Bandung, Kota yang Menunda Pulang

Intan Siti Noer Rita Daswan
Chapter #12

Kapan Tuhan Tersenyum Kepadaku?

Aku melepas perlahan pelukan Ina. Terdengar bunyi perut Ina. Aku baru sadar kalau tadi ia bilang belum makan.

“Ina tunggu di sini, Teteh belikan makanan sebentar ya.”

Aku setengah berlari meninggalkan Ina. Tujuanku adalah Warung Nasi Bu Haji yang letaknya tidak jauh dari kontrakan. Aku berjalan ke belakang Museum Sri Baduga. Aku juga ingin sekalian bertanya tentang Bu Ira. Tidak mungkin kalau Bu Haji tidak tahu, karena hampir setiap hari Bu Ira bertemu dengan majikannya itu.

Aku mempercepat langkahku. Tapi, baru saja aku berbelok ke arah jalan besar, ternyata warung nasinya tutup. Aku semakin berpikiran negatif kepada Si Brewok. Selama aku tinggak di sini, sangat jarang warung nasinya Bu Haji itu tutup, selain hari raya. Bahkan ketika menikahkan putrinya saja, warung nasinya tetap buka dan dijaga oleh Bu Ira bersama dengan orang kepercayaan Bu Haji yang lainnya. Sepertinya ada yang janggal.

Sebenarnya aku sangat penasaran dengan ini semua. Tapi, saat ini yang terpenting mencari makanan dulu untuk Ina. Aku pun berbelok ke Jalan Inhoftank. Aku tahu di depan ruko-ruko dekat perumahan, ada banyak pedagang makanan. Aku pun bergegas ke sana.

Ada penjual nasi campur dengan menggunakan gerobak di dekat Cendol Elizabeth. Ternyata harganya murah dan porsi nasinya banyak. Aku ingin membelikan makanan enak buat Ina. Aku ingat ada uang 50 ribu dari hasil ngamen di perempatan Buah Batu kemarin.

Ayam goreng, sayur sop, perkedal kentang dan juga kerupuk. Aku pun sengaja melebihkan nasinya agar Ina bisa kenyang makannya. Dengan langkah buru-buru, aku kembali ke kontrakan. Aku membayangkan Ina akan senang karena dibelikan makanan enak. Aku juga tadi sempat mampir di toko sebelum berbelok masuk ke gang kontrakan untuk membeli dua susu kotak rasa coklat.

Tapi, langkahku terhenti ketika baru saja masuk ke gang. Orang-orang berkerumun di depan kontrakan. Aku berlari menerobos kerumunan orang. Badanku lemas melihat tubuh Ina tergeletak di lantai bersimbah darah.

Aku berteriak sekencang-kencangnya. Aku berusaha mencari tahu apa yang terjadi. Kenapa secepat itu? Aku ingin membuat adikku bahagia dengan makan makanan enak.

Aku bersimpuh di hadapan tubuh kecil Ina. Air mataku benar-benar tak bisa kusembunyikan. Berarti pelukan erat tadi itu ialah pelukan terakhir. Aku menatap wajah yang tak berdosa.

Kata orang-orang di situ, lelaki brengsek itu datang dalam keadaan mabuk dan mencariku. Karena tidak melihatku, Ina menjadi sasaran kemarahannya. Ina diangkat dan dibenturkan ke dinding hingga tak sadarkan diri. Ina sempat beberapa kali minta tolong. Orang-orang pun sudah mencegahnya, tapi malah ada tetangga yang kena lempar botol bir yang sedang dipegangnya. Si Brewok berhasil melarikan diri sebelum polisi datang.

Aku terdiam mendengar cerita dari orang-orang. Aku hanya bisa menghela napas panjang. Sekarang, aku benar-benar tidak memiliki alasan lagi untuk hidup. Membalas dendam? Tidak. Aku sudah tidak punya keinginan untuk bertemu dengan lelaki itu.

Aku terperanjat ketika suara sirine ambulance terdengar jelas. Beberapa orang polisi dan juga petugas dari Rumah Sakit masuk ke dalam kontrakan. Aku diminta menjauh. Jasad Ina ditandu untuk dibawa ke Rumah Sakit Hasan Sadikin untuk diautopsi. Aku hanya bisa termangu menatap tubuh mungil itu tertidur untuk selamanya.

“Di sini ada keluarganya?” tanya salah seorang polisi.

“Saya kakaknya,” jawabku lirih.

Lihat selengkapnya