Bandung, Kota yang Menunda Pulang

Intan Siti Noer Rita Daswan
Chapter #14

Sepiring Nasi Goreng dan Segelas Es Cendol Elizabeth

“Neng Ines dimakan dulu ya, kayaknya dari tadi pagi belum makan!” ujar Istrinya Mah Heru.

Aku masih termangu dengan tatapan mata kosong. Sepulang dari pemakaman aku memang tidak banyak bicara, apalagi mendengar cerita Mang Heru tentang penyebab Bu Ira masuk penjara. Sepertinya Si Brewok itu bukan manusia, ia lebih tepat dipanggil iblis.

“Kayaknya Neng Ines lebih enak mandi dulu, biar segar,” saran dari istrinya Mang Heru, “Neng Ines mau ganti pakai baju saya? Kebetulan ada yang udah kekecilan.”

Aku pun mengangguk pelan. Sepertinya memang aku harus mandi. Sudah hampir seminggu badanku tidak tersentuh air. Mungkin dengan disiram air, aku bisa melupakan sedikit beban hidupku.

Istrinya Mang Heru memberiku baju dan juga kresek kecil berisi sabun, sampo, dan sikat gigi beserta pastanya. Sepertinya baru semua. Apa dia sengaja beli? Ah, tidak penting bagiku bertanya. Sekarang yang terpenting aku bisa membersihkan badanku.

Aaah…. Aku merasa ada rasa yang berbeda ketika air mulai membasahi tubuh. Semua beban seakan-akan hilang, meski mungkin hanya untuk sementara. Aku tak sadar, sudah hampir setengah jam berada di kamar manid. Untunglah tidak ada yang menggedor-gedor pintu kamar mandi.

Arrggg! Selangkanganku terasa sakit. Ada bercak darah di celena dalamku. Aku mulai berpikir ada sesuatu yang salah dengan tubuhku. Tapi, aku tepis itu semua. Aku mencoba untuk tidak memikirkan itu lagi.

Selesai berganti baju dengan baju pemberikan istrinya Mang Heru, aku keluar dari kamar mandi. Tidak lupa aku memasukkan baju kotor ke dalam kantong plastik yang aku minta dari istrinya Mang Heru sebelum mandi tadi.

“Wah, terlihat lebih segar ya, Nes?” seru istrinya Mang Heru.

Lihat selengkapnya