Farah menyalakan motor honda beat-nya. Ia pun tidak lupa membersihkan dua helm berwarna putih. Ia berikan satu kepadaku. Aku langsung memakainya. Sebelum berangkat, Farah juga meminjamiku jaket, katanya agar tidak kedinginan di jalan.
“Anginnya kencang kalau jam segini. Dari sini ke daerah Soekarno Hatta lumayan jauh juga.”
Meskipun ukuran jaketnya kebesaran, tapi aku tidak berkomentar apapun. Saat ini yang ada di pikiranku adalah bisa bertemu Mama dan adikku. Aku tidak mungkin melewatkan kesempatan emas ini. Aku sudah membayangkan bisa memeluk erat Mama dan mencium tangannya.
Perjalanan dari tempat kost Farah di Jalan Kebon Jati menuju Jalan Soekarno Hatta sebenarnya tidak terlalu jauh. Melewati alun-alun, Tegallega, lalu mengambil Jalan Soekarno Hatta, hingga akhirnya sampai di kawasan Metro Trade Center. Mataku memerhatikan kiri kanan di sepanjang perjalanan. Farah mengarahkan motornya ke pintu belakang kawasan pertokoan tersebut. Masuk ke sebuah perumahan besar. Kami melewati sebuah masjid yang lumayan besar. Farah berbelok ke kiri. Tidak jauh dari masjid, ada sebuah rumah bercat hijau. Farah memarkirkan motornya tepat di depan rumah tersebut.
Rumahnya tidak terlalu besar, tapi juga tidak terlalu kecil. Di depan ada taman kecil yang dipenuhi pot-pot berisi tanaman bunga mawar, melati, lidah mertua dan juga beberapa tanaman kuping gajah. Pintu rumahnya terbuka. Itu artinya si pemilik rumah sedang ada dan tidak sedang beristirahat.
Farah mengucap salam beberapa kali. Tampak seorang perempuan berjilbab berusia 25 tahunan keluar dari dalam rumah. Perempuan berkacamata itu segera menghampiri kami. Tatapan matanya langsung tertuju padaku.
“Annisa? Kamu Annisa anaknya Kak Hana, kan?”
Ia langsung memelukku. Aku tak kuasa menyembunyikan rasa haruku. Dalam dekapan Tante Arin mataku terus aku arahkan ke dalam rumah. Aku berharap akan ada yang memanggilku lagi. Tapi sudah hampir sepuluh menit kami berada di teras rumah, aku tidak mendengar suara yang sudah setahun ini aku rindukan.