BANYAN

Sancka Stella
Chapter #11

BAB XI Sebuah Lagu Hidup

“Ini tak seperti pohon kita lagi, ibu,” Kael mengamati Banyan. Ranting ke ranting. Pucuk daun, ke pucuk daun.

Banyak ranting yang patah, daun layu, batang keropos dan berlubang.

“Ibu, apakah pohon kita sedang sakit?”

Zaria menyentuh pohon miliknya itu.

“Kael, pohon ini sudah melewati musim-musim yang sulit.. tetapi ia tetap bertahan! Kali ini pun, ia dapat pulih kembali. Sebuah pohon bisa menyembuhkan dirinya sendiri.”

Kael mengangguk. “Pohon kita pohon yang hebat ya, ibu!”

“Aku? Aku hebat atau tidak?”

“Kakak!”, Kael memeluk Tala. “Kau tidak mengajakku berjalan-jalan! Kau pergi lama sekali!”

Tala tertawa. “Berjalan-jalan, katamu?”, Tala mengangguk-angguk. “Ya, berjalan-jalan memang kata yang tepat. Aku perpetualang ke tempat-tempat yang belum pernah aku kunjungi sebelumnya.. dan aku banyak bertemu dengan hewan-hewan baru!”

“Ceritamu pasti akan banyak sekali,” ujar Zaria lembut. “Kita tidak akan kehabisan cerita saat makan malam.”

Tala mengangguk setuju. “Aku akan bercerita bahwa aku bertemu dengan Paman Kupu-kupu, dan gerombolan semut kecil.. lalu ada Paman Buaya yang ingin memakanku! Dan..”

“Aku juga mau bercerita banyak seperti Tala!”, Kael meloncat-loncat tak sabar.

“Kau juga bisa membuat ceritamu sendiri, Kael. Ketika kau sudah besar.”

Zaria memeluk Tala dan Kael dengan lembut.

Berada di pohon ini. Dekat dengan dua burung kecil ini.

Sebelumnya ia menganggap biasa hal-hal sehari-hari ini.

Namun, rasanya, kali ini semuanya menjadi begitu istimewa.

O

Titik titik embun pagi muncul di ujung-ujung daun. Beberapa hewan kecil hinggap diantara semak-semak, dan pohon pohon di hutan itu—yang sekian lama tidak berpenghuni karena ditinggalkan pasca perang. Walaupun itu hanya peperangan antar burung pipit dan elang, namun banyak penghuni lain yang merasa kedamaiannya terancam. Karena itu, selama pepernagan berlangsung, banyak dari mereka yang memutuskan untuk bermigrasi.

Kali ini, beberapa hewan mulai berdatangan.

Air sungai di pohon tempat Zaria bernaung, terlihat tenang. Air gemericik menyapa bebatuan dan alga. Kali ini, tidak diselingi oleh suara erangan kesakitan atau beradu dengan suara riuh di langit.

Air sungai itu, mengalir dengan tenang.

Beberapa burung mulai mengintip malu-malu dan bertanya dalam hati apakah mereka dapat membuat sarang di sekitar aliran air sungai.

Lihat selengkapnya