Siang itu terik. Air sungai yang jernih memperlihatkan beberapa ikan kecil yang sedang berlomba-lomba, menentukan siapa yang dapat berenang lebih cepat.
“Dapat!”, Tharos berpekik senang tatkala melihat Tala berhasil menangkap seekor jangkrik liar. Tala menjepit hewan kecil itu erat-erat diantara paruhnya.
“Sekarang, ikuti ayah melawan angin,” Tharos melesat, terbang ke atas. Dengan percaya diri, Tala mengikuti Tharos.
Diantara pepohonan yang cukup tinggi, Tharos dan putrinya melaju. Angin sedang bertiup ke arah barat, mereka terbang ke arah berlawanan.
Mulanya, angin tak menjadi masalah untuk Tala. Jangkrik kecil untuk Kael masih paten di paruhnya. Namun, Tharos benar-benar terbang melawan arah angin. Lama kelamaan, Tala merasakan tubuhnya tak lagi mendukung dirinya maju. Seolah-olah semua bulunya menarik ia ke belakang. Tala harus mengepakkan sayapnya sekuat tenaga sebelum Tharos semakin jauh. Ia jelas tidak bisa memanggil Tharos, karena jika ia membuka paruhnya, jangkrik kecil akan jatuh.
Tetapi, Tharos sama sekali tidak menoleh ke belakang untuk melihat keadaan Tala. Tharos terus melaju. Hari sudah semakin terik, dan mereka belum turun minum sedari tadi. Kerongkongan Tala sudah mulai mengering, Ia berkeringat banyak.
Dalam beberapa menit, Tharos sudah hilang dari pandangan Tala. Anak burung pipit itu kehilangan keberadaan ayahnya. Dan lagi, ini dimana?
Tala memutuskan untuk mendarat terlebih dahulu, mencari sumber air. Kaki kecilnya melompat lompat girang tatkala ia menemukan sebuah sungai kecil. Tala meletakkan jangkrik buruannya yang sepertinya sudah tidak bergerak, lalu minum di situ. Ia minum sambil mengamati sekitar.
Tharos belum pernah membawanya sejauh ini, ke tempat se-asing ini.
Pelan-pelan, ia menelusuri aliran air. ‘Sepertinya, tadi Tharos membawaku ke bagian hilir. Aku harus terbang menuju dataran yang lebih tinggi untuk dapat sampai ke rumah,” pikir Tala. Ia mencapit jangkrik kecil dengan kedua kakinya untuk kemudian bersiap terbang. Matahari sudah mulai condong arah ke barat. Hari sudah mulai sore. Tala harus pulang sebelum malam.
Tala memulai perjalanannya kembali, untuk terbang ke arah hulu sungai.
Angin berhembus mesra. Udara sore hari adalah yang terbaik. Melihat pantulan matahari sore di permukaan air, hati Tala menjadi jauh lebih tenang. Di hutan, hanya ada satu sungai besar seperti ini. Hal itu membuat Tala yakin akan satu hal: sungai ini menuju ke Pohon Banyan. Ke rumahnya.
Ia mengepakkan sayapnya sambil bersenandung. Ia bernyanyi lagu yang selalu Zaria dendangkan, yang dipakai ibunya untuk meninabobokan ia dan Kael. Kepakan sayapnya mengikuti irama lagunya.
“Tidurlah tidur, sebelum pagi..
Ketika hari berganti, kita kembali mencari..
Jagung dan padi..”
Ia bernyanyi diselingi tarian. Berputar, terbang rendah dengan lincah di antara ilalang dan paku-pakuan. Sayapnya harmonis dengan dedaunan hijau yang bergoyang tertiup angin.
Hatinya semakin lega ketika ia melewati sarang tempat ia dan Tharos biasa beristirahat setelah berburu. Sebentar lagi, dia akan melewati sarang elang.
Biasanya, ia dan Tharos sebisa mungkin menghindari sarang itu. Terbang rendah di bawah. Kali ini, hatinya tidak yakin, tapi ia ingin tahu sesuatu hal.
Ia menukik pelan menuju sarang milik Zha’nan. Sarang itu mudah ditemukan karena bentuknya, dan besarnya. Ia ingin melihat, seberapa besar ranting yang dipakai untuk membuat sarang yang gagah itu.
Tala mengepakkan sayapnya hingga sampai di tepi sarang. Kali itu, ia bisa dengan mudah melihat ranting-ranting penyusunnya. Tala terkesima. Bahkan ada ranting yang hampir seukuran dirinya!
‘Warna rantingnya coklat tua, diambil dari pohon apa ini? Mungkin Ibu lebih tahu.’
‘Rantingnya keras dan kokoh. Tuan Elang pasti tak perlu repot mengganti ranting lapuk setiap beberapa pekan seperti Ayah.’
‘Aku mau jadi elang!’ wajah Tala berbinar-binar.
Setelah puas mengamati sarang Tuan Elang, Tala bersiap untuk kembali ke rumah.
Namun, suara yang cukup gaduh membuat Tala mengurungkan niatnya.
Ia mencari tempat yang lebih aman di belakang pohon. Dengan hati-hati, ia mengintip.
Disana ramai. Semuanya adalah burung elang. Semuanya besar-besar. Dan gagah. Dengan mata tajam dan sipit. Paruh yang melengkung sempurna.
Matanya tertuju pada satu elang yang dikenalnya. Zha’nan.
Di sisi sebelah kiri elang pejantan itu, ada seekor elang lain. Cantik.
“Zha’nan terlalu banyak pertimbangan, Ayah,” Sorath mengelus perutnya yang sudah besar.
“Strategi diperlukan, Sorath. Jangan gegabah,” seseorang yang ia panggil ayah, menjawab. Suaranya lebih lantang dan berwibawa dari elang yang lain.
Sorath terdiam, wajahnya kesal.
“Kita gertak dulu saja pipit kecil itu. Dengan gertakan, mereka akan takut!”, yang lain urun usul.
Zha’nan terdiam. Kembali sorot mata tajam Zaria terlintas di pikirannya.
“Mereka tangguh,” Zha’nan menyela. “Dan, mereka punya bukti sejarah yang terukir. Di pohon itu.”
“Apa kau yakin itu bukan tanda yang baru dibuat semalam?”, tanya elang tua ragu.
“Ayah meragukan pemimpin kelompok ini? Meragukanku?”, Zha’nan tampak tersinggung.
Tala mendengarkan dengan seksama semua yang mereka bicarakan. Tak lain dan tak bukan, mereka sedang membicarakan Banyan, pohon milik keluarganya.
Tala merasa pegal terus mengepakkan sayapnya. Ia ingin hinggap sebentar dan beristirahat. Kaki kecil Tala menaruh jangkrik buruannya di salah satu dahan kecil dengan hati-hati. Ini pertama kalinya ia sangat dekat dengan para elang.
Tala merasa tujuannya menjadi jamak. Ia tidak hanya melihat-lihat sarang Tuan Elang, tapi memastikan tak ada satupun percakapan yang ia lewatkan.
Namun, ia memang melewatkan satu hal.
Tharos belum pernah membagikan pengetahuan ini padanya: elang sangat peka dengan sekecil apapun pergerakan. Sepelan apapun suara. Sesedikit apapun perubahan.
Seekor elang muda mematuk kepala Tala dengan kasar.
“Ada yang masuk teritori kita!”
⃝
Tharos mulai gelisah. Ia sangsi akan keputusannya sendiri.
Ini kali ke sepuluh ia berputar mengelilingi sarang. Tak lama, kedua kakinya bermuara di depan kaki Zaria.
“Sebaiknya aku menyusulnya,” Ujar Tharos. Zaria hanya menjawab dengan tatapan. Ia tahu suaminya berniat baik. Ia ingin menguji Tala, apakah pipit kecil itu berhasil pulang sendiri ke rumah. Tetapi, keputusan untuk meninggalkan Tala seorang diri ketika angin sedang kencang begini, adalah sebuah keputusan yang tidak bisa dibenarkan. Zaria ingin menenangkan Tharos, namun sejujurnya ia pun gelisah.
“Tak usah cemas, Koa pun pernah kutinggalkan ketika aku sedang berburu. Akhirnya pulang sendiri. Mereka pintar,” Toph menyandarkan punggungnya ke salah satu dahan. “Tunggu sebentar lagi.”
“Tiap anak berbeda,” timpal Zaria, abu-abu. ‘Omong-omong, sejak kapan dia masuk ke sini? Jangan-jangan Toph mulai berpikir bahwa ini dapat menjadi rumah keduanya?’ Zaria membatin dalam hati.
Zaria melihat bulan di atas sana, terhalang awan tipis. Angin malam berhembus sejuk.
Krik.. Krik.. Krik..
Wok.. Wok.. Wok..