“Sarang mereka tepat di atas kita, Toph! Kau tak takut sama sekali dengan apa yang kau lakukan?”
“Mereka merugikan Tharos, Iroh. Kau bilang aku harus menentukan kepada siapa kita harus berpihak?”
“Dengan memakan telur-telur Sorath? Dengan cara itu kau berpihak?”, tukas Iroh.
“Kau akan mencelakai keluarga pipit. Kau akan mencelakai keluarga kita!”
“Semua yang kulakukan salah dimatamu!”, Toph berteriak tertahan.
“Karena kau selalu merasa benar, Toph! Kau selalu bergerak sendirian. Kau tahu? Kau punya aku yang bisa kau ajak berdiskusi terlebih dahulu! Aku bisa kau ajak bicara sebelum kau melakukan rencana- rencana berbahaya yang kau anggap benar itu!”
“Kau? Gagak betina yang hanya bisa mengurus rumah sepertimu bisa ku ajak berdiskusi?”
Iroh menggertakan paruhnya. Toph menganggapnya begitu kerdil.
“Kau tak perlu membantu mengurusi hal-hal diluar kendalimu, bahkan yang kau sendiri tak mengerti! Yang penting untukmu adalah kau bahagia hidup denganku! Koa bahagia!”
Air mata Iroh menetes, cepat-cepat disekanya.
“Kau tahu? Aku bertanya kepada para burung ketika perkumpulan kemarin. Bagaimana pendapat mereka tentang keluarga kita.”
“Kau tahu mereka menjawab apa? Menurut mereka, kita adalah keluarga yang hangat dan bahagia! Tinggal di aliran sungai yang subur. Pohon yang rindang. Banyak sumber makanan. Kau dan Koa sehat, tidak kekurangan apa-apa!”
“Rasa-rasanya, hanya kau satu-satunya istri yang tidak bersyukur mempunyai suami seperti aku!”
Iroh melirik ranting tajam penyusun sarangnya. Rasa-rasanya ia ingin menggorok lehernya sendiri cepat-cepat saat itu juga.
O
Thane sudah menyusun barisan sedari subuh. Ia tahu, ilmu yang ia punya setinggi langit.
Pengalamannya mengelilingi banyak kawasan hutan membuat ia tahu banyak hal. Dari alam, dari burung lain. Bahkan dari manusia. Salah satunya, yang ia akan ajarkan kepada para elang dewasa pagi ini. Tujuannya hanya satu: membumihanguskan populasi pipit, sehingga tak ada satupun yang dapat mengancam kehidupan anaknya di hutan itu.
Di pohon itu.
“Gesekan yang cepat antara batu kering dan batu kering, akan menghasilkan nyala api. Api terasa panas. Kita bisa pakai untuk menghangatkan tubuh, atau untuk tujuan lain. Misalnya, membinasakan.”
Thane sudah lebih dulu bangun dan mengumpulkan batu sungai. Ia mengeringkan batu-batu itu dan membawanya satu-persatu, sebagai alat pelatihan.
Elang-elang itu memperhatikan dengan seksama apa yang dilakukan Thane, ayah Sorath. Ia meminta seorang elang besar untuk menaruh salah satu batu itu di paruhnya, dan satu batu lain Thane taruh di paruhnya sendiri. Ia meminta batu itu digerakkan ke atas dan ke bawah, bergesekkan dengan batu yang berada di paruhnya. Lama kelamaan, gesekan itu semakin cepat.
Percikan api pun terlihat.
Semua elang bersorak karena mereka mempunyai pemimpin yang sangat cerdas.
Strategipun disusun oleh ayah Sorath.
Ia sengaja meninggalkan menantunya, yang terlalu baik hati.
Baik hati yang dapat menyebabkan sebuah bahaya untuk koloninya di masa depan.
Zha’nan mungkin berpikir Thane tak melihat apa yang terjadi ketika pertempuran hari lalu. Ayah Sorath melihat bagaimana perlakuan menantunya kepada salah satu burung pipit betina.
Ia merasakan hubungan erat yang tak biasa.
O
Perjalanan sore itu dengan Poo adalah perjalanan memburu waktu. Gumpalan darah membiru tercetak jelas di perut Zaria, membuat pipit itu bahkan tak bergerak. Poo masih membawa Zaria di punggungnya, berharap pipit itu tak terjatuh atau apa, yang membuat penyembuhannya semakin sulit.
Di satu sisi, Poo harus lekas. Namun, di sisi lain, Poo harus hati-hati.
Biar lambat asal selamat. Namun, dia tak boleh lambat.
Jika cepat akan celaka. Namun, dia tak boleh celaka.
Perjalanan sore itu dengan Poo, adalah saat merenung yang hanya dimiliki oleh Zaria.
Semuanya ia ingat sekarang. Mengapa Zha’nan mempunyai ranting itu. Mengapa tertulis nama mereka berdua di puncak pohon itu. Mengapa ia terlambat mengingatnya.
Hatinya sakit, karena mengingat kenyataan bahwa memang sejak awal, pohon itu memang milik keluarga elang. Namun, hatinya lega karena ayah dan ibunya tidak menyerah untuk tetap tinggal disana sampai dengan pohon itu kembali hijau dan ia tumbuh besar.
Zaria menduga-duga dengan ragu sejauh mana ingatan Zha’nan tentang mereka berdua. Namun, melihat apa yang dilakukan Zha’nan untuknya, Zaria mengira ingatan mereka tak jauh berbeda.
“Poo, aku sakit,” Zaria merintih.
“Perutmu?”
“Bukan Poo, hatiku.”
O
“Ibu!”, Tala menguatkan diri melihat Zaria. Biru di perutnya semakin melebar. Tharos memanggil seekor pipit tabib dari hutan seberang, untuk berjaga-jaga menolong kawanan pipit yang terluka.
Kael menangis sejadi-jadinya.
“Dia tergeletak di bawah pohon besar. Sebisa mungkin aku berjalan cepat. Tapi, sepertinya masih terlalu lama,” jelas Poo.
“Terimakasih, Poo,” Tharos mengelus pipi Poo dengan pipinya. “Kau datang di saat yang tepat.”
“Terimakasih Paman Poo,” tambah Tala.
“Paman Poo, huhuhu,” Kael bicara sambil sesenggukkan. “Terimakasih.. Ibuuuuuu....”
Poo mengangguk. Bersandar ke sisi pohon untuk beristirahat. Ia memutuskan untuk tidak langsung pulang. Ia ingin tahu dengan segera, bagaimana keadaan Zaria.
Tabib mengobati Zaria. ia mengompres perut Zaria dengan daun bakung, serta membersihkan luka-,lukanya. Berbekal ingatan yang sama, Zaria tertidur disana.
Kael tidur di dekat kaki Zaria, mulutnya membacakan doa-doa. Doa yang sering ia dengar dari mulut ibunya ketika ia demam atau flu. Entah apakah berguna juga untuk sakit semacam sakit ibu, tapi Kael mendoakan doa yang sama. Air mata Kael belum berhenti berlinang sedari tadi, sampai-sampai ia tertidur disana.