudah mengikutiku sejak keluar dari Rumah Sakit. Ia mencari kesempatan untuk menjebakku. Ia juga sudah mengatur rencana dengan Si Jeki untuk menangkapku dan menyerahkan kepada Si Brewok. Benar apa kata Bu Ira, tidak mudah untuk lari dari Si Brewok.
“Ti mana wae ari maneh?” tanyanya sambil menarik rambutku.
Aku berusaha melepaskan tangannya. Tapi, cengkeramannya terlalu kuat hingga aku tidak bisa berkutik sedikit pun.
“Geus Kang, tong galak teuing ka budak teh. Beuki males eta budak neangan duitna!”
Seperti tak menghiraukan ucapan lelaki di sebelahnya, tangannya masih mencengkeram erat rambut panjangku. Aku dipaksa berjalan keluar dan disuruh duduk di atas motor. Aku kira lelaki tadi tidak akan ikut, ternyata ia mengapitku hingga tidak ada celah bagiku untuk kabur.