Pukul setengah dua belas malam, aku terbangun. Rasanya berat sekali untuk membuka mata dan bangun dari tempat tidur. Kalau bukan karena aku ingin buang air kecil, aku tidak akan rela bangun dari tidur nyenyakku. Dengan mata yang belum sepenuhnya terbuka dan langkah yang gontai, aku berjalan menuju kamar mandi.
Suara televisi masih nyaring terdengar dan Ibu masih setia menonton di depannya.
“Ibu, belum tidur?” tanyaku pada Ibu yang sedang rebahan di kasur lantai.
“Gimana Ibu bisa tidur, Bapakmu aja belum pulang dari toko.”
Mataku seketika terbuka lebar dan melihat ke arah jam untuk memastikan kalau tadi di kamar aku tidak salah saat melihat jam yang sebentar lagi akan memasuki waktu tengah malam.
“Ini kan udah hampir jam 12 malam. Kok Bapak bisa-bisanya belum pulang?”
“Ya begitulah Bapakmu. Semua waktunya cuma buat toko. Keluarga itu nomor sekian.”
Aku bisa merasakan kekesalan yang Ibu rasakan. Setelah aku selesai dari kamar mandi pun, belum ada tanda-tanda Bapak akan pulang. Karena melihat Ibu yang sepertinya sudah mengantuk, aku menawarkan diri untuk bergantian menunggu Bapak.
“Kalau gitu, biar Kanna aja yang bukain pintu buat Bapak. Ibu tidur aja enggak apa-apa.”
“Enggak usah, semoga aja sebentar lagi Bapak pulang.”
Dan benar aja, enggak lama kemudian terdengar suara motor butut Bapak yang semakin mendekat karena Bapak sudah pulang, aku kembali masuk ke dalam kamar berniat kembali melanjutkan tidurku. Tapi sayangnya, mataku menjadi sulit terpejam. Aku akhirnya hanya berbaring sambil membuka ponsel untuk melihat lowongan pekerjaan yang sekiranya akan aku lamar besok.
Di luar ternyata hujan turun tanpa aba-aba, suara gemuruh juga sesekali menyambar langit malam. Udara pun terasa lebih dingin dari biasanya. Saat mata ini hampir kembali terpejam, sebuah suara mengejutkan terdengar begitu keras.
Bukan…
Jelas itu bukan suara gemuruh.
Melainkan suara piring yang dibanting oleh seseorang.
Setelah itu, barulah terdengar suara teriakan Bapak yang sedang menumpahkan emosinya kepada Ibu. Tubuhku langsung gemetar, memori waktu kecil ketika Bapak melakukan kekerasan kepada Ibu langsung berputar di kepalaku. Aku ingin bersembunyi dan lari dari rumah ini, tapi itu sangat tidak mungkin karena aku tidak mungkin meninggalkan Ibu dalam keadaan bahaya.
Aku mencoba menelepon Yumna, meski ponselnya berdering, namun sama sekali tidak ada jawaban. Aku yakin sebenarnya Yumna masih terjaga karena ia termasuk anak yang suka begadang. Tidak ada waktu lagi kalau harus menunggu respons dari Yumna. Aku menarik napas panjang untuk menenangkan diri dan mengendalikan rasa takutku.
Dengan keberanian yang seadanya, aku keluar kamar dan seketika itu juga aku mengaduh kesakitan akibat Bapak yang berniat melempar asbak kaca ke arah Ibu yang sedang berdiri tak jauh dari pintu kamarku, tapi ternyata lemparan itu salah sasaran dan justru mengenai lenganku. Meski terasa begitu pegal, namun aku bersyukur lemparan asbak itu tidak mengenai Ibu.
“Aku ini ngajak kamu bicara baik-baik. Malah kamu lempar-lempar barang sampe bangunin anak-anak.” Ibu benar-benar terlihat putus asa.
“Biarin! Biar mereka tahu kalau kita lagi berantem!” Bapak masih dengan emosinya yang tinggi.
“Aku cuma mau ucapanku didengar, semua udah aku lakukan sendiri. Ngerawat anak, ngurus rumah, sampe bantu jualan di toko aku bantu kamu. Giliran aku minta kamu buat jadi kepala keluarga yang selalu ada buat anak-anak malah enggak terima!”
“Kalau nggak mau jaga toko, bilang! Besok dan selamanya nggak usah ke toko sekalian!”
“Bukan itu poinnya, aku cuma minta kamu lebih perhatian sama anak-anak, ajak mereka ngobrol setiap sore biar kejadian Yumna yang tiba-tiba minta nikah karena kurang kasih sayang dan perhatian nggak keulang lagi. Jangan cuma ngurusin toko aja. Di hidupmu itu bukan cuma ada toko tapi ada keluarga juga!”
“Enggak usah banyak nuntut kalau hidup aja semua uangnya masih dari aku. Bisa apa kalian semua tanpa aku. Mau makan apa kamu sama anak-anak kalau toko nggak jalan. Kamu kira Kanna kalau bukan karena toko apa dia bisa jadi sarjana?!”
“Kamu pikir anak-anak cuma butuh uang, mereka juga butuh perhatian dari Bapaknya!”
“Berhenti bicara kalau kamu masih mau hidup,” ujar Bapak dengan mata melotot yang sudah pasti membuat aku dan Ibu seketika membeku.
“Silakan, bunuh aja aku daripada harus hidup kaya gini terus-menerus.”