BANYAN

Sancka Stella
Chapter #4

BAB IV Berubah Haluan

Matahari terik, air sungai menghangat.

Sinar matahari memantul jelas, menimbulkan warna permata pada permukaan air.

Tala bersenandung riang. Luka di pelipisnya sudah kering sama-sekali. Hanya berbekas sedikit. Zaria mengganti daun binahong tiap dua jam sekali, pada masa-masa akut, secara rutin. Induk pipit itu juga tidak memperbolehkan Tala untuk mandi dan juga menanyakan nyeri yang dirasakan Tala, yang nyatanya semakin hari semakin membaik.

Pipit kecil itu berjingkat-jingkat kecil di tepi sungai. Minum seteguk demi seteguk. Memejamkan matanya dan menahan napas.

“Segaaaaar,” serunya riang.

Sayap agak besar menghampirinya. Menepuk pundaknya.

Tala tertohok. Air di mulutnya keluar lagi.

“Koa!”, Tala merengut. Koa terkikik.

“Kau sudah sehat?”, tanya Tala.

“Sudah dong. Ah, tuan putri sedang minum rupanya. Aku tak tahu,” Koa melompat-lompat kecil. Senang betul karena ia berhasil mengisengi Tala.

“Awas saja kau!”, Tala berlari mengejar Koa.

Hap.. Hap.. Happ!

“Enggak kena, wee!”, Koa meledeki Tala. 

Seekor bulu cokelat mengintip dari balik rerumputan. matanya tajam, namun mengerjap-ngerjap silau ditimpa cahaya matahari.  Ia sendiri dan kecil, namun cukup berani untuk mendekati Koa dan Tala yang sedang berjemur menikmati air sungai yang jernih.

Tala, yang terlambat menyadari kehadiran si bulu cokelat, masih menciprati kepala Koa dengan semangat.

“Kena Koa!”, Tala mengejar Koa.

“Bug!”, mereka bertabrakan. Koa tak menghiraukan Tala. matanya tertuju ke satu titik.

“Koa?”

“Sssst,” Koa menaruh ujung sayap ke paruhnya. “Ada sesuatu.”

Tala melihat kemana mata Koa tertuju. Ikutan terpaku. 

Bulu cokelat itu menyembul, memperlihatkan diri.

Koa memiringkan kepalanya. Alisnya terangkat. 

“H..Hai,” bulu cokelat menyapa. Paruhnya melengkung cantik ke bawah, mata kecilnya tajam.

‘Apakah dia burung pipit jenis lain?’ batin Tala.

“Dia elang,” gumam Koa.

Tala menyunggingkan senyum.

“Hai,” balas pipit kecil itu. “Kau tersesat?”

Elang kecil menggeleng. “Aku sedang.. berjalan-jalan disekitar sini. Dan melihat kalian.. bermain,” elang kecil berkata canggung. “Terlihat seru.”

Tala mendekat. “Kau mau ikut bergabung?”

Senyum sumringah menghiasi wajah elang kecil. agak cepat, ia keluar dari balik rerumputan dan berjalan mendekati Tala. Tala menempelkan ujung sayapnya ke  ujung sayap elang kecil, sebagai tanda awal perkenalan yang baik.

“Namamu?”, tanya Koa.

“Zazu,” sang elang menjawab riang.

“Namaku Tala, Zazu. Salam kenal yaa.. sebagai perkenalan, kamu harus.. basah dulu!”, Tala mencipratkan air sungai yang hangat ke tubuh Zazu. Zazu bergidik, air menyebar ke segala arah dari bulu bulunya.

“Tala, dia kedinginan!” cetus Koa. Tala memperhatikan elang kecil itu. “Benarkah?”

“Cuuuur!”, Zazu mengalirkan air dari ujung sayapnya  ke kepala Tala sambil tersenyum. Tala bergidik kedinginan.

“Salam kenal juga, Tala,” Zazu nyengir polos. Koa terbahak.

Tala menggeram. “Awas kau Zazuuuuuuuu,” Tala berlari mengejar Zazu. Elang kecil itu tergopoh-gopoh berlari. Jambul di kepalanya bergerak kian kemari, sesuai dengan kaki apa ia berpijak.

Riak-riak air sungai yang jernih mencitrakan aktivitas mereka pagi itu. Matahari yang cerah, awan berarak, dan tiga pasang kaki-kaki mungil berkejaran menelusuri tepi sungai.

0

Malam ini, Toph giliran berpatroli. Keluarga pipit sudah terlelap, Koa dan Iroh juga sudah berpelukan. Suara dengkuran mereka bersahut-sahutan halus.

“Ngok, ngok.” sebuah suara mengagetkan Toph. Suara itu berasal dari bawah pohon. Dua bola mata yang berwarna hitam tertangkap mata Toph. Tampaknya, makhluk itu belum menyadari keberadaan Toph. ia–dengan giat–meneruskan aktivitasnya: mengumpulkan buah-buahan yang jatuh dari pohon lain di sekitar situ dengan moncongnya, lalu memakannya dengan rakus.

Toph berputar di atas makhluk itu, masih mengamati. ‘Seenaknya saja ia memakan buah-buahan dari pohon di sini!’ Komoditas berharga seperti buah-buahan bisa ditukarkan dengan biji atau serangga yang dibawa oleh Tuan Kelelawar. Dan makhluk ini dengan enteng mencurinya? 

Toph terbang lebih dekat.

Tubuh kekar, rambut kaku, berwarna hitam gelap–sama seperti bulunya.

Telinga segitiga, moncong lentur di ujung mulut, dan taring yang panjang dan tajam.

“Hei kau babi hutan!”, gagak berteriak keras. Suaranya semakin sangar terdengar karena suasana hutan sedang begitu sunyi.

Babi hutan menengok ke atas pohon. Matanya mendelik tak suka. Ia sedang nikmat menyantap makan malam!

“Mau apa kau? Ngok.”

“Kau yang sedang apa disini? ini pohon kami!”

“Pohon di hutan ini adalah pohon milik bersama! Ngok.”

“Sudah sejak lama kami tinggal disini!”

“Aku tak peduli. Aku mau makan dengan nyaman. Pergi kau. Ngok.”

Toph menggeleng-geleng tak percaya. Ada babi hutan sebatu ini. “Kau yang harus… Pergi!”, Toph mematuk kepala si babi.

Babi hutan meradang. “Kau mencari masalah denganku! Ngok!”

“Tuk!”, Toph mematuk Tuan Babi, sekali lagi. Tuan Babi mengamuk.

“Belum pernah ada burung kecil yang seberani kau, gagak sialan! Ngok!”

“Kau yang harusnya takut,” tandas Toph. “Kami para gagak, bisa mematukmu hingga bangkaimu tak bersisa!”

Tuan Babi mengamuk. Ia mundur barang 50 inci, lalu mengambil ancang-ancang. “Whuss.. Whuss,” kakinya mengorek tanah.

Tuan Babi berlari sekuat tenaga, menabrak pohon Banyan milik mereka. Toph terbelalak.

Dengkuran halus Koa berubah tangisan. Kael pun menyusul menangis. Getaran akibat tabrakan tadi sungguh sangat hebat.

Tharos segera terjaga dan turun ke bawah. Mendapati Toph yang sedang berseteru.

“Poo?”, Tharos memiringkan kepalanya. “Malam-malam kemari?”

“Kau punya teman yang kurang ajar, Tharos. Harusnya aku tak buang-buang waktu untuk berbicara dengan gagak tak sopan ini.”

“Kalau aku tak ingat ini juga pohonmu, aku akan merobohkannya!”, sang babi mendengus marah. Babi hutan itu berlari pergi, masuk ke dalam hutan yang lebih dalam. Mencari pohon buah-buahan lain untuknya dapat makan.

“Kau apakan dia?”, tanya Tharos cemas. “Kau mengganggunya?”

“Dia makan buah pohon itu,” Toph menunjuk sebuah pohon rambai. “Hingga habis tak bersisa,” lanjut Toph. Sejujurnya, Toph masih kebingungan bagaimana Tharos dan babi hutan ini bisa saling mengenal.

“Dia tidak mengganggu, Toph. Dia memakan buah yang jatuh ke tanah.”

Toph bergeming.

Lihat selengkapnya