BANYAN

Sancka Stella
Chapter #2

BAB II Bukti

Berkali-kali, Iroh mendongak ke luar sarang. Kemudian kembali mengipas Koa dengan sayapnya. Sayap hitam legamnya sebenarnya sudah lelah, ingin beristirahat. Tetapi, Koa demam, dan jika Iroh berhenti mengipas, Koa terbangun dan berkeringat. Jadi, Iroh harus menunggu Toph kembali dari berburu serangga, sehingga Iroh dan Toph dapat bergantian makan malam dan menjaga Koa.

Tetapi, sudah sepetang ini, Toph belum juga kembali.

‘Bisa tidak, jika ia meninggalkan Koa sebentar untuk mencari Toph?’

‘Apakah aku perlu meminta tolong Zaria untuk menjaga Koa sebentar saja?’

Pertanyaan-pertanyaan berputar di dalam pikiran Iroh. Terlebih lagi, Koa belum makan sedari siang. Jika begini, bagaimana mungkin Koa dapat pulih dengan cepat?

Iroh melihat-lihat di sekitar sarang. Siapa tahu, ada capung atau kumbang yang mampir di pohon itu. Sambil mengawasi sekitar, ia mengingat sesuatu.

Dulu, Toph tidak begini.

Masa-masa muda mereka manis sekali. Masa-masa ketika Iroh masih mempunyai peluang untuk memilih gagak jantan mana yang akan ia pilih untuk menjadi teman hidup.

Toph mengambilkan belalang mati kesukaan Iroh. Belalang itu diikat bentuk pita menggunakan akar anggrek. Iroh menerimanya dengan senyum merekah, menandai hubungan mereka yang lebih dalam. Lebih dari seekor gagak yang sekedar singgah ke sarang Iroh untuk melepas lelah, lalu berlalu.

Beberapa kali, Iroh mendapati Toph menghangatkan tubuhnya saat cuaca berangin. Toph menumpuk beberapa lapis daun pinus kering di atas tubuh gagak betina itu, agar malam mereka tetap hangat.

Meskipun Iroh merasa Toph lambat laun berubah, Iroh tetap memegang janji manis yang diucapkan Toph kepada dirinya kala memutuskan untuk tinggal bersama,


“Aku tak tahu berapa lama waktu yang terbaik,

untuk menautkan sayapmu dengan sayapku,

Tetapi ijinkan aku untuk memulai dari selamanya.”

Zha’nan menukik tajam menuju puncak Banyan, nama sebuah pohon yang ditinggali oleh keluarga Zaria. Zha’nan sampai ke puncak lebih dulu, sehingga ia dapat mencermati sekitar pohon itu. Bahkan, ia sempat melakukan aktivitas lain, seperti berputar mengelilingi pohon beberapa kali, kemudian kembali mendarat dengan mulus.

Angin berhembus lebih kencang di sini.

Zha’nan melongok ke bawah dahan. Sayap kecil itu baru tiba.

“Pipit kecil, kau belum pingsan?”, teriak Zha’nan dari puncak.

“Kau terlalu banyak bicara untuk seorang laki-laki,” sindir Zaria. 

Sebenarnya, pipit betina itu sudah payah. Ia mutlak kelelahan. Pertama, ia baru sekali pergi ke puncak. Itupun ketika ia masih kecil, dengan ayahnya, Mo’at. Mo’at menaikkan Zaria kecil di punggungnya, sambil bersiul, merdu sekali. Zaria kecil tertidur di punggung ayahnya, dan ketika terbangun, ia sudah terduduk dengan tenang di puncak pohon.

Mo’at duduk di sebelahnya, dan mereka menikmati keindahan pemandangan dari puncak Banyan bersama-sama. Ketika itulah, Mo’at menunjukkan warisan yang keluarga pipit lakukan turun temurun: mengukir jejak kaki setiap kepala keluarga pada salah satu batang tertinggi.

Seharusnya, kali kedua Zaria menuju puncak menjadi momen nostalgia dimana ia mengingat ayahnya dan kenangan mereka yang manis.

Eh, malah pergi dengan seekor elang.

‘Mimpi apa aku semalam’, kata Zaria dalam hati.

“Kita belum berkenalan,” Zha’nan mengulurkan sayapnya, segera setelah Zaria sampai di puncak.

Zaria tidak balas menjabat. “Zaria.”

Masih terengah-engah, Zaria berjalan pelan, mencari-cari petunjuk dimana ayahnya mengukir jejak kaki. Walaupun mungkin sudah tertutup lumut dan dedaunan, tetapi Zaria yakin, jejak kaki ayahnya masih lebih terlihat dibandingkan jejak kaki kakeknya.

“Mana? Kau tidak bersusah payah datang kemari hanya untuk sebuah bualan, bukan?”

“Suaramu memecah fokusku,” Zaria masih mencari. Inci demi inci. Menyibak dedaunan kering dan tanaman kecil yang menempel. Beberapa kali kaki kecilnya lengket, terkena getah pohon.

Wajah Zaria sumringah. Ia memastikan dengan lebih dekat, tentang apa yang ia lihat.

“Lihat,” seru Zaria. “Ini adalah jejak leluhur kami.”

Zaria tak hanya bangga, tapi juga lega. ‘Aku dapat menemukannya! Oh, terima kasih, ayah!’, ingin rasanya Zaria berteriak sampai bergema.

Zha’nan menelisik. Menyelidiki dengan hati-hati. Apakah jejak ini baru dibuat kemarin atau memang sudah ada dari sekian tahun silam.

Warna kayu di sekitar jejak kaki sudah tidak cerah, namun berwarna coklat tua semu abu-abu. Tepi jejak kaki sudah mulai menutup, menyatu dengan kulit kayu. Di beberapa tepi jejak kaki sudah mulai tumbuh jamur-jamur kecil.

Zha’nan berpikir.

Jejak kaki ini memang sudah lawas.

“Hanya ada dua jejak kaki?”, tanya Zha’nan. Nadanya lebih kepada menghakimi.

“Usia burung sepertimu paling bertahan empat atau lima tahun di alam liar. Berbeda dengan kami yang bisa tahan sampai dua puluh tahun.”

“Lalu?”

“Dua jejak kaki, untuk sepuluh tahunan. Kurang dari usiaku,” tukas Zha’nan. “Sebelum kakekmu hidup, pohon ini ditempati oleh keluargaku.”

Zaria tidak bisa membantah. Ia pun tidak tahu bagaimana kenyataan yang sebenarnya. Bisa ia, bisa tidak. Bisa benar, bisa salah. Ia belum punya cukup bukti yang menyatakan pohon ini milik keluarganya, dari mulai pohon ini tumbuh besar.

“Tapi paling tidak, selama sepuluh tahun terakhir, pohon ini sudah ditempati oleh keluargaku,” ujar Zaria. “Sepuluh tahun adalah waktu yang cukup untuk menentukan kepemilikan wilayah,” sayap Zaria bergerak-gerak.

Lihat selengkapnya