Sudah hampir satu bulan aku berada di tempat kost milik Kak Ifa. Pagi ini seperti ada yang aneh dengan badanku. Dari semalam aku merasa mual dan tidak nafsu makan. Aku juga merasa sudah dua bulan sejak kejadian terhina di Taman Tegallega itu, aku belum merasakan siklus haidku. Perasaanku mulai tidak menentu.
Aku mengambil jaket dan juga topi yang ada di gantungan. Hatiku berbisik, aku harus segera ke apotek. Aku menuruni anak tangga dengan jantung berdetak kencang. Jalanan masih terlihat sepi karena masih jam 6 pagi. Sejak sebulan aku tinggal di kostan, baru kali ini aku keluar dari kamar. Aku melirik ke kiri dan kanan, berharap ada apotek terdekat. Ah, untunglah, di seberang sana, sepertinya ada sebuah apotek yang buka 24 jam. Aku langsung melangkahkan kakiku dengan cepat.
Hanya butuh sepuluh menit, aku sudah berada di tempat kost lagi. Aku langsung menuju kamar mandi, untungnya aku belum makan dan minum apapun sejak bangun tidur tadi.
Aaarggg!!!
Aku menutup mulutku. Air mataku langsung membasahi pipi. Aku duduk sambil memeluk kedua lututku di kamar mandi. Aku benci keadaan seperti ini. Mengapa takdir seperti ini yang harus menyapaku.
Tok…tok…tok…
Terdengar pintu kamar diketuk beberapa kali. Aku terdiam. Kalau aku buka pintu, pastinya Kak Ifa akan marah dan mengusirku. Tapi, kalau aku tidak membukanya pun, tetap saja akan sangat mencurigakan. Apalagi Kak Ifa punya kunci cadangan kamar ini. Akhirnya aku memberanikan diri membuka pintu. Aku sudah siap apapun reaksi dari Kak Ifa.
“Nes, kamu kenapa nangis?” tanya Kak Ifa sambil menaruh kantong plastik dari minimarket.
“Kak, Ines minta maaf. Ines siap untuk diusir dari tempat kost ini. Ines juga siap untuk dibenci dan dimarahi oleh Kak Ifa dan Bang Haris,” ucapku sambil terisak.
“Nes, kamu kenapa? Ngomong yang bener?” tanya Bang Haris sambil duduk di sampingku.
Aku tidak bisa menjelaskan kepada mereka berdua. Tanganku meraih test pack yang terjatuh. Aku menyerahkan test pack itu kepada Bang Haris. Meskipun jantungku berdegung semakin tak menentu, tapi aku harus memberi tahu mereka.