Bandung, Kota yang Menunda Pulang

Intan Siti Noer Rita Daswan
Chapter #17

Sebuah Ironi Perjalanan Hidup

Sesampainya di tempat kost, Farah langsung masuk ke kamar mandi. Tak berselang lama, ia keluar dan sudah berganti dengan baju daster. Ia kemudian mengambil sesuatu yang membuat mataku terbelalak. Dan, ketika ia mulai memakainya dan melakukan gerakan yang aku sendiri sudah lupa lagi kapan terakhir kali aku melakukannya.

Aku memerhatikan air mata Farah membasahi pipinya. Ia terlihat sesegukan. Aku yang sejak tadi melihat apa yang dilakukan Farah, tak kuasa menahan air mata ini.

"Ines, mau mandi? Nanti pakai baju aku saja.”

Aku pun mengangguk dan langsung beranjak masuk ke kamar mandi. Aku berusaha untuk menahan semua pertanyaan yang sebenarnya ingin aku utarakan. Mungkin setelah ini aku bisa banyak mengobrol dengan Farah.

“Nes, ini aku bikinkan mie instan. Kita makan bareng yuk sambil aku nunggu adzan shubuh.”

Tanpa banyak komentar, aku pun melahap semangkuk mie instan yang dibuatkan Farah. Kami berdua makan tanpa ada yang berbicara. Bibirku terasa berat untuk memulai percakapan dengan Farah. Mangkuk kami sudah sama-sama kosong. Farah langsung menyuguhkan susu hangat kepadaku.

Tiba-tiba terdengar suara adzan. Farah mengambil sajadah dan menggelarnya di tengan ruangan. Ia meminta izin untuk sholat shubuh. Seperti halnya tadi, ia pun melakukan hal yang sama, sujudnya begitu lama dan air matanya tidak bisa terbendung.

“Nes, kamu pasti aneh ya lihat aku. Tadi aku menjual diri, melakukan dosa yang mungkin tak akan diampuni. Tapi, setelah sampai kostan, aku sholat. Kadang aku sendiri juga bertanya, apa aku ini waras atau nggak? Tapi, aku ingin berubah, ingin jadi orang baik, takut keburu mati. Aku malu dengan pekerjaan haramku, Nes.”

Aku tidak berani berkomentar. Aku membiarkan Farah bercerita semua yang ingin ia ceritakan. Sebenarnya Farah itu berusia sama dengan Bu Ira, tapi ia tidak ingin dipanggil Ibu. Awahnya, ia menyuruhku memanggil nama, alasannya ia tak pantas dipanggi Teteh atau Ibu karena tingkahnya masih seperti anak-anak yang tidak bisa membedakan mana baik atau buruk. Aku memaksanya memanggil Ibu, namun ia bersikeras menolaknya. Akhirnya ia mengizinkan untuk memanggilnya Teteh saja. Aku pun menurutinya.

Lihat selengkapnya