“Ayo masuk!” lelaki itu menyuruhku masuk.
Pintu mobil dibukakan oleh supir. Tanpa banyak penolakan, aku menurut saja masuk ke dalam mobil. Sebenarnya aku merasa risih dengan baju yang aku kenakan. Ditambah dengan riasan yang menurutku persis seperti wayang orang.
Pintu ditutup. Aku melihat ke luar mobil, tampak Farah menatap mobil hingga menjauh dari pandangannya. Hati kecilku, Farah itu orangnya baik. Aku merasa ia memang mencoba menyelamatkanku dari kedua lelaki brengsek itu. Tapi, untuk kali ini, rencananya masih belum terwujud. Tadinya ia ingin aku bisa melarikan diri sebelum ada orang yang nge-booking-ku. Ah, tapi kali sudah terlambat semuanya. Apa aku harus pasrah saja dengan takdir yang telah digariskan untukku?
“Nes?”
Deg… Aku kaget karena ada suara perempuan memanggilku dari jok belakang.
“Nes, kamu nggak kenapa-kenapa?”
Aku melirik ke arah jok belakang. Tampak Kak Ifa dan Kak Sarah duduk di sana. Aku tak bisa lagi membendung air mat aini. Mereka menyelamatkanku lagi. Apa ini sebuah kebetulan atau memang ada yang mengaturnya? Mengatur? Apa benar Tuhan itu ada? Ah, sudahlah, untuk saat ini, aku tidak ingin terlalu banyak berpikir.
“Kak, kok bisa ada di sini?” tanyaku sambil terisak.
“Ini semua ide orang yang ada di sebelahmu,” jawab perempuan berlesung pipi itu.
Aku melirik ke arah lelaki yang sejak tadi wajahnya ditutupi masker dan kacamata hitam. Aku memerhatikan lamat-lamat. Siapa lelaki di sebelahku ini?
Perlahan, ia membuka kacamata dan juga maskernya. Aku benar-benar tak percaya karena orang ini masih mau membantuku. Tangisku semakin menjadi-jadi. Ia menepuk bahuku pelan-pelan.
“Terima kasih sudah bantu aku, Bang,” ujarku lirih, “Abang mau memaafkanku?” tanyaku.
“Sejak kapan seorang Haris menyimpan dendam. Aku bertanggung jawab atas keselamatan anak-anak Alun-alun dan Braga,” jelas Bang Haris, “Nes, sebenarnya orang yang harus kamu ucapkan terima kasih itu Kak Ifa dan Kak Sarah. Kamu tahu ide gila untuk menjadi orang yang akan nge-booking kamu, terus bela-belain Kak Ifa ngeluarin uang 500 ribu agar kamu bisa ikut aku, ditambah lagi aku akhirnya bisa merasakan naik mobil mewah, padahal biasanya hanya angkot atau bus kota, kan?”
Semua tertawa mendengar kata-kata terakhir Bang Haris. Aku pun sudah mulai bisa tersenyum. Lega rasanya bisa terlepas dari perangkap Si Brewok. Meskipun keadaan masih belum aman, tapi setidaknya aku bisa bernapas lega sesaat.
Di dalam mobil aku lebih banyak diam. Kejadian demi kejadian beberapa hari ini membuatku lelah. Meskipun sejak tadi Bang Haris mencoba mengeluarkan guyonan-guyonan dengan gaya bicara Sumatera Utara yang sudah bercampur Sunda, membuat Kak Ifa dan Kak Sarah serta supirnya tertawa terpingkal-pingkal, sedangkan aku hanya bisa tersenyum saja.
“Kak, Kakak yakin kan nggak ada yang ngikutin atau mungkin tadi sempat memfoto nomor polisi mobil ini?” tanyaku tiba-tiba.
“Nes… Nes… Haris dilawan. Aku bisa lebih kriminal dari Si Brewok. Aku udah pikirkan matang-matang rencana penjemputan kamu ini. Mulai dari ganti pakai nomor polisi palsu, terus di belakang ini ada beberapa motor, ada orang-orangku yang mengawasi, kalau sampai Si Brewok itu ngikutin kita.”
Aku tersenyum. Seharusnya ketakutanku ini tidak muncul. Mantan narapidana yang sudah 3 kali ngebacok orang ini, memang selalu punya ide yang cemerlang. Bulan lalu saja, Bang Haris bisa menyelamatkan Si Karin dari kejaran polisi karena ketahuan mencuri dompet salah seorang pengunjung Pameran Buku di Landmark Braga. Meskipun setelah itu, Si Karin habis dimarahin dan mendapat dampratan dari Bang Haris.
“Nes, untuk sementara kamu harus keluar dari kota ini dulu. Biar kamu aman dulu dari Si Brewok. Aku yakin dalam beberapa hari dia pasti akan ada yang nyariin kamu,” ujar Bang Haris.