Entah sudah keberapa kalinya aku menerima penolakan dari lamaran kerja yang aku kirim. Dan hari ini, lewat layar laptop usangku, satu lagi email masuk dengan isi yang sama seperti sebelum-sebelumnya. Singkat, sopan, dan jelas menolak kehadiranku.
Namun, dibalik penolakan itu, aku masih merasa bersyukur setidaknya aku mendapatkan kabar dan tahu hasil dari lamaran kerja yang telah aku ajukan. Karena yang lebih menyakitkan dari ditolak kerja adalah digantung tanpa kepastian seolah sedang menunggu di ruang abu-abu, apakah aku ditolak karena dianggap tidak memenuhi kualifikasi atau justru lamaranku tidak dilihat sama sekali.
Sangat menyesakkan ketika aku harus menunggu ketidakpastian itu dari perusahaan yang memang aku impikan.
Rasa lelah dan putus asa langsung datang menerpa, aku benar- benar merasa semuanya sudah berakhir. Aku sungguh merasa tidak berguna bahkan untuk diriku sendiri. Ku tetap ijazah cumlaudeku yang ada di atas meja dengan tatapan kosong, seolah kertas yang penuh perjuangan dan berharga mahal itu benar-benar tidak berguna sama sekali.
Selain tidak bisa dibanggakan oleh orang tuaku sendiri, ijazah ini juga tidak bisa membanggakan untukku karena belum juga mampu mengantarkan aku mendapatkan pekerjaan setelah hampir setengah tahun sejak aku resmi menyandang gelar sarjana.
Aku tahu tidak ada yang menuntutku untuk cepat-cepat mendapatkan pekerjaan karena Bapak masih mampu memberikan aku kehidupan yang layak. Tapi justru karena itulah rasa bersalah dan tidak berguna ini semakin menghantui aku.
Bapak tetap fokus pada tokonya dan Ibu sibuk dengan pekerjaan rumah. Mereka benar-benar sibuk dengan urusannya masing-masing. Tidak ada yang bertanya kenapa aku belum bekerja, bagaimana kondisi mentalku setelah sekian lama menganggur, tapi aku bisa merasakan kalau aku sudah menjadi beban di keluarga ini meskipun tidak terlihat secara langsung.
Satu per satu teman-teman yang wisuda bersama aku sudah mengupdate kehidupannya di tempat kerja mereka yang baru. Bukan hanya teman seangkatan yang wisuda bersama, tapi juga mereka yang wisuda setelah aku. Media sosial teman-temanku sudah mulai dipenuhi dengan kehidupan pegawai kantoran yang bekerja di gedung bertingkat, sebuah mimpi yang sudah lama aku dambakan.
Notifikasi grup WhatsApp alumni juga ramai membahas kehidupan tentang pekerjaan yang penuh dinamika baru mulai dari jobdesk yang palugada sampai gaji UMR yang cepat habis di akhir bulan. Sementara aku hanya bisa membaca semua percakapan dengan perasaan pilu.
Aku sering bertanya tentang maksud keberadaanku di dunia ini, untuk apa aku harus hidup jika yang aku temui justru selalu kekecewaan?
Aku merasa, aku tidak cukup baik untuk hidup di dunia ini.
Aku benar-benar lelah dan ingin menyerah.
Kini yang bisa aku lakukan hanya berserah tanpa mau membuat harapan apa pun.
***
“Kamu mau kemana, Na?” tanya Ibu saat melihat aku sudah memakai hoodie dan celana pendek.
“Cari angin sebentar, Bu.”
“Jangan malem-malem pulangnya.”
“Iya.”
Kepalaku rasanya sangat penuh dan kusut. Karena itu, meskipun terasa berat, aku memaksakan diriku untuk keluar rumah sejenak, menjauh sesaat dari segala perasaan yang membuat merasa menjadi orang yang gagal.
Angin malam telah menjadi teman yang menghapus air mataku sepanjang perjalanan malam ini. Aku terus mengendarai motorku tanpa arah.
Pikiran tentang maksud Tuhan menghadirkan aku di dunia ini untuk apa kembali memenuhi kepalaku. Untuk apa ada jika hanya untuk menjadi seorang sarjana yang tak berguna. Bahkan, kepercayaan diri yang aku miliki pun sudah nyaris habis. Sekedar untuk berharap jika besok ada kabar baik pun rasanya sangat melelahkan.
Sangat menyakitkan ketika waktu terus berjalan sementara aku masih diam di tempat.
Entah sudah berapa lama aku berkendara tanpa tujuan, perutku terasa keroncongan, tapi aku belum mau pulang ke rumah dan terlalu malas untuk makan nasi. Rasanya seperti tidak ada makanan yang bisa menggugah selera makanku saat ini. Tapi aku tidak bisa lagi menahan rasa perih di perutku.
Aku tetap mengendarai motorku sampai aku melihat ada sebuah minimarket di seberang jalan dan menepi di sana. Seporsi rabokki dan sebotol air mineral menjadi pengganjal perutku malam ini, saat aku akan keluar dari minimarket untuk duduk di bangku depan, terdengar seseorang memanggil namaku. Aku menoleh dan mendapati Ghaly yang sedang berjalan ke arah kasir dengan membawa beberapa makanan ringan.
“Ghaly, kok kamu di sini?” tanyaku bingung yang juga dijawab dengan raut wajah Ghaly yang bingung.
“Maksudnya?”
Aku menggelengkan kepalaku untuk menyadarkan diri, aku melihat ke arah luar lewat pintu kaca minimarket dan seketika aku tersadar, minimarket yang aku kunjungi ini memang dekat dengan studio foto milik Ghaly. Aku menjadi merasa malu sendiri karena seharusnya sangat wajar jika Ghaly sedang membeli camilan di sini.
Aku hanya tertawa canggung dan untungnya, Ghaly seolah mengerti dengan kondisiku karena ia tidak mendesakku dengan banyak pertanyaan. Karena, kalau dipikir-pikir, terlalu jauh untuk sampai kesini jika hanya mau ke minimarket. Apalagi, penampilanku sangat santai yang cuma pakai celana pendek dan hoodie.
“Mau ngobrol dulu di depan?”
Meski merasa ragu, aku tetap menerima ajakan Ghaly. Selesai Ghaly membayar di kasir, aku keluar dan duduk di bangku yang ada di depan minimarket, diikuti Ghaly dibelakangku. Suasana canggung sempat menyelimuti aku dan Ghaly karena aku yakin Ghaly paham betul dengan kondisiku yang masih berjuang mencari kerja.
Ada begitu banyak rasa dan cerita yang sebenarnya ingin aku bagi dengan siapa pun. Sepertinya, aku sudah tidak bisa lagi menahan beban ini semakin lama karena semakin terasa begitu berat. Tapi masalahnya aku sangat pantang menceritakan kelemahan dan kekuranganku pada orang lain karena aku sudah terbiasa untuk selalu terlihat sempurna dari luar meskipun di dalamnya sudah rapuh dan hampir hancur. Terasa melelahkan memang, tapi aku juga tidak punya pilihan lain karena aku tidak tahu bagaimana caranya membuka luka batin yang sudah terlalu dalam.