Di sepanjang perjalanan dari pemakaman, Mang Heru bercerita kenapa sampai Bu Ira masuk ke penjara. Tidak ada yang mengira, semua pengorbanan yang ia lakukan untuk suaminya harus dibalas dengan dinginnya ruang penjara.
Pagi itu, ketika mentari masih malu-malu menampakkan diri, tampak seorang perempuan dengan dandanan yang semua orang sudah bisa menghakimi siapa dia, berjalan dengan langkah lunglai. Tatapan setiap orang yang berpapasan dengannya menyaratkan begitu hina dirinya. Tak bisa dipungkiri memang, masih banyak dari kita yang sok tahu dengan kondisi orang lain. Meskipun sebagai manusia kita hanya bisa menerka tanpa tahu apa alasan mengapa ia seperti itu. Tak jarang terlalu dangkal kita mengomentari penampilan orang dari yang hanya terlihat tanpa bertanya lebih dalam ada apa dengan alur kisah hidupnya.
Perempuan berusia 30 tahun itu menanggung begitu banyak beban di hidupnya. Ia melangkah masuk ke gang menuju kontrakannya. Tatapannya matanya kosong, pikirannya masih tertinggal di Rumah Sakit. Bahkan ia tidak menyadari sejak masuk gang tadi, orang suruhan Si Brewok sudah mengikutinya dari belakang.
“DARI MANA AJA, IRA!” teriak Si Brewok sambil menarik rambut perempuan yang seharusnya diperlakukan dengan baik.
Bu Ira yang biasanya diam, kali ini ia membalas sikap suaminya itu. Pikirannya yang sedang tak menentu membuatnya tidak bisa mengontrol emosi. Ia mengibaskan tangan Si Brewok dan juga menghadiahkan tamparan yang sangat keras.
Si Brewok tidak tinggal diam, ia mendorong tubuh Bu Ira. Melihat tubuh perempuan yang sudah 5 tahun dinikahinya itu ambruk, ia merebut tas tangan yang ada di genggaman tangan Bu Ira. Ia membuka tasnya, berharap ada lembaran rupiah yang bisa ia ambil. Tapi, ternyata tidak ada selembar rupiah pun di dalam tasnya Bu Ira.
“Mana duit hasil malam ini, Ira?”