BANYAN

Sancka Stella
Chapter #5

BAB V Rupa-rupa Ingin

“Kau kemana saja sampai selarut ini?”, Iroh menyambut Toph di depan pintu sarang. Toph melewati Iroh tanpa bersuara. Perasaan Iroh sudah tak enak sejak pagi tadi, ketika Toph berpamitan tanpa menjelaskan kemana ia akan pergi. 

“Menjaga perdamaian hutan ini,” tukas Toph, abu-abu.

“Menjaga?”, tanya Iroh tak puas dengan penjelasan Toph. “ Dengan cara apa?”

“Apa pentingnya untukmu?”

Iroh diam sesaat, mencari kalimat yang tepat. “Aku tak mau kau salah langkah,” kata Iroh lirih. Toph menggantungkan topi kecilnya di salah satu ranting pohon, kemudian duduk di tepi.

“Aku masih tak paham alasanmu memukuli Koa, hanya karena Koa bermain dengan Tala,” ujar Iroh sambil mencacah cacing.

“Kau tahu, Toph. Kita sudah berteman lama dengan keluarga pipit,” lanjut Iroh. Toph masih mengatupkan rahangnya, memilih untuk membersihkan bulu-bulu sayapnya helai per helai.

“Pohon ini, adalah pohon milik mereka,” Iroh menatap Toph dengan sungguh. “Dari awal, kita menumpang disini, Toph. Tharos yang mengijinkan kita. Zaria mengijinkan kita.”

“Kau dan aku sudah lama tinggal disini. Kita memelihara pohon ini. Kita berpatroli bergantian. Kita membagi wilayah. Kita sudah memiliki pohon ini, sama seperti mereka.”

“Yang kau katakan itu betul, Toph. Kita memiliki pohon ini sekarang. Tapi, jangan lupakan sejarah. Kita merdeka sekarang. Bebas melakukan apa saja disini, dan terlindungi. Itu karena mereka mengizinkan kita untuk tinggal. Bersama-sama.”

“Apa maksudmu menceramahi ku begini?”

“Maksudku, kau tahu kepada siapa kau harus berpihak.”

“Duakk!”, benturan hebat mengguncangkan pohon mereka. Iroh dan Toph melihat ke bawah. “Babi hutan itu lagi!”, seru Toph kesal. Tuan Babi mundur beberapa langkah ke belakang, kemudian berlari cepat. Pohon itu tidak mempunyai persiapan apa-apa, ketika ia kembali menyeruduk tanpa aba-aba.

“Duakk!”, sekali lagi, dengan cepat dan keras. Membuat Toph dan Iroh terhempas ke salah satu sisi pohon. Iroh memegangi Toph yang nyaris jatuh. Menggapainya cepat. Toph menemukan pegangannya.

“Kau belum jera juga!” Toph meluncur turun. Babi hutan menyeringai tipis. “Aku menepati janjiku, gagak bodoh! Yang tak punya sopan santun!”

“Aku? Bodoh? Kalau bodoh, aku tak mungkin bisa memiliki pohon ini, dan akan mencuri curi buah dari pohon lain, persis sepertimu!”

Iroh menyusul Toph untuk turun dan menemukan pohon itu terluka. Cukup dalam. Iroh mengusap pohon itu dengan lembut. Pohon ini tidak pernah terluka sebelumnya, bahkan sejak pertama kali mereka menetap disini. Iroh mengawasi babi hutan itu, dan mengingat sesuatu.

“Toph,” Iroh memanggil Toph, ragu-ragu. Toph tetap tak berpaling dari mata babi hutan itu. Menatapnya sangar.

“Hm.”

“Babi hutan ini, rasanya aku mengenalnya. Dia Poo. Dia adalah teman Tharos!”

“Ya, aku tahu,” Toph menyeringai. “Aku tak percaya Tharos memilih teman berandalan seperti dia.”

Sekelebat, ingatan terlintas di pikiran Toph. Tharos pernah berkata tentang kebiasaan Tuan Babi untuk mengambil buah yang jatuh karena matang, dari pohon-pohon di sekitar sarang mereka. Sebenarnya, Karena Tharos adalah sang ketua, sudah menjadi keharusan bahwa mereka harus menaati keputusan Tharos dan membiarkan Tuan Babi memunguti buah-buahan itu. Namun, bagi Toph, mundur berarti kalah. Dan Tuan Babi akan semakin semena-mena terhadapnya.

Gerombolan elang datang bersamaan dari kejauhan, kemudian berkerumun di sekitar pohon itu. Iroh kaget bukan kepalang. Belum pernah ada elang sebanyak ini berkerumun di pohon tempat mereka tinggal.

“Lihat, keamanan hutan ini dalam ancaman!”, Zha’nan mulai menyuarakan kegelisahannya. “Sebagai perwakilan dari para kawanan burung, saya tegaskan: kita tidak bisa tinggal diam ketika rumah salah satu penghuni hutan ini terancam keamanannya!”

Toph membusungkan dadanya, merasa ada yang membela dirinya. Burung hebat pula. Lain kali,  Tuan Babi jelas akan berpikir dua kali jika ingin berdebat dengannya.

Beberapa penghuni hutan mulai berdatangan. Nona Musang keluar dari gua, Tuan Tikus liar meninggalkan sarapannya, Pak Tupai pun terusik dari kegiatan tidurnya yang belum usai.

Dan.. Termasuk keluarga Tharos. Setelah terjadi dentuman hebat sebanyak dua kali, ditambah keributan pagi ini, tentu saja ia terusik. Hanya saja, ia masih harus menyelesaikan ritual pagi bersama keluarganya sekhusyuk mungkin.

“Syukur kepada Hyang tak henti-henti,

Untuk jagung dan padi yang tersedia pagi ini.”

Tharos mencium kening anak-anaknya satu persatu, kemudian beranjak untuk melihat ada keributan apa di bawah sana.

Matanya mula-mula tertuju pada sekelompok elang. “Lagi-lagi mereka. Mau apa lagi?”

“Mulai sekarang,” elang yang agak besar, yang pernah Tharos lihat selalu berada di dekat Zha’nan, mulai berbicara, “Kami akan melakukan patroli hutan. Terutama di sekitar wilayah ini! Sudah begitu banyak keributan dan ancaman yang beresiko mengganggu keamanan hutan ini!”

“Poo?”, mata Tharos beralih pada Poo. “Itu kau?”

Elang menelisik curiga. “Wah, rupanya kau kenal dekat dengan babi hutan ini. Seharusnya kau lebih hati-hati. Nyaris saja pohonmu rubuh karenanya!”

Tharos melihat Poo lekat-lekat. Mencari kebenaran disana.

“Kau berteman dengannya? Pantas saja.”

Tharos mengangguk. “Ya,” jawab Tharos tanpa ragu. “Tuan Poo berteman denganku. Dan sampai sejauh ini, Tuan Poo tidak pernah memulai keributan, kecuali ada hewan lain yang memancingnya terlebih dahulu, “ujar Tharos.

“Kau sungguh membela babi itu?”, sudut bibir Toph turun.

“Kau berteman dengan babi hutan ini dan membiarkannya merusak pohonmu, karena kau tahu dengan pasti bahwa sebenarnya ini bukan pohonmu!”, teriak elang.

“Kau meracau,” sanggah Tharos. 

“Selama ini pipit tidak pernah melarangmu mencari makan di sekitar pohon ini?”

Tuan Babi mengangguk. “Hanya gagak bodoh yang tidak memperbolehkanku!”

“Lihat?”, tuan elang seolah menengahi. “Kita bisa menilai siapa yang menjaga pohon ini dengan sungguh-sungguh, dan siapa yang membiarkannya koyak.”

“Aku tahu Poo tidak pernah berupaya merusak pohon ini!”, pekik Tharos. “Kau tahu itu, kan, Toph? Selama ini kita baik-baik saja.”

“Aku..” Toph tersendat. Mundur beberapa langkah. Suaranya tercekat. “Sepertinya aku ragu denganmu.”

Zha’nan merangkul bahu Toph. Berdiri bersejajaran dengannya.

“Sepertinya kau butuh berjarak sementara waktu dengan dengan Tuan Pipit ini. Aku tidak membela siapapun. Tapi, barangkali kalau kau butuh bantuan untuk melindungi pohon ini dan keluargamu, kau tahu kemana kau harus menuju.”

Toph menoleh pada Zha’nan. Jelas dia berpeluang mendapatkan kerabat baru—lebih kuat, lebih berpengaruh, lebih berkuasa.

Ia menoleh ke arah lain. Ada Tharos. Dengan mata menunggu.

“Kau tak pernah terlihat sebingung ini, kawan,” Tharos menggeleng tak percaya. “Bahkan kau dapat dengan pasti menitipkan Koa yang baru lahir padaku, saat dulu kau harus pergi meninggalkannya sebentar untuk mencari makan!”

Iroh berkicau pelan, mencoba mencuri perhatian Toph. Sayap halusnya memberikan isyarat. Insting Iroh mengatakan Toph tak boleh sedekat itu. Tak boleh, kecuali ia sudah sangat percaya pada Tuan Elang.

Toph menaruh mata penuh harap kepada Zha’nan.

“Bantu aku untuk menjaga rumah kami,” ujar Toph tanpa terbata, mengarahkan pandangan kepada Tuan Elang. 

O

Lihat selengkapnya