Sorath mengelilingi Zha’nan dengan puas hati. Suaminya harus tahu bagaimana yang disebut tindakan berani dan tepat versi dirinya.
Zha’nan jelas mengagumi keberanian Sorath, sekaligus mengasihani dirinya sendiri, bahwa– menyingkirkan sarang pipit, menguasai pohon itu dalam semalam– Zha’nan tidak dapat senekat itu. Ia mengakui bahwa ia bahagia jika Sorath bahagia. Namun, mendengar sarang Zaria dihancurkan dengan paksa oleh kawanan elang yang dipimpin oleh Sorath, hatinya terusik. Sedikit di sudut hatinya, ia merasa tindakan Sorath adalah sebuah kesalahan. Bisa jadi kecil,
bisa besar.
Selama hidupnya, terutama setelah menikahi Sorath dan menjadi pemimpin kawanan elang, mereka sudah berhasil menguasai beberapa pohon yang berpenghuni. Membuat Thane, ayah mertuanya bangga bukan main. Ia pribadi pun bangga. Dadanya ia busungkan setiap kali melewati daerah kekuasaannya. Para elang boleh dengan bebas tinggal di pohon yang sudah menjadi daerah Zha’nan. Zha’nan dan Sorath tinggal menunggu upeti berdatangan setiap bulannya–entah biji-bijian berkualitas, serangga segar, atau hadiah lain. Mereka bisa mendapatkan hal itu tanpa berusaha, sebagai timbal balik para elang karena sudah menyediakan tempat untuk mereka dapat tinggal. Namun, Sorath bersikeras untuk tinggal di pohon milik Zaria, yang rindang, berdahan kokoh, dan dekat dengan aliran air. Masalahnya terletak bukan karena Zha’an kesulitan merebut pohon itu. Tidak. Letaknya ada di hati Zha’nan. Ia merasa mempunyai suatu ikatan dengan pohon itu sebelumnya, atau dengan salah satu penghuni yang tinggal disana.
O
Upeti.
Apakah memberikan upeti akan berhasil membuat Zaria dan Tharos menyerahkan pohon itu untukku? Tanpa merasa terpaksa?
Zha’nan tak kunjung mengatupkan matanya untuk tidur. Sayapnya beristirahat, namun giliran pikirannya yang melayang tak tentu. Kemarin, ia dan pasukan elang dengan semena-mena melarang Tharos untuk masuk ke ladang biji. Mungkinkah mereka membutuhkan makanan? Membutuhkan bantuanku?
“Tapi sebaiknya,” Zhanan melirik pada Sorath yang sedang tertidur. “Sebaiknya Sorath tak perlu tahu. Yang dia tahu hanyalah kami yang bisa menempati pohon itu sebelum masa bertelur tiba.”
“Tapi, siapa mereka sehingga aku harus memberikan upeti? Aku sudah biasa merebut daerah kekuasaan burung lain. Lakukan saja seperti biasa, Zha’nan. Mengapa bimbang?”
Berbagai pertimbangan lain muncul di kepala Zha’nan. Bergantian, memberikan berbagai kemungkinan tentang bagaimana hasil akhirnya nanti.
O
Hari ini adalah hari pertama musim panen. para burung dapat mengambil biji-bijian seperti biasa, hanya saja jumlah yang didapat lebih banyak daripada hari lain. mereka bernyanyi bersuka ria, ada yang berdua, ada yang bergerombol beserta keluarga besarnya.
Tala dan Kael melihat aktivitas di Ladang Biji dari balik ilalang. Ini menjadi aktivitas rutin mereka karena Zaria dan Tharos pergi dari pagi dan pulang hingga petang, membuat Tala harus menjaga dan mengawasi Kael yang masih sangat kecil. Di sisi lain, Kael tidak mau ditinggal sendirian di sarang. Sementara Tala, ingin mengambil kesempatan emas: ketika musim panen tiba, para burung biasanya menjatuhkan beberapa biji dari paruhnya jika mereka mengambil banyak, sementara paruh mereka kecil dan terbatas. Kesempatan itu diambil dengan cepat dan cermat oleh Tala sebelum sang biji jatuh ke rerumputan sehingga sulit untuk dicari.
Mata Tala tajam mengawasi tiap burung yang terbang diatas mereka.
Kael menurut saja. ia memilih untuk bersama-sama dengan kakaknya kemana pun Tala pergi, meskipun dengan kaki terpincang-pincang--daripada harus tinggal di sarang seorang diri, kemudian gerombolan burung besar mengangkat sarang dan menjatuhkan sarang itu tanpa mempedulikan Kael ada di dalamnya. Kael tak ingin kejadian itu terulang dan membuat kakinya sakit lagi.
Bagi Kael, berada di bawah ketiak Tala sambil menunggu biji jatuh lebih nyaman dari apapun juga. Ketiak Tala adalah yang terhangat. Kael dapat berlama-lama berada di sana.
Seekor burung menjatuhkan beberapa biji tepat diatas kepala mereka. Tala menangkap dengan sigap. Kael tidak mau kalah, ia mengawasi dengan teliti siapatahu ada biji lain yang jatuh, yang luput dari perhatian Tala.
Tala mendongak, melihat siapa burung yang entah bermurah hati, entah terlalu serakah membawa banyak biji dengan mulutnya yang kecil, dan ia mendapati sayap hitam itu kembali ke dalam ladang sesaat setelah menjatuhkan biji-biji itu di atas mereka.
Tala mengenal burung gagak itu sangat akrab diingatnya. Gagak betina, yang akrab dengan keluarganya bahkan sejak ia pertama kali melihat dunia.
O
Setelah seharian mengumpulkan keberuntungan, baik Zaria, Tharos, Tala dan Kael berkumpul kembali di sarang mereka. Sarang yang baru dan kecil. Lebih ringan dan tak kokoh, namun bisa ditempati sementara waktu.
Angin berhembus kencang, dan mereka mempunyai banyak waktu,
untuk menceritakan tentang hari ini.
“Kau berhasil mengumpulkan biji jagung?”, tanya Zaria bangga. Tala tersipu, “Ya! Kael membantuku Bu!”
“Tapi, boleh Ibu tahu, dari mana semua biji ini? Kau mencarinya dan mendapatkannya sendiri?” Zaria bertanya dengan hati-hati.
Tala mengangguk ragu. Berpandangan dengan Kael. “Kakak berusaha dengan semangat, Bu,” jelas Kael, yang sebenarnya belum menjawab pertanyaan Zaria.
“Baiklah,” ujar Zaria. “Ada biji padi, jagung, sorghum, dan gandum. Ibu memberimu satu, yang paling kau suka,” Zaria menaruh biji jagung di depan Kael. Kael tersenyum girang. Mencacahnya kemudian memakannya dengan lahap.
“Tala? Malam ini mau makan apa?”
“Ini saja Ibu,” Tala mengambil satu sorghum dengan paruhnya, kemudian makan sedikit- sedikit. Tala terlihat menikmatinya.
Tharos duduk dan menyelonjorkan kakinya ke salah satu sisi sarang. “Kalian makanlah dahulu. Aku belum lapar.”
Zaria mengambil satu biji jagung, dan membaginya dua. “Lapar atau tidak, kau harus makan,” kata Zaria.
Tharos mengambil biji itu dengan paruhnya dan mengunyahnya cepat-cepat.
“Besok, apa rencanamu?” Tharos bertanya kepada Tala.
“Aku belajar menangkap cacing, tetapi, ayah tak perlu bersamaku karena aku sudah cukup lihai.,” kata Tala. “Aku bisa mengajak Kael agar Kael melihat gerakanku. Kau pasti cepat bisa jika sering melihatku berburu,” Tala mencolek adiknya. “Atau kau mau aku mengunyahkan makananmu sampai kau tua, adik kecil?”
Pipi Kael memerah. Mereka tertawa.
“Sudah mendapat rencana.. tentang sarang kita?”, tanya Zaria pada Tharos.
Tharos mengangguk. “Ya.”
Zaria menantikan cerita tentang rencana Tharos setelah anak anak tertidur. Malam itu mereka tidur dengan perut kenyang, semua menghabiskan makan malamnya tak tersisa.
Walaupun masih jelas di ingatan Zaria, bahwa, Tala tidak pernah sekalipun meminta sorghum untuk makan malam.
Tala sangat menyukai biji jagung.
O
Toph pulang larut. Seperti biasa, topinya ia sematkan di ranting kecil, di atas sarang. Iroh menyambutnya pulang, tanpa saling memandang.
“Aku akan mulai mengajari Koa untuk mencari biji-bijian di ladang biji, besok,” Iroh berkata pelan.
“Tak perlu!”, sekali-kalinya Toph melirik pada Iroh, tatapan matanya seperti ingin menggerogoti Iroh sampai habis tak bersisa.
“Aku bisa menyediakan makanan untuknya! semakin ia pintar mencari, semakin ia tak bergantung pada kita dan berhenti menjadi penurut!”
Iroh memejamkan mata. “Toph, dengar. Mencari makan adalah kemampuan yang harus dimiliki oleh setiap burung. Kemampuan untuk bertahan hidup. Ada apa denganmu?”
“Kolot sekali teorimu. Kau tak percaya bahwa aku dapat memenuhi makananmu dan Koa setiap harinya?”
“Lagipula,” sambung Toph. “ Tuang Elang tak akan tinggal diam saat kita mendapatkan kesulitan!”
Iroh mendecakkan lidah, tak percaya. “Kau seperti anak kecil usia 5 yang dibujuk dengan permen lalu langsung percaya ketika ia mengatakan bahwa ia akan membawamu berlibur ke taman bermain di luar negeri.”
Iroh memutuskan untuk menjemput Koa yang tadi berpamitan mencari angin. Koa benar. Kegiatan mencari angin adalah keputusan yang tepat, daripada kegiatan menyambut seseorang.
O
Koa menendang kerikil kecil. Kerikil itu beradu dengan kerikil lain, sama besarnya.
Dua kerikil. Terciprat air sungai yang jernih. Pantulan bulan beriak ketika angin menyentuh air sungai itu. Gelombangnya beraturan. Tak sama dengan hati Koa yang berkecamuk tak tentu.
Ia rindu Tala. Betul-betul rindu. Terang bulan begini, mereka biasanya bermain di dekat sungai, melompat kesana-kemari, menunggu kantuk tiba. Atau, menebak dalam hitungan keberapa, bulan akan tertutup oleh awan. Kapan bulan akan terang sempurna. Bercerita tentang apapun, Tala yang lebih sering. Koa betah berlama-lama mendengarkan.
Malam hari tak pernah lengkap tanpa Tala.
Malam, dan pagi---bahkan.
Gagak kecil itu melompat lompat--enggan pulang. Membuat suara-suara dan berharap Tala mendengar dari rumah barunya. Tala akan menghampirinya dengan tak canggung, dan mulai mengikuti Koa melompat-lompat, berdua.
Dan, misalkan, Toph tak sengaja lewat dan melihat mereka berdua, Koa tak akan ragu menjawab,” kami tak sengaja bertemu disini, Ayah.”
Ya, itu saja yang yang akan dia katakan.
Kalau, kalau saja Tala juga datang pada malam bulan terang ini.
“Koa,” suara ibu membangunkan ilusi Koa. Iroh mengamati putranya, dan mendapati bahwa sepertinya Koa tidak hanya sekedar mencari angin. Mereka bertatapan beberapa saat.