Bandung, Kota yang Menunda Pulang

Intan Siti Noer Rita Daswan
Chapter #26

Bandung, Kota yang Menunda Pulang

Di kota ini, 15 tahun yang lalu, aku pernah berjuang untuk hidup. Bandung saat ini sudah sangat berubah. Fly over dimana-mana, terminal Leuwi Panjang yang dulunya kumuh berubah lebih estetik, tempat wisata semakin tambah beragam, perumahan sudah semakin marak dari mulai yang sederhana hingga termewah. Alun-alun pun sudah semakin cantik dan tertata. Meskipun, di sana-sini masih terlihat banyak kekurangan, salah satunya sampah. Tapi, di setiap kota pasti selalu ada cela.

Satu hal yang paling drastis yang aku rasakan, udara Bandung tidak sesegar dan sedingin dulu. Tapi, bisa ketebak alasannya, perumahan di kota ini sudah makin bertambah. Daerah Bandung utara semakin padat dengan café dan tempat wisata baru.  Bahkan perumahan mewah dengan konsep one stop living pun, ada di kota ini. Daerah yang dulunya hutan, kawasan resapan air atau kawasan terbuka hijau, berganti menjadi gedung-gedung pencakar langit.

Oya, Bandung sekarang makin keren karena ada kereta listrik. Perjalanan dari Bandung ke Jakarta hanya ditempuh dalam waktu kurang lebih 40 menitan. Keren banget. Jalan tol? Ah, jangan ditanya, jalan tol sudah semakin melebar juga.

Aku duduk di atas rumput sintesis alun-alun Bandung. Lima belas tahun yang lalu, di sini hanyalah tempat para pedagang kaki lima. Ah, jadi kangen dengan batagor Mang Ari. Apa orangnya masih ada? Kalau menurut informasi semua pedagang yang asalnya berjualan di sini, dipindah ke area parkir basement Masjid Agung. Sebenarnya aku ingin bertemu dengan Mang Ari, tapi kabar dari penjual mainan, katanya Mang Ari sudah pulang kampung sejak alun-alun ini diperbaiki.

Aku menatap ke arah Plaza Parahyangan. Tersenyum mengingat momen berkumpul bersana sesama pengamen untuk mendapat pengarahan dari Kakak-kakak Mahasiswa. Kak Ifa dan Kak Sarah? Dimana mereka sekarang?

Aku beranjak dari tempat dudukku. Tujuanku ingin napak tilas ke Braga. Ada banyak kisah yang tidak bisa terlupakan di jalan ini. Pertama kali aku bertemu dengan Bang Haris pun di sini. Pertama kali disapa oleh Anggi, sahabat ngamenku, di Simpang Braga ini. Anggi? Ah, aku kangen dengan anak ini. Dimana dia sekarang?

“Mau ke Pelindung Hewan?” tanya Bang Haris membuyarkan lamunanku.

“Tapi, nanti aku ingin ke sini lagi menghabiskan sore hingga malam di sini,” jawabku sambil tersneyum.

Bang Haris mengangguk sambil membalas tersenyumanku. Sebenarnya tidak mudah bagiku untuk menginjakkan kaki di Pelindung Hewan. Luka batin itu masih ada. Tapi, semua ini aku lakukan agar aku bisa semakin bersyukur.

Aku meminta agar menjalankan motornya tidak terlalu kencang. Aku juga meminta untuk melewati kawasan Saritem. Ah, banyak yang berubah ternyata.

Bang Haris menawarkan untuk berhenti, aku mengangguks setuju. Aku berpura-pura membeli sesuatu di sebuah toko. Menurut cerita meskipun sudah ditutup, tapi masih ada yang melakukan transaksi secara sembunyi-sembunyi. Aku paham, faktor ekonomi biasanya menjadi tameng. Padahal, yang aku rasakan, semua itu hanya karena faktor kurang iman saja.

Aku melanjutkan perjalanan ke Jalan Pelindung Hewan. Melewati Tegallega membuat hatiku terasa sesak. Ada momen yang sulit untuk terhapus. Dosa yang membuatku hingga saat ini tak berhenti bertaubat.

“Mau tetap lanjut? Atau turun sebentar?” tanya Bang Haris menepikan motornya.

Aku menggelengkan kepalaku. Aku meminta Bang Haris untuk melanjutkan perjalanan. Meski air mata ini tidak bisa disembunyikan lagi. Motor pun melaju pelan mencari kontrakan yang dulu posisinya tidak jauh dari Museum Sri Baduga. Bertanya ke beberapa orang untuk memastikan alamatnya saat ini. Ternyata memang rumah kontrakan itu sudah tidak ada. Menurut cerita, setelah kejadian kematian seorang anak kecil, dan juga pertengkaran hebat antara gembong sabu dengan tetangganya, membuat kontrakan itu jadi sepi. Si Pemilik kontrakan akhirnya menghancurkan bangunan tersebut. Saat ini, di atas tanah itu tersebut dibangun sebuah lapangan futsal.

“Akang kenal dengan Si Brewok?” tanyaku lirih.

“Loh, kok Teteh tahu dengan nama Si Brewok? Jarang loh orang berjilbab mengenal orang itu,” ujarnya dengan mengerutkan kening.

Lihat selengkapnya