Sebelum sampai di tempat kost, Farah berbelok ke sebuah toserba. Tanpa banyak komentar, aku mengikutinya dari belakang dengan langkah lunglai. Pikiranku masih ada di pemakaman tadi. Aku masih belum bisa menerima keadaan Mama yang sekarang.
“Nes, aku akan belikan kamu alat make up dan juga baju ini. Ini semua buat ngelabuin Si Brewok. Aku yakin pas kita nyampe, Si Brewok ada di tempat kostku. Aku janji nggak akan biarkan kamu terjatuh ke dunia ini. Aku sudah janji sama Ira buat jagain kamu, karena aku telah gagal menjaga Ina.”
“Ya, Teh. Nuhun,” ujarku hampir tak terdengar.
Aku menatap wajah Farah. Dia orang baik tapi terjebak keadaan yang membuatnya melakukan pekerjaan tidak halal. Terkadang memang kita dihadapkan pada situasi yang sulit untuk memilih. Sama denganku, mungkin orang-orang akan mengatakan mengapa aku meninggalkan semua kemewahan dan hidup di jalanan. Karena bagiku bisa bersama dengan orang yang telah kutinggali rahimnya, jauh lebih mewah daripada apapun.
Setelah membeli semua barang yang dibutuhkan, Farah langsung mengajakku pulang. Tidak seperti pas berangkat tadi, perjalanan pulang dari daerah Soekarno Hatta menuju Kebon Jati terasa cepat.
“Pokoknya kamu nggak usah banyak bicara dulu dengan Si Brewok. Semuanya apa kata aku saja. Kamu ikuti saja apa yang aku katakana ya, Nes,” ujar Farah di motor.
“Iya, Teh,” aku menjawab setengah berteriak agar terdengar.
Benar saja apa kata Farah. Dari kejauhan terlihat Si Brewok dan Si Petet sudah duduk di teras kostan Farah. Mereka sedang asyik merokok sambil menikmati kopi kemasan.
“Eh, ada bos Brewok. Udah lama nih, Bos?”