Aku tidak tahu kedua lelaki jahat ini akan membawaku kemana. Menelusuri fly over Pasopati, angin kencang beberapa kali menyibak rambutku yang terlepas ikatannya.
Aku kira kedua lelaki ini akan membawaku ke daerah Dago. Tapi, ternyata berbelok ke arah Cihampelas, lalu menuju Jalan Cicendo. Motor terus melaju ke Jalan Kebon Kawung. Perasaanku semakin tak menentu ketika motor berbelok ke kiri ke Jalan Hos Cokroaminoto dan berbelok lagi menujun Jalan Kebon Jati.
“Rek dibawa kaman urang?” tanyaku setengah berteriak sambil memberontak minta
Aku dipaksa turun dan masuk ke sebuah rumah. Sebuah kantong kresek hitam dilempar ke depan mataku. Awalnya aku tidak mau menyentuh kresek itu. Tapi, lelaki itu memaksaku untuk memakai apa yang ada di dalam kresek tersebut. Air mataku menetes ketika melihat baju dengan model yang hampir sama dengan yang dipakai Bu Ira ketika bekerja menjadi pekerja seks komersial. Hot pants, baju tanpa lengan yang sangat ketat dengan warna merah merona, dan sepasang high heels.
Tiba-tiba terdengar pintu dibuka. Muncul seorang perempuan yang berpenampilan tidak beda jauh dari Bu Ira. Ia menghampiriku dan membuka tempat kosmetik yang ia bawa.
“Aku dandanin kamu dulu,” ujarnya sambil menaruh tas kecilnya di atas meja
Dengan cekatan perempuan dengan wangi parfum yang snagat menusuk hidung itu, merias wajahku. Sesekali ia tersenyum dan menatapku.
“Kamu cantik loh,” pujinya.
Aku tidak merespon ucapannya. Pujian itu tidak membuatku bahagia, tapi menambah beban pikiranku. Apa aku akan seperti Bu Ira? Apa aku tidak bisa menjadi perempuan seperti layaknya orang normal lainnya? Bukan tempat seperti ini yang aku inginkan. Meskipun aku pernah melakukan dosa yang sama bersama Si Jojo.
“Neng,” ujar wanita ini menyerahkan selembar tissue.
Awalnya aku tidak paham. Tapi, setelah tissue itu ada di atas telapak tanganku, akhirnya aku paham. Ada tulisan yang sepertinya sudah ia siapkan sebelum masuk ke rumah ini. Ia tersenyum kepadaku. Kali ini aku membalas senyumannya sambil menganggukkan kepala.
“Farah! Udah beres belum dandanin Si Ines?” teriak lelaki bertato itu.
“Iya, Bang, sebentar lagi!”
Perempuan yang dipanggil Farah itu mengajakku berdiri dan melangkah menuju pintu. Aku hanya mengikuti dari belakang. Aku tidak berani menatap kedua lelaki yang entah dimana letak hatinya.
“Bang, biar Ines ikut aku, dia kan belum tahu situasi di sini.”
Perempuan berambut ikal sebahu itu memberi kode kepadaku. Ia memegang erat tangan kananku sambil berjalan agak cepat.