Bandung, Kota yang Menunda Pulang

Intan Siti Noer Rita Daswan
Chapter #15

Semangkuk Cuanki di Depan Pusdai

Cahaya rembulan menerangi langkah kakiku. Bulan purnama terlihat indah dan memesona. Bintang-bintang pun bertaburan menambah cantiknya langit malam kota Bandung.

Jalanan ramai dengan kendaraan. Aku baru tersadar, ini adalah malam Minggu, waktu dimana orang-orang menghabiskan waktu untuk refereshing setelah seminggu bekerja. Wajah-wajah ceria terlihat dari wajah muda-mudi yang berjalan dengan pasangan mereka. Wangi parfum dari orang-orang yang melintas pun menambah semakin romantisnya malam ini. Make up tebal para perempuan menyiratkan malam menjadi memiliki nyawa tersendiri.

Aku di sini di pelataran Masjid Pusdai. Setelah luntang-lantung mencari tempat untuk bisa menghindari dari lelaki brengsek yang dengan beraninya menampakkan diri di kontrakan padahal sebelumnya sudah menghabisi nyawa anaknya sendiri di rumahnya sendiri. Ketika Mang Heru memberi tahu, aku memang memutuskan untuk terus berjalan mencoba menyusuri Jalan Moch. Toha. Aku berhenti di depan PT. INTI. Dengan kondisi pikiranku yang masih tidak menentu, aku langsung saja meminta tumpangan angkot yang aku kenal.

Aku baru tersadar, kalau aku berada di sekitar PUSDAI. Masjid yang berada tidak jauh dari Gedung Sate ini memang terlihat lebih rapi dan tertata. Aku duduk di teras, tepatnya bersandar di salah satu pilar. Sebenarnya aku ingin sekali duduk selonjoran atau mungkin tiduran, tapi sangat tidak mungkin dengan kondisi bajuku yang seperti ini. Orang-orang saja menghindar untuk dekat denganku.

“Neng ini ada cuanki buat Neng.”

Tiba-tiba salah seorang pedagang cuanki yang biasa nongkrong di teras Masjid menyodorkan semangkuk cuanki. Aku mengerutkan kening. Karena merasa tidak memesan, aku menggelengkan kepala. Tapi, pedangan cuaki itu mengatakan kalau ada seseorang yang memesankannya untukku. Ia menunjuk ke perempuan berkerudung merah muda. Tapi aku tidak bisa mengenalinya karena posisinya membelakangiku.

Tiba-tiba ia menoleh ke arahku. Tapi, sayang masker menutupi wajahnya. Aku berharap ia membuka maskernya, hanya untuk mengenali orang berhati malaikat itu.

Tiba-tiba ia membuka maskernya sebentar, melempar senyum lalu mengangguk ke arahku. Sepertinya aku pernah melihatnya. Aku mencoba mengorek ingatanku. Aku menatapnya lama. Matanya sipit, wajahnya putih bersih, dan ketika ia tersenyum, terlihat jelas lesung pipinya.

Tapi, belum sempat aku menghampirinya, ia sudah beranjak dan melambaikan tangan ke arahku. Ia berjalan menuju tempat parkir. Aku terus memperhatikannya. Sebenarnya aku ingin mengejarnya, mengucapkan terima kasih. Tapi, pedagang cuanki mengingatkanku untuk segera menghabiskan cuakinya karena ia akan berpindah tempat.

Aku mengangguk. Setelah berlari sekuat tenaga, aku memang merasa sangat lapar. Hanya dalam hitungan menit, mangkuk yang tadinya berisi mie, dua pentol, tahu, dan juga siomay, kini bersih tak tersisa sedikit pun.

Baru saja aku serahkan mangkuk kepada Mamang penjualnya, pandanganku tertuju ke tempat parkir. Aku berharap perempuan berkerudung merah muda itu masih di situ. Tapi, tiba-tiba ada sosok yang sangat aku kenal di dekat gerbang masuk masjid. Tanpa pikir panjang, aku lari meninggalkan kedua perempuan yang berkerudung itu. Aku harus mencari tempat yang aman dari orang itu.

Napasku tersengal-sengal. Perutku terasa sakit karena baru saja diisi, dan sekarang dipaksa berlari sekencang-kencangnya. Aku mencari jalan agar bisa keluar dari area masjid. Aku terus berlari ke arah Jalan Surapati. Aku sudah tidak kuat lagi. Aku memilih untuk duduk di depan sebuah minimarket.

Tenggorokanku terasa kering. Aku baru sadar setelah makan cuanki tadi memang aku belum minum sama sekali. Tidak ada uang sepeserpun yang aku punya. Setan mulai membisikkan jalan keluar yang cepat. Aku tersenyum getir. Apa aku akan menambah dosaku lagi? Aku mengurungkan niatku.

Tapi, kenapa pula aku harus takut dengan dosa? Toh selama ini, aku juga sudah lupa bagaimana caranya berdoa. Aku mendatangi masjid hanya sekadar ingin mencari tempat yang adem untuk berteduh atau sekadar berharap mendapat makanan di hari Jumat atau ketika ada acara pengajian.

Hitam mulai merata di langit. Sudah bisa dipastikan sebentar lagi hujan akan turun. Aku menyandarkan kepala ke tembok. Lelah sekali tubuhku beberapa hari ini. Tanpa terasa mataku perlahan-lahan terlelap.

“Dek?”

Baru saja aku ingin merehatkan tubuh ini, aku merasa ada usapan tangan di bahuku. Tanganku langsung mengucek-ngucek mata yang sudah memaksa menutup. Aku menguap dan memandang orang yang ada di hadapanku.

Lihat selengkapnya