BANYAN

Sancka Stella
Chapter #7

BAB VII Telur Emas

Pasukan pipit, yang diketuai oleh Tharos, menyerang pasukan elang yang berjaga di wilayah perbatasan. Mereka menggunakan ranting, kerikil dan getah pohon karet untuk melempar satu persatu elang penjaga dengan ketapel. beberapa kawanan pipit terbang menari mengelilingi seekor elang, sehingga elang pusing tujuh keliling. Pipit yang lain membuat jebakan sehingga elang terperangkap ketika mendarat di salah satu sisi hutan, dan beberapa pipit menebus kesalahannya karena mengabaikan keluarga Tharos dan Zaria dengan mematuk beberapa elang yang sedang berjaga. dan tentu saja, elang balas mematuk mereka lebih keras.

O

Bulan ini adalah perkiraan waktu bertelur Sorath. Telur yang diidam-idamkannya.

Bertelur di pohon yang besar, rindang, lagi terawat ini adalah mimpinya seumur hidup. Pohon yang mereka tinggali dulu gersang, tak subur, dengan ranting yang rapuh. Sorath, menggunakan naluri keibuannya, sudah mempersiapkan segala sesuatu sebelum waktu kelahiran: sarang yang kokoh lagi nyaman, khusus untuk telur-telurnya. Elang betina muda yang bertugas untuk merawat dan menjaga buah hatinya setiap hari, dan persediaan makanan yang cukup. Ah, Sorath tak bisa lebih bahagia lagi dari ini. Bulu halusnya bisa beristirahat dengan nyaman, menunggu saat bertelur tiba.


Pagi tadi, perut Sorath mulas-mulas. Dia mulai gelisah. Zha’nan mengelus perut istrinya dengan penuh kasih sayang. Semua keluarga dekat berkumpul di dekat Sorath. Menunggu saat bertelur tiba.


Alam seolah merestui kelahiran elang-elang kecil. Hari cerah. Matahari hangat, angin berhembus pelan. Langit biru bersih tanpa awan berarak. Suara gemericik air sungai syahdu di bawah sana. Damai, lagi tenang.


Dua telur keluar malu-malu. Membuat binar di mata mereka semakin kentara. Telur-telur itu jatuh di rumput kering yang empuk, menggelinding sebentar, lalu berhenti dengan mulus. Tarian dan kicauan para burung elang mulai terdengar sayup-sayup. Dua putra mahkota kerajaan elang telah lahir di hutan itu, meneruskan silsilah ningrat yang akan berkuasa di hutan itu selama beberapa musim kedepan. “Buatlah mereka hangat, Sorath. Tolong ambilkan makanan untuk anakku!” ayah Sorath memerintah bawahannya.


Hari itu, seluruh elang bersuka cita. Tanpa mereka sadari, ada yang sedang merencanakan gerilya.

O

Pipit-pipit asing datang datang di tengah-tengah rapat yang dipimpin oleh Tharos.

“Salam burung pipit,” kata mereka begitu sampai.

“Salam,” balas Tharos.

“Kami datang kesini dengan maksud dan tujuan yang penting.”

Tharos mengangguk. “Lanjutkan.”

“Perbuatan pipit-pipit disini sungguh meresahkan kami. Apakah betul kalian menyerang kediaman elang?”

“Tak tahukah kalian akan hukum alam? Yang paling kuat, itulah yang berkuasa! Dengar, dengan kalian menyerang kediaman elang, maka mungkin mereka akan membalas menyerang kawanan pipit di hutan dan ladang yang lain! sebaiknya makhluk seperti kita tak perlu mencari masalah! Ini sungguh bukan langkah yang tepat!”

Tharos menghela nafas. Ia sudah menduga bahwa hal ini akan terjadi.

“Sobat. Aku mengerti maksudmu. tetapi, aku juga mempunyai penjelasan,” jelas Tharos. “Dengan mereka menyerang dan merebut wilayah kami dengan mudah, karena aku dan keluargaku tinggal diam, maka mereka akan merasa dapat menguasai wilayah pipit yang lain tanpa hambatan! aku paham kelompok elang adalah penguasa hutan. Dan kita semua tahu, bahwa jika ia menjadi penguasa, maka ia harus mempunyai sifat yang bijaksana! tidak boleh sewenang-wenang, apalagi merebut apa yang bukan menjadi haknya.”

Pipit tua itu diam. Memikirkan perkataan Tharos yang memang sarat kebenaran. Pipit itu kemudian menatap tajam kedalam mata Tharos,” Apa rencanamu?”

“Bertahan. Mengambil hakku. Hidup disana seperti dulu.”

“Kau tahu kau akan berkorban banyak.”

“Mereka harus tahu, kawan. Burung pipit pun sebuah makhluk yang berharga. Nilai ini akan dikenang sampai dengan anak cucu kita kelak.”

“Sobat, aku tak meminta kau mendukungku dengan ikut berkorban. Yang aku mau adalah jangan menghalang-halangi rencanaku.”

O

Tala menggunakan daun kecil sebagai penadah air hujan. Hujan rintik kecil jatuh, kadang ke sayapnya, kadang ke atas kepalanya. Kadang tepat mengenai telapak daun itu. Tala berharap, air hujan di daunnya sudah penuh sebelum Kael kembali, sehingga Kael bisa langsung minum. Di rumah baru mereka, tidak dekat dengan aliran air. Kegiatan menadah air hujan sudah menjadi bagian dari kegiatan harian Tala, disamping berburu dan menunggu diluar ladang biji.

Tuk, tuk.

Suara langkah kaki burung beradu dengan suara gemericik air.

Tuk, tuk.

“Zazu?”, raur wajah Tala berubah cerah.

“Zazu!”, Tala menghampirinya.

Elang kecil itu tersenyum.

Seperti biasa, ia tidak banyak berbicara. Hanya tersenyum. Zazu kecil mempunyai senyum yang manis, tidak seperti wajah sangar elang lainnya. Tala dulu sempat berpikir Zazu adalah pipit dengan paruh yang sedikit runcing dan melengkung. Zazu sama riangnya, lincahnya, mudah bergaul seperti dirinya.

Lama kelamaan, personanya benar-benar menyerupai elang. Namun, masih dengan senyum yang manis.

Sore ini, Tala senang, namun ragu.

“Orang tuamu memperbolehkan kau kesini?”

Zazu menggeleng.

“Ta-la.”

Mata Tala melebar. Sudah sekian lama sejak terakhir kali Zazu menyebutkan namanya.

“Ma-af.”

“Maaf?”, Tala memiringkan kepalanya, heran.

“Mengapa Zazu harus minta maaf?”

Psiuuu.

Sesuatu yang cepat melintasi angin.

“Ptaak!”

Paman Junn melemparkan batu kecil ke udara, sehingga benda cepat itu terpelanting ke tanah.

“Tala, lari!”, paman Kann mendorong tubuh Tala untuk membuatnya menyingkir. Tala melihat ke bawah. Sebuah ujung ranting kecil tajam, nyaris menusuk kulitnya.

Paman Kann menyeretnya untuk segera bersembunyi.

Beberapa ranting tajam lainnya menghujani mereka mulai detik itu. Tala berusaha melihat kebelakang, apakah Zazu ikut terluka atau tidak.

Anak elang itu diam. Tatapannya berubah dingin.

Detik itu Tala tahu, ranting tajam itu hanya ditujukan kepada dirinya.

O

“Kau terluka?”, nada khawatir Zaria tidak bisa disembunyikan, setelah ia mendengar cerita dari Paman Kann. Tala menggeleng. Zaria masih khawatir karena Tala belum mengucapkan sepatah katapun sedari pulang. Namun, ia tidak melihat satu luka pun di tubuh putrinya.

“Mungkin ia hanya kaget, Zaria. Setidaknya biarkan dia istirahat dulu,” Kann pamit. Zaria mengangguk.

“Kau mau beristirahat dulu? Ibu tak akan mengganggu.”

Tala mengangguk. Menyandarkan tubuhnya di sisi sarang.

Selepas kepergian Zaria, Tala merebahkan dirinya dan termenung.

Zazu.

Teman barunya.

Pilihan hatinya yang bisa mengobati rindunya pada Koa.

Yang ia pikir bisa lama menjadi kawan. Bermain air dan berjalan-jalan di senja hari.

Menikmati matahari pagi dan mencari buah kecil untuk disantap.

Zazu.

Tatapan matanya berbeda kala itu.

Ia bukan Zazu lagi.

O

“Bagaimana membuat ranting sehingga menjadi tajam?”, tanya Tala kepada Tharos, di sela membantu ayahnya menyiapkan biji-bijian kering untuk menjadi senjata.

“Kenapa bertanya seperti itu?”

Tala memantapkan hati. “Siapa tahu aku bisa membantu ayah menyerang kediaman elang.”

Tharos mengernyitkan alisnya. “Menyerang kediaman elang? Bukannya kau sangat mengagumi bagaimana sarang mereka dibuat?”

“Aku ingin membantu Ayah, itu saja.”

“Kalau kau berniat membantu, Ayah ingin kau tahu satu hal terlebih dahulu.”

Tala mendekatkan tubuhnya.

“Ayah ingin kedamaian. Ayah berbuat begini, karena tidak ada pilihan lain. Ayah akan tempuh apapun cara selain berperang, jika memang ada.”

Tala mengerjapkan matanya.

“Akupun, Ayah. Aku ingin kedamaian.”

“Tetapi melihat semua yang terjadi. Kepalaku yang berdarah. Koa yang dibuat luka-luka. Sarang kita diambil. Kita dilarang untuk pergi ke Ladang Biji. Mereka yang berkumpul--menyerukan perdamaian hutan--tetapi mereka berbuat begini.. Memang ada yang harus diseimbangkan, Ayah. Agar alam tidak marah.”

“Mereka yang ingin seperti ini.”

O

Lolongan serigala mengawali waktu tengah malam.

Iroh dan Koa sedang terlelap. Hanya Toph yang gelisah. ia tidak bisa tidur. Mengingat semua kepercayaan yang sudah diberikan elang kepadanya. bahkan, kawanan elang pun percaya ketika ia berkata bahwa Poo berniat merusak pohon mereka. Padahal di lubuk hati terdalam Toph, ia tahu, Poo marah karena perkataannya. Namun, elang tak percaya pada siapapun kecuali dirinya! Ia memang hebat! Gagak satu ini memang berbeda! Ksatria Piningit yang berbeda dari para gagak yang lain!

Sebuah rencana yang brilian melintasi kepalanya.


Ah. Apa jadinya jika ia memakan telur Sorath dan berkata bahwa kawanan pipit yang mengambilnya?

Saat itu, ia merasa tertantang. Sangat tertantang.

Lihat selengkapnya