BANYAN

Sancka Stella
Chapter #9

BAB IX Kelana

Suasana pemakaman itu dihadiri oleh semua burung pipit. Ratusan pipit satu persatu menaruh bunga lobelia sebagai tanda duka kepada mereka, yang meninggalkan.

Zaria tertatih melompat setelah mereka mendarat disana. Mendekati Jui.

Zaria mendekap Jui dan saling menempelkan pipi.

Air mata Jui ikut membasahi wajah Zaria.

“Sedalam-dalamnya, aku turut berduka,” bisik Zaria sendu.

Jui menangis lagi. Kali ini, lebih keras terdengar.

Zaria memeluknya dengan sayapnya. Berharap semoga sedikit mengurangi rasa kehilangan itu.

Daun-daun berguguran banyak-banyak, meninggalkan kilau oranye di langit malam yang tertimpa cahaya bulan.

Langit bersih,

seolah mengingatkan,

jangan berduka terlalu lama.

Seekor burung yang agak besar, mengintip dari balik kerumunan. Tubuhnya yang besar diantara para pipit, namun, terlihat lebih kurus dari terakhir kali Zaria melihatnya.

Mata mereka saling beradu pandang.

O

“Apa kabarmu?”, Iroh melihat lebam di perut Zaria. Dan luka-luka di beberapa bagian tubuh induk pipit itu.

“Seperti yang kau lihat,” Zaria memaksakan senyum. “Bagaimana keadaanmu?”

Iroh membalas senyum Zaria. “Rumah sepi tanpa keluargamu. Koa lebih sering diam di rumah sekarang.”

Zaria mengangguk setuju, karena kadang Tala pun begitu. “Tetapi, sehat? Maksudku, Koa dan.. Toph?”

Iroh menelan ludah.

“Begitulah.”

Sunyi yang kaku diantara mereka berdua.

“Aku mau menanyakan sesuatu, Iroh. Aku menanyakan ini, karena kurasa, kau masih menjadi teman terbaikku.”

“Yang bisa ku percayai.”

Iroh menunduk lesu. Meskipun ia sudah menyiapkan hati di rumah untuk pertanyaan apapun yang akan Zaria tanyakan, tetapi kali ini, di hadapan Zaria, ia kembali tak siap.

“Apakah kau tahu tentang telur-telur Sorath?”

Iroh mengangguk.

“Aku.. Zaria, aku benar-benar minta maaf.”

“Aku tahu bahwa kau tahu. Sekarang, kau tahu bahwa aku tahu.”

Iroh menutup mukanya menggunakan sayapnya. Tak tahu harus menjawab apa lagi.

“Toph melakukan kesalahan besar, Zaria, aku tahu. Aku minta maaf, Zaria. Untuknya. Kepadamu. Aku ingin memberitahukannya kepadamu. Namun, ia ayah Koa, Zaria.”

Zaria menggertakkan paruhnya. Rasanya bercampur aduk di dalam hatinya.

“Dia telah melakukan kesalahan besar, Zaria. Tentang keluargamu. Tentang telur-telur itu. Tentang perang ini,” dada Iroh naik turun menahan emosi. “Dan kepada Koa juga aku.”

“Tapi, dia kepala keluarga kami.”

“Iroh, kau..”

“Aku sudah--sebisa mungkin--memperingatkannya. Aku, entahlah, Zaria. Sepertinya ia bukan lagi elang jantan yang ku kenal di kali pertama aku bertemu dengannya.”

“Aku selalu, selalu mengingat ketika hari pertama kami singgah di pohonmu, bersama Koa kami yang masih kecil. Tharos dan kau memperbolehkan kami untuk tinggal.”

“Kau tahu betapa besar aku merasa bersalah ketika mengingat saat-saat itu, Zaria.”

Zaria tersenyum.

“Karena itu kau memberi makan Tala dan Koa melalui biji yang jatuh dari paruhmu, hampir setiap sore?”

“Kau melihatnya?”

“Kau terlihat kepayahan membawa banyak biji seperti itu.”

Iroh tertawa. Namun, bulir-bulir air matanya terlihat jelas.

“Zaria, aku berharap kau tidak membenciku.”

“Sudah ku bilang, Iroh. Aku menganggapmu sebagai teman terbaikku. Hingga saat ini.”

“Zaria, aku sangat berharap kau bisa kembali ke pohonmu. Bersama Tharos, Kael, dan Tala.”

Angin malam semakin menusuk, menyapa kulit mereka berdua. Tulang Iroh terlihat kentara diantara  sayapnya.

“Kau mempunyai akses ke Ladang Biji setiap hari, tapi kau sepertinya kau tidak makan dengan baik.”

Iroh menoleh ke arah Zaria.

“Jangan khawatirkan aku. Kau sendiri, tetaplah sehat. Mari suatu saat nanti, di senja hari, kita berbalas pantun bersama sambil mencacah cacing untuk makan malam.”

Zaria menghela nafas.

“Aku hanya berharap akan ada suatu saat nanti, denganmu, Iroh.”

Mereka berangkulan.

Sayap hitam Iroh melingkupi tubuh Zaria, seperti memakai baju duka.

O

Tala bersiul kecil mengawali hari barunya. Setelah berpamitan pada Nenek Kasuari, ia melanjutkan perjalanannya mencari.

Sungai yang Tala lewati lebih besar dari sungai di hutannya. Banyak pohon-pohon gelondongan yang seharusnya berdiri tegak di hutan, hanyut bergerombol dengan tenang ke arah muara.

Tala merasa aneh. Dia mendekat, untuk memastikan apakah itu betul-betul kayu hutan?


Lihat selengkapnya