Bandung, Kota yang Menunda Pulang

Intan Siti Noer Rita Daswan
Chapter #19

Akhirnya Aku Bertemu Mama

Tante Arin menyuruh Farah untuk memasukkan motornya. Ia mengajak kami ikut dengan mobil saja, katanya agar tidak panas. Aku dan Farah mengiyakan saja. Apalagi aku yang tidak bisa lagi berpikir apapun, karena yang ada dalam pikiranku hanyalah ingin secepatnya bertemu dengan Mama.

Mobil melaju keluar dari perumahan. Jalur yang lumayan agak padat membuat mobil yang dikemudikan Tante Arin juga tidak bisa melaju dengan cepat. Aku sudah tidak sabar ingin segera sampai di tempatnya Mama.

Sepanjang perjalana Tante Arin memilih diam. Berbeda jauh ketika kami sampai di rumahnya tadi. Sesekali ia melirik ke arahku. Aku pun tanpa sengaja melirik ke arah Tante Airn. Bulir air matanya tidak bisa ia sembunyikan. Beberapa kali terlihat Tante Arin menyeka pipinya. Aku tidak paham dengan sikap Tante Arin. Dalam hatiku ingin sekali bertanya banyak, tapi aku masih sungkan karena ini adalah kali pertamaku bertemu dengannya secara langsung. Meskipun aku yakin Tante Arin itu orangnya baik sekali.

Perasaanku mulai tidak enak ketika mobil memasuki kawasan pemakaman umum. Aku melirik ke arah Tante Arin. Dari tatapan mataku, sepertinya Tante Arin mengerti apa yang aku pikirkan.

“Kita udah sampai,” ujar Tante Arin dengan terbata-bata.

“Tante, jangan bilang kalau Mama udah meninggal. Aku masih ingin bersamanya!” teriakku.

Tante Arin menghela napas. Ia memelukku erat sambil sesekali mengelus lembut punggungku. Tangisku tak bisa lagi aku tahan. Aku mengutuk diriku sendiri. Aku benci dengan alur cerita hidupku. Kenapa Tuhan begitu jahat kapadaku, bisikku dalam hati. Aku hanya ingin bertemu dengan Mama, tapi kenapa aku tidak diberi kesempatan untuk merasakan kebahagiaan ini. Tangisku semakin kencang.

“Nes, mamamu masih ada,” ujar Tante Arin sambil pelan-pelan melepas pelukannya.

“Maksud Tante Arin?”

Aku terdiam sambil menyeka air mata di pipi. Aku menatap Tante Arin dengan perasaan sedikit kesal. Kenapa ia tidak menceritakan dari tadi sebelum aku berpikir yang tidak-tidak.

Lihat selengkapnya