“Terlalu banyak yang terluka!”, Zaria berteriak pada Tharos. Ikatan daun padi yang mengikat perutnya sudah semrawut tidak pada tempatnya.
“Nyut.. Nyut..” dan, luka itu nyeri sekali. Zaria mundur ke garis pertahanan ketiga. Tempat Kael berada.
“Ibu, Ibu!”, Kael mengambil air dan meneteskannya ke mulut Zaria. “Luka ibu terbuka! Aku harus memanggil tabib!”
Zaria berkeringat banyak. Nyerinya semakin menjadi. Ia tahu, ikut dalam peperangan kali ini beresiko besar bagi dirinya. Tharos pun sudah mengecamnya berulang kali. Namun, sudah banyak pipit yang menjadi korban. Ia tak mungkin berdiam diri!
Di Pohon Banyan, tempat yang sangat aman, Sorath sedang memakan serangga ketiga yang ia dapat dengan mudah. Dayang-dayangnya mencarikannya untuknya. Ada laba-laba, belalang sembah, dan ulat kayu. Pakanan yang kaya akan protein akan sangat berguna untuk memulihkan kesehatannya setelah bertelur.
“Ratu, telur anda sepertinya akan menetas!”, seorang dayang menghampirinya tergesa.
“Betulkah?” Ia lantas meninggalkan setengah potong ulat kayu yang masih menggeliat, kemudian terbang ke sarang tempat telurnya berada.
Dayang-dayang itu mengikutinya. Betul saja. Telur itu mulai retak dan berguncang. Wajah Sorath dan para dayangnya berbinar-binar. Zazu akan mempunyai seekor adik!
“Lihat!”, satu kakinya menyembul keluar. Ah, lucunya!”, seekor dayang mengambil kain dari ulat sutra yang sudah dijalin dan disiapkan, khusus untuk bayi elang. Dayang itu bersiap untuk menangkap bayi kecil, jangan sampai kedinginan. Sorath tersenyum lebar. Seharusnya, Zha’nan bersamanya saat momen-momen seperti ini. Ia tak sabar melihat bayi itu, seutuhnya! Sungguh tak sabar!
Kepala mungil terekam mata. Seekor bayi elang yang masih berwarna merah, muncul dengan senyum manisnya. Mewarnai dunia. Mewarnai hati Sorath yang belakangan ini terselimuti awan abu-abu.
Sorath bersama dayang-dayangnya menyanyikan sebuah lagu yang sudah lama disiapkannya untuk menyambut bayi ini.
“Senja itu merah.. Secerah matamu..
Pohon ini kuat.. Sekuat sayapmu..
Jadilah besar, seperti ayahmu..
Jadilah berani, seperti ibu..”
Bayi elang itu tersenyum, ikut menikmati lagu yang melantun indah.
Sementara itu, tepat di bawah sarang mereka, seekor anak gagak sedang menangis sembunyi-sembunyi. Tak mau ibunya tahu.
Jauh dari mereka, seekor anak pipit menerjang dedaunan. Berharap ia tiba sebelum malam.
O
“Kau tak boleh pergi ke lini pertama!”, seru Tharos tegas. “Kita menyiapkan strategi cukup banyak, Zaria. Kita tidak akan kehabisan akal! Tugasmu adalah, sekarang, disini, merawat dirimu sendiri!”
Kael belum pernah melihat ayahnya semarah itu pada ibu.
“Zaria. Katakanlah sesuatu,” Tharos mengira Zaria akan tetap bersikukuh kembali berperang.
“Kael, jaga ibumu baik-baik. Jangan biarkan ibumu pergi dari sarang ini!”
Kael mengangguk. Merapat ke sisi Zaria.
“Mereka bisa dengan mudah membunuh siapapun bahkan yang mereka sebut teman!”, Tharos mencegah Zaria. Menegaskan suaranya. “Apalagi kepada kita yang mereka anggap musuh, Zaya.”
Akhirnya, Zaria menangguk menerima. Ia membiarkan Tharos ketika pergi, kembali ke garis pertahanan pertama.
“Ibu, dengarkan aku,” Kael menghadapkan Zaria dengan dirinya. “Kita harus menuruti Ayah. Ayah tahu yang terbaik untuk kita, Ibu.”
Zaria menurut ketika Kael membelit perutnya dengan daun padi baru.
O
Tala menelan potongan cacing terakhirnya. Ia sudah diam disana kira-kira dua jam lamanya.
Gua yang penghuni hutan ini maksud, ada di depan matanya.
Gua milik Kakek Serigala.
Tetapi, meskipun ia sudah membulatkan tekadnya untuk dapat bertemu Kakek Serigala, namun tak dapat dipungkiri ia takut.
Tharos pernah berkata, hati-hati dengan pemakan daging,
seperti harimau, buaya, dan serigala.
Salah-salah, ia dianggap mangsa yang dengan sukarela datang untuk menjadi makan malam.
Pasalnya, Kakek Serigala belum keluar sedari tadi. Pikir Tala, jika Kakek Serigala sudah memunculkan wajah dan badannya, maka Tala bisa mengira-ngira langkah selanjutnya: haruskah ia memperkenalkan diri? Ataukah lari?
Tala meloncat mendekat, menimbulkan suara gemerisik dedaunan. Ia sudah terlalu dekat dari mulut gua.
Mengapa hatinya mendadak senang? Seolah ada Paman Kupu-kupu yang tiba-tiba masuk ke perutnya.
Daerah asing. Hutan asing. Hewan asing. Ia berhasil melewati semua seorang diri. Perjalanan pertama yang panjang. Tanpa Ibu, tanpa Ayah, ataupun Kael.
Perasaannya berganti lagi.
Tiba-tiba ia rindu rumah.
Sedang apa mereka disana?
Lebih tepatnya, perang seperti apa lagi yang sedang mereka hadapi?
Apakah Ibu baik-baik saja?
Apakah Kael mempunyai jagung untuk makan malam?
Tala tak jua berhenti berpikir, tatkala bayangan besar tertimpa cahaya bulan, keluar dari gua itu.
Ia bertubuh tegap, mata biru, janggut putih yang panjang.
Telinga elok bukan main. Moncong hitam. Bulu berkilau.
“Ka.. Kakek Serigala?”
Ia bagaikan penjaga hutan yang perkasa dan kuat, memunculkan dirinya ketika penghuni hutan sedang terlelap.
“Tapi, masa sih?”, batin Tala. “Mengapa ia belum seperti seorang kakek-kakek?”
“Aku mendengar suaramu yang mengomentariku, burung kecil,” Kakek Serigala bergumam.
“Belum kakek-kakek, katamu?”, Kakek Serigala terkekeh. “Itu karena aku sering berolahraga pagi. Ototku masih kuat, tegap sempurna, hohohoho..”
Tala mengernyitkan alis. Apa betul ini yang penghuni hutan maksud? Kakek-kakek yang terlampau percaya diri ini?
“Eh, halo, Kek,” akhirnya Tala memunculkan diri. Rupanya, baginya, Kakek Serigala tak semenyeramkan itu.
“Kau berasal dari pulau seberang?”, tanya Kakek Serigala, menduga dengan tepat.
Tala mengangguk. “Dari mana kakek tahu?”
“Pipit pipit muda sering menemuiku. Mereka bertanya tentang cinta, hohoho..”
“Namun, kau tak ada di antara mereka,” Kakek Serigala tertawa terbahak-bahak.
“Ada apa gerangan, anak muda. Siapa yang mencampakanmu?”
Tala menggeleng, tertawa kecil. “Tidak ada yang mencampakkanku, Kek. Aku ingin bertemu denganmu karena ada hal yang penting yang harus aku tanyakan.”
“Adakah hal yang lebih penting daripada masalah cinta?”, Kakek Serigala mengerutkan dahinya. terlihat antusias. “Apa itu?”
“Begini, kakek,” Tala menceritakan hal yang sudah berulang kali ia ceritakan kepada hewan yang ia temui. Tetapi, kali ini, ia harus menceritakannya dengan lebih lengkap.