Bandung, Kota yang Menunda Pulang

Intan Siti Noer Rita Daswan
Chapter #24

Pergolakan Batin

Di ruang tunggu Klinik Bersalin, aku menyeka air mata yang terus memaksa untuk membasahi pipiku sejak di mobil tadi. Aku haus menannggung malu seumur hidup karena memiliki anak tanpa ayah di usiaku yang masig muda ini. Aku tidak tahu bagaimana caranya menanggapi komentar orang-orang ketika anakku sudah lahir nanti.

“Nes, nggak usah takut. Dokternya itu temanku di Rumah Sakit. Tenang ya,” Kak Ifa mencoba menenangkanku.

Tiba giliran namaku disebut. Aku didampingi oleh Kak Ifa dan Bang Haris. Kami bertiga masuk ke ruangan praktek. Dokternya sangat ramah, begitu pun dua orang bidan yang membantunya. Tapi, karenah pikiranku sedang tidak tenang, aku bahkan tidak tersenyum kepada mereka.

“Oh, masih muda sekali ya. Semoga adek bayinya sehat ya. Akang suaminya?” tanya Dokter nunjuk ke arah Bang Haris.

“Iya, Dok. Saya suaminya Ines. Kami memang baru menikah karena saya tidak ingin dia diambil orang,” jawab Bang Haris sambil tertawa.

“Cinta mati ya, Kang? Tetehnya masih muda, tapi memang cantik, sih.”

Aku menatap ke arah Bang Haris. Aku hanya menganggap itu semua kepura-puraan untuk menutupi aibku. Tidak ada rasa senang dengan ucapannya Bang Haris tadi, tapi hatiku terasa sesak dengan kebaikannya. Ia rela menanggung malu di depan orang yang tidak ia kenal.

“Kandungannya sehat. Tapi, karena usianya masih muda, jadi agak sedikit rentan.”

Lihat selengkapnya