BANYAN

Sancka Stella
Chapter #1

BAB I Kepak Kecil

“Glup. Glup.”

Tala, seekor burung pipit yang kecil, meneguk air sungai yang dingin. Airnya dingin, belum terpapar hangatnya matahari yang baru muncul di balik pepohonan tepi timur hutan. Riang gembira, ia meneguk beberapa kali lagi. Wajahnya tenang, tak lagi menunjukkan rasa dahaga.

Bayangan seekor burung besar menghalangi sinar matahari. Suasana di sekitar Tala menjadi gelap. Tala menengadah, melihat siapa yang datang sepagi ini.

“Paman Toph?”

Gagak besar itu tersenyum hangat. Perut besarnya dibusungkan, hampir saja mendorong Tala ke depan.

“Selamat pagi, pipit kecil.”

“Walaupun burung pipit kecil, tetapi dikasihi Tuhan, Toph.”

Toph menyeringai. “Ya, anggap saja sayapmu yang sekecil sarangmu itu adalah berkat dari Tuhan.”

“Memang begitu adanya, Paman Toph. Semoga harimu menyenangkan!”, Tala kembali ke atas, ke sarangnya. Ke rumahnya.

Rumah Tala berada tidak jauh diatas sarang milik keluarga Toph. Hanya sekitar 80 inci. Sarang itu memang mungil, namun cukup luas untuk sebuah keluarga pipit berisi empat.

Tala menyapa Zaria, Ibu tersayangnya, yang sedang menata cacing kering di piring.

“Selamat. Selamat.. selamat pagi cantik!”, Zaria menyapa. “Ada burung nuri, di atas ketapang kencana. Pagi pagi, pergi kemana?”

Tala tersenyum. “Enggak usah aku balas pantun juga, kan, Bu?”

“Berarti jatah cacingmu hanya satu.”

“Ada itik, di atas bukit. Ibu cantik, tetapi pelit!”

Zaria menggembungkan pipinya. Tala terkekeh.

“Punai tanah di daun keliki, hanya ayah yang bilang ibu cantik!”, Tala tergelak.

Menit selanjutnya Zaria terbang-terbang rendah mengejar Tala yang masih terus menggodanya.

“Lama-lama bisa rubuh sarang kita ini,” Tharos, sang ayah melipat kedua sayapnya di dada.

Zaria dan Tala menghentikan aktifitas kejar-kejarannya. Terengah-engah. Saling bertatapan. Tertawa bersama.

“Tala, bangunkan Kael. Kita berdoa bersama dulu.”

Tala berjinjit jinjit kecil ke sayap kiri sarang. Ada Kael yang masih tertidur. Nafasnya teratur. Jambul pendeknya bergoyang ke sembarang arah, mengikuti kemana angin pagi berhembus.

“Ka-el,” Tala mengecup pipi Kael pelan. “Kael, Ayah menyuruh kita berdoa pagi. Bangun, Kael.”

Pelan-pelan, Tala bisa melihat bola mata Kael yang berwarna cokelat. “Hai, Kael.”

“Kakak, aku mengantuk.”

“Kael, ayah menyuruh kita berdoa bersama sekarang,” Tala mengulang kalimatnya.

Kael menurut. Kaki kecilnya mengikuti kemana Tala menuju. Tharos dan Zaria sudah menunggu dengan biji jagung di depan mereka.

“Duduk, anak-anak,” kata Zaria lembut.

Angin menyapa mereka sekali lagi, lembut. Matahari meninggi. Wangi kayu semerbak di udara. “Tziii… Tziii..”, tonggeret bersahutan halus.


“Tuhan, pagi ini seperti pagi pertama.

Saat Engkau ciptakan embun di dedaunan.”


Ujung sayap-sayap mereka saling bertaut.


“Pucuk menyapa, ulam menua bahagia.

Engkau menyayangi mereka,

lebih dari seribu hasta.”


Mata mereka terpejam.


“Hyang, kami bersyukur tak henti-henti.”


Lihat selengkapnya