Bapak dan Toko Kelontongnya

Tya Fitria
Chapter #1

Rumah Tanpa Rasa

Kata orang, wisuda itu adalah momen paling membahagiakan bagi seorang mahasiswa. Tapi untukku, hari wisuda tidak berbeda jauh dengan hari-hari lain yang kosong dan sepi. Bukan karena aku sendirian melainkan karena mereka yang datang untuk merayakan wisudaku tidak benar-benar ikut merayakan.

Dari atas panggung waktu namaku, Kanna Sheila Lituhayu dipanggil, aku bisa dengan jelas melihat Bapak dan Ibu duduk di barisan para orang tua. Ibu sibuk mengabadikan momen saat aku menerima ijazah, sementara Bapak hanya diam melihatku dengan ekspresinya yang susah ditebak. Begitu acara selesai aku keluar gedung untuk menemui orang tuaku dan seperti dugaan tak ada pelukan hangat dari Ibu dan tak ada ucapan selamat dari Bapak.

Aku memaksakan senyum saat melihat teman-temanku dibanggkan oleh orang tua mereka. Hatiku terasa sesak karena dipenuhi oleh rasa kecewa. 

Apakah terlalu sulit untuk Bapak dan Ibu memberiku ucapan selamat?

Entahlah, aku pun tidak tahu alasan apa yang membuat mereka begitu sulit memberikan apresiasi atas perjuanganku selama ini menyelesaikan skripsi demi membuat mereka bangga.

Tapi, setidaknya kekecewaanku hari ini sedikit terobati karena kedatangan adikku, Yumna Syarifah. Ia baru saja datang setelah menyelesaikan perkuliahan. Yumna datang dengan membawa seikat bunga dan memberiku ucapan selamat.

“Selamat ya, Mbak.” Yumna tersenyum dan mengulurkan seikat bunga kepadaku.

Rasanya, aku menjadi ingin tertawa karena aku dan Yumna tidak terbiasa bersikap manis seperti ini. Kita adalah kakak beradik yang saling cuek satu sama lain. Bahkan, aku merasa sangat canggung saat menerima ucapan dari Yumna. Di rumah, kita jarang berbicara dan jarang pula bertengkar karena Yumna lebih sering menghabiskan waktunya di luar rumah sedangkan aku lebih senang berdiam diri di rumah.

“Terima kasih,” ujarku pada akhirnya dan tersenyum ke arah adikku satu-satunya.

Ponselku berdering tiba-tiba karena kesusahan mengambil ponsel di dalam tas, aku kembali menyerahkan bunga itu kepada Yumna. Ternyata itu telepon dari Ghaly, temanku yang kini sukses membuka bisnis studio foto. Sudah dari jauh-jauh hari aku meminta Ghaly untuk mengabadikan momen bersejarah ini di studionya. Sudah pasti, Ghaly menyambutnya dengan baik karena memang aku sudah mengenalnya sejak di bangku SMA.

“Ayo kita pulang,” kata Bapak singkat begitu melihat aku selesai menerima telepon.

“Tunggu dulu, Pak. kita masih ada acara lagi,” ujar Ibu mencoba menahan Bapak.

“Acara apa lagi? Wisudanya jelas-jelas udah selesai. Itu juga udah banyak orang-orang yang pulang.” Bapak menunjuk mobil-mobil yang mulai meninggalkan gedung.

“Na, tadi siapa yang telepon?” tanya Ibu kepadaku dan menghiraukan ucapan Bapak.

“Ghaly, Bu. Kanna udah booking buat foto bareng di tempat Ghaly.”

“Yaudah, Mbak. Ayo, kita ke sana sekarang. Soalnya aku habis ini harus kerja kelompok.”

Aku mengangguk dan hendak berjalan menuju parkiran mobil. Seketika itu juga, langkahku berhenti karena Bapak meminta untuk segera pulang.

“Kita harus pulang sekarang. Sudah setengah hari lebih toko belum buka. Enggak ada acara lagi, semuanya pulang.” Perkataan Bapak seketika membuat hatiku menciut.

“Pak, tapi Kanna udah bayar buat foto kita sekeluarga di studio.” Aku berusaha untuk memberi pengertian ke Bapak yang hasilnya sudah bisa dipastikan akan sia-sia.

“Nanti, Bapak ganti uangnya.”

“Bapak, ini tuh foto di studio yang pasti hasilnya nanti lebih bagus.”

“Hasilnya sama-sama foto, Na. Lagian tadi kamu juga udah difoto kan sama temen kamu.”

“Ya, tapi kan yang sama keluarga belum.” Aku terus mendebat ucapan Bapak sambil menahan air mata.

Tiba-tiba saja, Bapak meminta aku untuk berdiri di tengah Ibu dan Yumna, setelah itu Bapak tanpa aba-aba memotret aku dengan ponselnya. Setelah selesai, Bapak memberikan ponselnya kepada Ibu untuk bergantian sampai kemudian giliran Yumna yang bertugas untuk memfoto aku bersama Bapak dan Ibu.

“Sekarang, kita semua udah foto sama kamu, Na. Jadi, sekarang kita semua pulang. Yumna kamu mau ikut pulang atau tidak?”

“Tapi, Pak tadi itu kan bukan foto satu keluarga, udah lah. Kenapa sih enggak mau ke studio foto aja?” tanya Ibu yang mulai kesal dengan Bapak.

“Kalau tetap mau foto di studio, yaudah kalian naik ojek saja. Bapak mau pulang buka toko.”

Mendengar itu, aku hanya bisa tersenyum getir.

“Tapi, Pak. Kalau Bapak emang enggak mau foto di studio, kita pergi ke rumah makan di deket sini, ada tempat makan enak. Anggep aja buat syukuran wisudanya Mbak Kanna.” Kini giliran Yumna yang mencoba menahan Bapak.

“Nanti, kita syukuran di rumah. Ibu bakal masak masakan yang enak buat syukuran nanti malam. Yang penting sekarang kita semua pulang. Bapak harus buka toko.”

Dengan air mata yang tertahan, aku menoleh ke arah Ibu dan Yumna secara bergantian, berharap ada dari mereka yang mau membantuku lagi untuk membujuk Bapak agar mau berfoto bersama di studio. Paling tidak harus ada satu kenang-kenangan foto bersama keluarga di hari wisudaku yang bagus di sebuah studio foto. Tapi dari raut wajah Ibu dan Yumna menunjukkan ketidakberdayaannya untuk mencegah Bapak. 

Akhirnya, aku hanya bisa mengangguk pelan dan menuruti perintah Bapak.

Aku hanya ingin semuanya ada di hari bahagiaku. Enggak perlu mewah apalagi meriah. Cukup dengan hadir sepenuhnya untukku. Tapi pikiran Bapak hanya dipenuhi oleh toko, pelanggan, dan pintu toko yang harus selalu terbuka dari pagi hingga malam. Di hari lain mungkin aku bisa menerima. Tapi khusus hari ini, rasanya terlalu menyakitkan untuk dimaklumi.

Hari ini banyak orang yang dirayakan, dipeluk, dan disanjung karena keberhasilan mereka menyelesaikan skripsi. Sementara aku hanya ditatap kosong oleh orang yang paling ingin aku buat bangga, Bapak dan Ibu.

Suasana sepanjang perjalanan pulang hanya dipenuhi keheningan, sesekali Ibu dan Yumna mencuri-curi pandang ke arahku yang sejak tadi hanya bersandar lemas ke arah jendela. Sedangkan Bapak menyetir seperti biasa tanpa menyadari telah membuat anaknya terluka. 

Lihat selengkapnya