Bandung, Kota yang Menunda Pulang

Intan Siti Noer Rita Daswan
Chapter #25

Ada Takdir yang Tak Bisa Diubah

Aku menutup kembali kain berwarna putih. Akhirnya aku bisa sedekat ini dengan Mama. Tapi, ia tak bisa lagi memelukku apalagi menyapa dan membelai rambutku.

Mendapatkan kabar dari Kak Ifa tadi pagi bagai tersambar petir. Seperti cerita dari Tante Arin, Mama menyakiti dirinya secara berlebihan ketika melihat ada orang yang menghampirinya. Mama mengambil batu dan melemparkan ke kepalanya sendiri. Petugas medis sudah berusaha memberikan pertolongan, tapi takdir kematiannya memang sudah digariskan di hari ini.

Setelah mendengar kabar itu, aku sudah tidak sabar ingin segera menuju Rumah Sakit. Tapi, aku harus bersabar dan menuruti perintah dari Kak Ifa dan Bang Haris. Aku menunggu jemputan untuk menuju ke sana. Di sepanjang perjalanan tangisku tidak bisa dihentikan. Sesak rasanya dada ini harus menerima kenyataan hidup yang begitu menyakitkan.

Mama disemayamkan di rumah Tante Arin. Aku melihat betapa kehilangan yang sangat mendalam dari adik satu-satunya Mama. Tante Arin beberapa kali pingsan dan harus mendapatkan perawatan. Ia masih tidak bisa menerima Mama meninggal dengan cara yang tragis.

Tidak berbeda jauh dengan Tante Arin, aku juga jatuh pingsan ketika mengantar Mama ke peristirahan terakhirnya. Aku bahkan harus langsung dibawa ke Rumah Sakit karena tiba-tiba ada darah di kakiku.

Ketika hati ini masih belum menerima kehilangan Mama, ternyata aku pun harus menerima kenyataan kehilangan jabang bayi dalam perutku. Aku mengalami keguguran karena stress yang berlebihan. Di saat aku sudah mau menerima kehadiran janin di dalam rahimku, ternyata aku tidak diberi kesempatan untuk menyapanya di dunia.

Lihat selengkapnya